HIGHLIGHT

Bahasa Indonesia, Rasa Bahasa, dan Kita

13 September 2012 01:34:04 Dibaca :

Sebagai warga negara Indonesia, kita patut bersyukur dan bangga memiliki bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Sebagai warisan sejarah dari para pendahulu kita, Bahasa Indonesia telah menjadi mutiara berharga dari sebuah babak perjuangan pemuda di negeri ini melalui sumpah pemuda tanggal 28 oktober 1928, dengan satu ungkapan sumpah " Kami putra-putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia"

Negeri ini kaya dengan berbagai kenyataan sosial budaya, suku, ras dan agama serta bahasa. Negeri yang dikenal sebagai zamrud khatulistiwa, yang wilayahnya terdiri dari ribuan pulau, membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Mianggas hingga Pulau Rote. Negeri dengan berbagai keragaman hewan dan tumbuhannya, kekayaan sumber daya alam yang berlimpah ruah, subur makmur dengan pesona alamnya nan indah.

Berpencarnya pulau-pulau di seantero nusantara, yang ditempati oleh penduduk didalamnya, baik mereka yang dianggap sebagai penduduk asli pedalaman, ke-suku an yang khas melekat pada setiap daerah berikut berbagai khazanah budaya dan bahasanya, menjadikan Indonesia sebagai negeri "beragam kultur" yang memerlukan perekat sebagai sebuah warga negara bangsa.

Jika secara wilayah, dan sebagai sebuah negara dan bangsa, kita telah memutuskan membentuk negara kesatuan Republik Indonesia, dengan dasar negara Pancasila dan UUD'45, maka keberadaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional menjadi alat pemersatu, menjadi sarana yang digunakan oleh semua penduduk di republik ini untuk bisa saling mengenal, saling bertegur sapa, saling bicara, dalam ruang dan semangat yang sama sebagai sesama warga bangsa.

Bahasa Indonesia dalam rumah besar Indonesia menjadi perekat dari kekayaan bahasa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Bahasa daerah menjadi identitas kekayaan sosial masyarakat nusantrara, dan bahasa Indonesia menjadi peleburnya. Bahasa kedaerahan menjadi identitas bahasa "ibu" (lokal), bahasa Indonesia menjadi identitas bahasa "bapak" (nasional), yang masing-masing memiliki peran dan fungsinya tersendiri.

Dari kenyataan itulah kita berangkat, kita menentukan sebuah sikap berbangsa dan bernegara. Dari semua kekayaan bahasa dan budaya kedaerahan itu, kita menangkap suasana kebathinan kita sebagai warga bangsa, kita merasakan rasa bahasa dari Bahasa Indonesia. Rasa yang akan membawa kita pada satu sikap yang saling menghargai dan saling menghormati dalam berbicara, dalam berhubungan satu sama lain walau awalnya berbeda suku dan bahasa, dalam menjalankan berbagai kegiatan kehidupan kita, secara ekonomi, sosial, politik maupun budaya.

Jika melihat fungsi Bahasa sebagaimana disampaikan oleh Dr. Gorys Keraf, maka Bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, menjalankan 4 peran dan fungsinya yaitu : Pertama, Sebagai alat ekspresi diri. Bahasa menjadi sarana untuk mengungkapkan kehendak atau perasaan seseorang sebagai wujud ekspresi dirinya. Apa yang dia inginkan, apa yang dia rasakan dapat diungkapkan dengan bahasa. Semua amatan dari apa yang dilihat, yang didengar dan dirasakan melalui media bahasa bisa diekspresikan dalam wujud lisan maupun tulisan. Karya tulisan salah satunya menjadi sarana ekspresi berbahasa yang paling berbudaya dari seseorang. Baik yang bersifat ilmiah maupun non ilmiah, fiksi maupun non fiksi.

Kedua, Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat komunikasi. Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud dan tujuan kita, melahirkan dan cerminan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita, baik yang bersifat pribadi maupun komunal. Ketika seseorang menggunakan bahasa sebagai alat berkomunikasi, maka dia hakikatnya memiliki tujuan dan kebutuhan tertentu dalam komunikasi tersebut, apakah karena ingin dipahami oleh orang lain, karena ingin mengungkapkan perasaannya pada orang lain, meyakinkan pandangannya terhadap orang lain, atau maksud dan tujuan lainnya yang bersifat pribadi maupun sosial.

Fungsi komunikasi dalam kehidupan sosial kenegaraan kita, telah menempatkan bahasa Indonesia sebagai satu-satunya medium yang bisa menyambungkan komunikasi antar pulau, antar provinsi, antar kabupaten/kota, antar semua penduduk yang ada di seluruh nusantara, dalam berbagai ragam profesi dan status sosialnya. Pengelolaan pemerintahan, pengaturan mekanisme dan sistem ekonomi dan keuangan, pendidikan dan sebagainya.

Ketiga, Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat adaptasi dan integrasi. Ketika seseorang sedang berada dalam suatu lingkungan tertentu, atau daerah tertentu dengan kekhasan yang dimilikinya, seseorang dituntut untuk bisa menyatu dan masuk kedalam suasana kebathinan lingkungan tersebut, bahasa Indonesia menjadi bahasa yang netral yang akan mampu mengintegrasikan situasi dan kondisi yang beragam dari berbagai latar belakang pengguna bahasa yang ada, yang bersifat kedaerahan.

Keempat, Bahasa Indonesia sebagai alat kontrol sosial. Berbagai kegiatan yang bersifat penerangan, informasi dan pendidikan dilakukan dengan menggunakan media Bahasa. Proses belajar mengajar di kelas, buku-buku pelajaran, ceramah agama, orasi ilmiah, iklan di koran dan televisi, rapat-rapat akbar dengan massa yang besar, bahkan aksi-aksi demosntrasi yang memprotes sebuah kebijakan.

Semua fungsi bahasa dalam bentuknya yang khas yang diperankan oleh Bahasa Indonesia dengan berbagai kemampuan penggunanya, akan mencerminkan sejauhmana tingkat keilmuan seseorang, sejauhmana tingkat keberadaban kita. Orang dengan kemampuan berbahasa yang baik, yang mampu menangkap dan menunjukan rasa bahasanya, akan memiliki tingkat sosialisasi dan eksistensi diri yang baik. Dia akan menemukan saluran ekspresi baik yang bersifat lisan maupun tulisan.

Seorang orator ulung, atau penulis hebat adalah mereka yang memiliki kemampuan berbahasa dan menemukan rasa bahasa dalam adonan kata-kata dan rangkaian kalimatnya. Diksi dan pemilihan kata yang dipergunakan untuk mengekspresikan ide, konsep dan perasaaannya, akan menunjukan energi dan kemampuannya mempengaruhi dengan lisannya, serta daya serap serta pengaruhnya terhadap pendengar dan pembacanya jika itu karya tulisan.

Bukankah ada sebuah ungkapan "satu peluru hanya menembus satu kepala, tapi satu tulisan bisa menembus ribuan bahkan jutaan kepala". Tulisan yang menembus ribuan dan jutaan kepala itu tentu adalah tulisan yang didalamnya tercermin energi, rasa bahasa, pesona dan daya tarik yang mengaduk-aduk pikirand dan perasaan serta imajinasi pembacanya. Disanalah kekuatan rasa bahasa itu menunjukan siapa kita.

Usman Kusmana

/kusmanausman

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Menulis itu kerja pikiran, yang keluar dari hati. Jika tanpa berpadu keduanya, Hanya umpatan dan caci maki. Menulis juga merangkai mozaik sejarah hidup, merekam hikmah dari pendengaran dan penglihatan. Menulis mempengaruhi dan dipengaruhi sudut pandang, selain ketajaman olah fikir dan rasa. Menulis Memberi manfaat, paling tidak untuk mengekspresikan kegalauan hati dan fikir. Menulis membuat mata dan hati senantiasa terjaga, selain itu memaksa jemari untuk terus bergerak lincah. Menari. Segemulainya ide yang terus meliuk dalam setiap tarikan nafas. Menulis, Membuat sejarah. Yang kelak akan dibaca, Oleh siapapun yang nanti masih menikmati hidup. Hingga akhirnya Bumi tak lagi berkenan untuk ditinggali....
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?