HIGHLIGHT

Mau Bertahan Hidup di Jakarta ? Jangan Gengsi-an..!

16 Juni 2012 17:27:55 Dibaca :

Pertama kali menginjakan kaki di Jakarta saya hanya diberi secarik kertas alamat saudara  yang bekerja sebagai montir di perusahan bis mayasari bhakti. "Gg Suci belakang pool Cijantung, dari terminal bis Rambutan tinggal naik angkot ke arah Cijantung". Itu saja petunjuk dari Bapak saya. Waktu itu sekitar Tahun 1995 selesai menamatkan pendidikan SMA.

Bis "Suka" jurusan Tasik-Jakarta yang saya tumpangi kala itu tiba diterminal Kampung Rambutan saat adzan subuh berkumandang. Selama di perjalanan yang  memerlukan waktu sekitar 6 jam, saya manfaatkan untuk tidur saja. meskipun tak lelap-lelap amat. Karena bergemuruhnya suara mesin serta kebisingan suasana jalan lainnya. Tapi ketika sampai di Kp. Rambutan itu saya dibangunkan sang Kondektur. "Kang tos dugi..". Saya langsung mengambil tas ransel saya dari bagasi diatas kepala dan menuju pintu keluar bis.

Turun dari bis dan menginjakan kaki di Terminal saya benar-benar bingung, karena baru pertama kali ini menginjakan kaki di terminal besar seperti Kampung Rambutan Jakarta. Saya langsung saja mencari mushola yang ada di dalam komplek terminal. Sambil cuci muka mengambil air wudlu dan sholat shubuh. Suasana mushola memang cukup ramai, dipadati warga terminal terutama para penumpang yang baru datang dari daerah. Selesai Sholat saya bertanya pada salah seorang di luar mushola tentang lokasi angkot yang mengarah ke daerah Cijantung. Dan darinya saya mendapatkan petunjuk untuk meneruskan perjalanan saya.

Akhirnya saya berhenti persis di halte depan pool bis mayasari bhakti Cijantung. Saya berjalan menyusuri Jalan samping pool itu menuju lokasi belakang pool tempat paman  saya tinggal. Tak sulit memang, sekali bertanya langsung di tunjukan kontrakannya. Sebuah kamar yang sangat sederhana, terbuat dari bilik dan triplek bergenteng rendah. di dalamnya ada 2 buah dipan yang membentuk sudut, dengan beralaskan karpet plastik.

Sementara lantainya pun hanya cukup untuk tidur satu orang lagi yang juga beralas karpet yang sama. Ya, kamar itu dihuni oleh 3 orang dari kampung saya yang semuanya bekerja di perusahaan angkutan biskota masyasari bhakti. Dua orang merupakan adik ibu saya, sementara yang satu tetangga saya di kampung. Saat saya datang mereka sedang terlelap tidur dengan bertelanjang dada semua, kipas angin menyala dengan tiupan kencangnya, pertanda betapa cuaca Jakarta itu panasnya. Meskipun dimalam hari, sangat terasa gerahnya.Belum lagi nyamuknya seperti bikin orkestra, ngiung-ngiung di telinga, dan kalau nempel di kulit, gigitannya terasa banget.

Saya sungguh tak menyangka, kontrakan paman saya seperti itu keadaannya. Padahal mereka di kampung termasuk keluarga berada dibanding orang tua saya. Rumah mereka di kampung termasuk bagus, punya sawah yang luas. Dan umumnya masyarakat mengangap mereka keluarga berada. Tapi dari situlah saya mulai menangkap pesan. Bahwa hidup di Jakarta berbeda dengan di kampung. Di Jakarta tinggal di petak alakadarnya dengan dihuni berjejal juga tak masalah, yang penting pulang bisa bawa uang yang banyak untuk anak istri.

Termasuk ungkapan salah seorang paman saya itu saat mengajak sarapan pagi di warteg depan gang. " Hidup di Jakarta mah Jangan gengsi-an..!" katanya. Orang hidup di Jakarta dengan tingkat kehidupan yang keras dan biaya hidup yang mahal. Segala hal diukur dengan uang. " Buang air kecil aja bayar koq disini." kata paman saya sambil tersenyum. Tapi menurut paman saya, semua pekerjaan juga kalau kita mau melakukannya, akan menghasilkan uang juga. " Pokoknya, Jangan gengsi-an aja" tegasnya.

Mantra itulah yang terus saya ingat dari paman saya. Selama dua hari itu saya menginap sementara di Cijantung. Saat paman off kerja, saya minta diantar ke rumah paman yang satu lagi dari pihak Bapak yang tinggal di Tomang. Sedari awal saya memang merencanakan untuk tinggal di Jakarta, kuliah, dengan menumpang tinggal di rumah paman yang di Tomang itu.

Ketika test masuk kampus negeri di daerah Ciputat saya dinyatakan lulus, saya mulai memikirkan bagaimana supaya bisa bertahan hidup di Jakarta, dapat membiayai sendiri kuliah saya, dan kalau mungkin bisa mengirim ke kampung untuk bantu adik-adik saya yang masih pada sekolah. Saya pegang betul kata-kata paman saya yang tinggal di Cijantung itu " jangan gengsi-an". Saya melakukan pekerjaan apa saja di rumah paman itu. Sebelum berangkat kuliah, atau setelah pulang kuliah, Saya bantu-bantu bersihin halaman sekolah (karena paman saya tinggal di rumah dinas SD), mengepel lantai, menyetrika baju semua keluarga paman, nungguin kios dagangannya yang berada di pojok pinggir jalan.

Dari situ paling tidak saya diberi bekal untuk berangkat kuliah oleh paman saya itu, selama setahun paman saya membiayai ongkos dan kebutuhan kuliah saya. Di Tahun kedua kuliah, saya memutuskan untuk mencari kerja dan cuti kuliah dulu. Saya bekerja sebagai cleaning service di Gedung Graha Sukanda Mulia, hingga menjadi supervisor kebersihan disana. Dalam beberapa kesempatan saya paruh waktu bekerja pula sebagai pelayan restoran di daerah Jl.  Gajah Mada hingga pukul 10 malam. Saya mengumpulkan uang, dan sekali-kali ngirim ke kampung. Beruntung tak ada pengeluaran untuk bayar kost atau kontrakan plus makan pagi sama malam. Karena kebaikan keluarga paman saya itu.

Hingga akhirnya saya kembali masuk kuliah, dengan berbagai eksperimen pekerjaan yang saya lakukan. Setelah berhenti bekerja di Graha Sukanda Mulia, dan salah satu Restoran di jl. Gajah Mada, saya ditawari ngajar privat, dan menjadi guru honorer di SD tempat paman saya tinggal. Pagi dan Siang, Karena ada sekolah pagi, dan juga sekolah petang. Dengan jadwal mengajar menyesuaikan dengan jadwal kuliah saya.

Dalam beberapa waktu luang, saya menyempatkan diri untuk mendatangi beberapa lembaga pemerintah. Kementrian, Pemda DKI dan juga kantor walikota. Naluri mahasiswa dan aktifis saya juga mulai terasah. Mampir ke kantor Ormas, terutama kantor PBNU di Kramat Raya, perpustakaan nasional, dan beberapa kantor media masa nasional. Dari aktifitas itulah saya mulai mengenal medan belantara Jakarta. Alur dan rute jalan berikut angkutan umum yang melewatinya.

Saya benar-benar melipat "rasa gengsi-an" saya dalam tempat paling tersembunyi. Tak ada keinginan terbesar kala itu selain bagaimana caranya agar  bisa menyelesaikan kuliah dengan cara saya sendiri, bertahan hidup dan menaklukan keras dan kejamnya belantara Jakarta. Alhamdulillah saya menyelesaikan pendidikan selama 6 tahun (terlambat memang..hehe), dan di akhir kuliah itu, saya sudah mulai menemukan jalan kehidupan di Jakarta. Saya menjadi guru di beberapa sekolah dasar dan beberapa aktifitas sosial lainnya yang saya kerjakan di salah satu organisasisi, dan juga di lingkungan sekitar tempat tinggal.

Tujuh tahun melipat gengsi, Jakarta akhirnya mengirimku kembali ke kampung halaman. Karena saya harus memperjuangkan nasib keluarga yang memang tinggal di Kampung. Saya memutuskan untuk membangun dari pinggir, dengan ilmu dan pengalaman yang didapat dari tengah. Mau bertahan hidup di Jakarta? Jangan gengsi-an...!!!

Usman Kusmana

/kusmanausman

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Menulis itu kerja pikiran, yang keluar dari hati. Jika tanpa berpadu keduanya, Hanya umpatan dan caci maki. Menulis juga merangkai mozaik sejarah hidup, merekam hikmah dari pendengaran dan penglihatan. Menulis mempengaruhi dan dipengaruhi sudut pandang, selain ketajaman olah fikir dan rasa. Menulis Memberi manfaat, paling tidak untuk mengekspresikan kegalauan hati dan fikir. Menulis membuat mata dan hati senantiasa terjaga, selain itu memaksa jemari untuk terus bergerak lincah. Menari. Segemulainya ide yang terus meliuk dalam setiap tarikan nafas. Menulis, Membuat sejarah. Yang kelak akan dibaca, Oleh siapapun yang nanti masih menikmati hidup. Hingga akhirnya Bumi tak lagi berkenan untuk ditinggali....
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?