'Bedeng' Kompasiana, Mesjid At-Taqwa dan Warung Euceu Sayur Asem

22 September 2012 15:50:19 Dibaca :

Dalam catatan harian saya berjudul Berkunjung ke "Bedeng" Kompasiana, saya telah menuliskan reportase seputar proses kunjungan silaturrahmi ke KCM dan Kompasiana.com. Di "bedeng Kompasiana" itu saya tak begitu lama ngobrol. Hanya ngobrol berlima dengan Kang Pepih, Mas Isjet sementara admin yang lain berkirim senyum manisnya dari kejauhan..hehhee

Disela-sela ngobrol itu saya ambil beberapa foto dengan hp saya, seputar suasana ruang kerja kru admin Kompasiana. Ketika sedang asik-asiknya ngobrol itu terdengar suara adzan, Kelihatannya Jum'atan sudah memanggil. Kang pepih sudah lebih dulu pamit mau ke ruangannya kembali persiapan Shalat Jum'at, sementara saya pun pamit ke Mas Isjet dan yang lainnya hendak Jum'atan duluan.

Mesjid tempat kami shalat Jum'at itu kalau nggak salah namanya Mesjid Jamie At-taqwa, Kami bertiga rombongan dari Tasik berjalan cepat bersama banyak karyawan Kompas lainnya yang hendak menjalankan shalat Jum'at, sekitar 50 meteran lah jarak mesjid itu dari gedung kantor Kompas. Jamaah shalat Jum'at sudah meluber ke halaman bahkan jalan di depan mesjid, Sang Khatib sudah memulai khutbahnya. Saya naik ke lantai 2, ruang yang keliatannya biasa di pake mengajari pelajaran agama untuk remaja atau anak-anak di Mesjid itu. cuaca Jakarta yang panas, di ruangan itu pun panas sekali. Saya dan banyak jemaah lain banjir keringat.

Sang khatib khutbah dengan semangat menggebu-gebu. Intonasi dan gaya bicaranya meledak-ledak. tapi isi khutbahnya sungguh bagus dan menarik. Yang saya tangkap seputar Sabar, Ikhlas dan Khusyu. Terungkap juga tentang tidak bolehnya kita mudah memvonis seseorang, egois dengan keyakinan benar dalam diri kita, dengan mencontohkan definisi  tentang gajah dari orang buta. Saya akui, meski intonasi suara dan bahasanya meledak-ledak. Isi khutbahnya menyejukan. Menunjukan Islam rahmatan lil alamin.

Selesai Jum'atan, 2 kawan saya yang lain sudah menunggu di dekat penitipan sandal. Ternyata disana juga sudah ada Kang pepih menunggu, " Kang kita teruskan lagi suasana panas berkeringatnya" Katanya dengan hangat. "Ada satu tempat makan khas Sunda yang pasti bikin kita menikmati suasana panas dan keringatnya, saya sudah dari tahun 1990 menikmatinya" tambah Kang Pepih lagi.

Lalu kami pun di bawa ke sebuah warung nasi yang agak masuk ke dalam. Suasana warung itu memang sudah padat dengan orang-orang yang makan. Tapi untungnya di pojok ada meja kosong yang hanya duduk seorang pria yang juga pegawai Kompas. Kami pun berempat gabung dengan orang itu. Kang Pepih memesan menu khas warung itu, goreng dadar telor bebek dan sayur asem, tak lupa minumannya es jeruk.

Sambil menunggu pesanan datang, saya ngobrol ngalor ngidul lagi dengan Kang Pepih, saya benar-benar merasa tersanjung mendapat kehormatan bisa makan bareng dengan suasana seperti itu dengan salah seorang wartawan senior Kompas. Banyak sekali ilmu dan wawasan serta informasi yang beliau ungkapkan, termasuk tentang cita-cita dan perjalanan kehidupannya di dunia jurnalistik. Sambil makan pun kita terus berdiskusi, sambil menikmati gurihnya goreng dadar telor bebek dan nikmatnya sayur asem, hingga tak ada makanan yang tersisa, termasuk orang-orang yang makan di warung itu pun yang rata-rata pegawai Kompas sudah pada hilang, kembali ke kantornya.

Saat mau keluar dari warung itu pun, saya bertanya ke si Euceu warung, apa nama warung ini? jawabannya hanya mengatakan dengan bahasa dan logat Sundanya " Warung Euceu Sayur Asem", yang ternyata memang orang Sukabumi Jawa Barat.

Hari Jum'at itu, saya menikmati betul silaturrahmi saya ke Kompasiana. Bisa melihat 'bedeng" Kompasiana, Merasakan suasana shalat Jum'at di Mesjid At-Taqwa sekitar Kompas, dan Menikmati makan dalam suasana panas dan berkeringat di warung euceu sayur asem...Hmmmm...Memang betul kata baginda Rasul Muhammad SAW, Sillaturrahmi itu memang berkah.

Usman Kusmana

/kusmanausman

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Menulis itu kerja pikiran, yang keluar dari hati. Jika tanpa berpadu keduanya, Hanya umpatan dan caci maki. Menulis juga merangkai mozaik sejarah hidup, merekam hikmah dari pendengaran dan penglihatan. Menulis mempengaruhi dan dipengaruhi sudut pandang, selain ketajaman olah fikir dan rasa. Menulis Memberi manfaat, paling tidak untuk mengekspresikan kegalauan hati dan fikir. Menulis membuat mata dan hati senantiasa terjaga, selain itu memaksa jemari untuk terus bergerak lincah. Menari. Segemulainya ide yang terus meliuk dalam setiap tarikan nafas. Menulis, Membuat sejarah. Yang kelak akan dibaca, Oleh siapapun yang nanti masih menikmati hidup. Hingga akhirnya Bumi tak lagi berkenan untuk ditinggali....
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK KOMPASIANAA

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?