PILIHAN HEADLINE

Cerpen | Nasi Goreng Pak Kasim

18 Juni 2017 22:14:21 Diperbarui: 19 Juni 2017 08:31:28 Dibaca : 639 Komentar : 7 Nilai : 7 Durasi Baca :
Cerpen | Nasi Goreng Pak Kasim
Sumber Ilustrasi: http://2.bp.blogspot.com

Ada yang bilang kalau Pak Kasim sebenarnya berasal dari Madura. Ada juga desas-desus bahwa ia bukanlah seorang asli Madura, hanya keturunan seorang perantau dari Madura yang entah siapa namanya. Tak banyak yang tahu, setiap penduduk di kota ini lebih umum mengenalnya sebagai seorang penjual nasi goreng. Tidak lebih, dan tidak kurang.

Perawakannya khas seorang bapak beranak empat dan berumur hampir setengah abad. Ia tak banyak bicara kepada pengunjungnya, kecuali teriakan untuk pemesan dengan racikan yang hanya diketahuinya bersama orang yang memesan khusus nasi gorengnya. 

Kehadirannya di tengah-tengah menjamurnya sajian instan pertokoan tidak membuat pelanggannya enggan berpindah haluan meski menunggu antre hingga berjam-jam lamanya. Ia tidak menaburkan sejenis ramuan pemikat pada rempah-rempah ataupun nasi yang akan dimasaknya dalam penggorengan. Ia juga tidak membakar dupa atau meninggalkan sesajian di sekitar tempatnya memarkir gerobak. Sehingga tampak alami bahwa setiap penduduk kota yang nyaris modern itu ikhlas rela menunggu lama hanya untuk dua bungkus nasi goreng khas Madura. 

~

Tidak banyak juga yang tahu mengapa lelaki paruh baya itu masih betah meladeni pelanggannya secara langsung, padahal ia memiliki dua orang putra yang sudah beranjak dewasa dan sudah memiliki kekasih. Ada yang bilang bahwa resep keturunan hanya akan diwariskan kepada anak-anak setelah mereka menikah nanti, agar lebih bijaksana. Ada juga yang seenaknya berkata bahwa pada dasarnya anak zaman sekarang tidak lagi ingin tampil di simpang jalan sebagai seorang pendorong gerobak nasi goreng, menggandeng spatula dan sesekali menghadapi gadis-gadis genit yang seenaknya menjarah seisi gerobak dengan seutas senyum dan sebuah kerlingan mata.

Tapi dari sekian banyak hal yang sering diperbincangkan oleh pengunjung nasi goreng Pak Kasim, adalah soal kekhususan nasi goreng buatannyalah yang paling bisa diterima oleh akal sehat. Pak Kasim sebagaimana orang mengenal namanya dari papan etalase, meracik nasi goreng tidak sekadar nasi goreng. Ia dengan spesial membuat sajian yang langsung pada perasaan pembelinya. Ia tidak hanya ingin mendengar apakah pembelinya menginginkan sajian pedas, sedang, atau sama sekali tak bercabai. Ia juga akan dengan takzim memandang lama pembelinya ketika mereka memesan, dan dari sana ia akan membuat nasi goreng khusus yang sesuai dengan suasana hati pembelinya. 

Pernah sekali kesedihan seorang wanita terlepas begitu saja ketika menyantap seporsi nasi goreng buatan Pak Kasim. Wanita itu pulang ke rumahnya dengan senyum yang merekah. Meski di awal-awal ia datang dengan bersungut-sungut, akan tetapi setelah meludeskan sendok-sendok per sendoknya nasi goreng buatan Pak Kasim, air mukanya perlahan berubah arah. Tak ada angin tak ada hujan, semua pengunjung dibuatnya penasaran hingga akhirnya terbentuklah antrean panjang di mana kini aku berdiri sambil memandang ke segala arah dengan penuh rasa takjub yang aneh. 

~

Aku sendiri datang mengantre hanya untuk mencoba khasiat nasi goreng yang didesas-desuskan itu. Warungnya sering kulewati kala berkendara dari rumah menuju kantor, atau sebaliknya ketika pulang. Tapi baru kali ini aku berniat untuk benar-benar mampir dan bertahan di tengah kerumunan orang-orang dengan berbagai macam perasaan yang tumpah tindih. 

Aku tidak percaya di kota ini hanya Pak Kasim sendiri yang bisa membuat nasi goreng. Aku bahkan percaya kalau membuat nasi goreng itu tidaklah serumit apa yang sering kutonton di warung-warung, termasuk warung Pak Kasim ini. Aku bisa membuat nasi goreng walau tidak sejalan dengan tekstur dan aroma buatan Pak Kasim. Namun, aku percaya setiap orang bahkan seorang anak sekolah menengah pertama pun pasti bisa membuat nasi goreng, kecuali khasiat yang didesas-desuskan itu, khasiat yang konon bisa membuat seorang wanita kehilangan beban hidup setelah disusupi oleh seporsi nasi goreng ke dalam tenggorokannya. Dan khasiat itulah yang kuinginkan. 

Selain itu, Pak Kasim hanya membuat nasi goreng dalam batas tertentu. Ia tidak memaksakan kehendaknya untuk menyelesaikan hasrat setiap pengunjungnya. Ia akan berhenti bila nasi dalam wadahnya sudah habis, dan orang-orang tanpa kata atau komando dari Pak Kasim akan berhamburan kembali ke rumah dengan rasa kecewa yang berulang. Sedang Pak Kasim akan melepas para pelanggannya seperti melepas anak-anak mujair ke arus sungai, tanpa rasa hutang budi yang melilit masa tuanya, Juga tanpa harap mereka akan kembali lagi nanti. Sungguh sosok sebuah cermin kebapakan yang sempurna mengalir dari sikap Pak Kasim yang pendiam.

~

Tinggal satu orang lagi, maka giliranku untuk mendapatkan seporsi nasi goreng Pak Kasim akan tercapai. Aku akan memakannya langsung di tempat ini. Membawanya pulang ke rumah hanya akan membuatku dihantui oleh perasaan ganjil tentang perseteruanku dengan Desy kekasihku. Apalagi ia masih di sana menungguku pulang dengan sejuta curiga. Aku khawatir usahaku untuk mengantre akan hancur begitu saja. Apalagi ketika ia tahu aku mengunjungi PakKasim hanya untuk mengobati nyeri hati yang dihujani teror seorang perempuan sepertinya. Bisa fatal.

Aku tidak pernah berpikir ini adalah jalan yang salah. Mengobati perasaan dengan seporsi nasi goreng tentu berbeda dengan berbagai macam dupa dan kemenyan, apalagi sampai harus dimandikan. Aku juga tahu Pak Kasim adalah orang yang berpegang teguh pada imannya. Seseorang yang begitu tenang di umur yang hampir menginjak setengah abad menggambarkan perjalanan spritual yang tidak main-main. Dan Pak Kasim tampak telah menapaki jalan seperti itu. Pengalamannya setara banyak dengan nasi goreng yang ia ciptakan untuk setiap pelanggannya. Dan untuk urusan duniawi, ia tidak lagi perlu bicara lewat bibirnya yang menua dan kehitaman karena asap tembakau. Ia cukup meracikkan seporsi nasi goreng dan semua orang akan takjub pada kesadaran dan perasaan misterius yang mengawan di hati dan kepala mereka. 

Dan tentunya aku pun berharap begitu, sebagaimana tujuanku memutuskan makan sendiri di sini, di warung Pak Kasim. 

~

Suara gemuruh keluar dari lambungku, seperti desisan seekor katak yang lahir dari kawin silang antara kodok dan ular laut. Nasi goreng buatan Pak Kasim untukku sebentar lagi selesai, dan aku tidak sabar lagi untuk segera menyingkirkan lapar di perutku, juga sakit di hatiku. Selama menunggu beberapa menit yang takzim itu, bayang-bayang Desy berkelabat mengisi seluruh saraf otakku. Suaranya menggema di dinding-dinding kedua telingaku, sementara di hatiku berbagai macam kebencian perlahan tumbuh dan beranak pinak dengan cepat. 

Apakah Desy masih di rumah? Mungkin ia masih menunggu dengan amarah dari balik pintu. Aku yakin perempuan adalah brankas kebencian paling aman di dunia ini. Mereka sanggup menahan sakit berjuta tahun hanya untuk melemparkannya lagi dalam satu jam atau satu menit pada kekasih mereka. Sungguh keahlian yang tidak bisa dimiliki oleh lelaki mana pun, apalagi olehku.

Nasi goreng itu akhirnya bersandar di meja. Aku duduk mengapitkan sendok dan garpu di kedua tanganku. Ada perasaan magis di tempat itu ketika aku dihadapkan pada sepiring nasi goreng. Sementara itu Pak Kasim sibuk menghadapi pengunjung lainnya, ia barangkali sudah tahu permasalahanku, seperti kebanyakan orang pintar yang dikunjungi rumahnya, mereka akan segera tahu kesusahan setiap orang dari sorot mata atau air muka mereka. Mungkin Pak Kasim sudah mengetahui itu semua, sudah mengetahui tentangku dan Desy, juga perseteruan kami. Dan ia sudah melaksanakan tugasnya. Kini giliranku, memakan apa yang harus kumakan. Nasi Goreng Pak Kasim. 

~

Setelah kendaraan kuparkir dengan benar, aku segera menuju pintu depan. Di sana, di balik daun pintu itu pasti sudah berdiri seorang perempuan. Dengan wajah yang amat kukenali, juga dengan emosi yang tak asing kurasakan. Desy!

Setelah membuka pintu, aku terkesiap. Benar saja ia telah berada di sana, dengan kedua mata yang sorotnya menembus ulu hati, juga dengan air muka yang tampak baru pulang dari neraka. Akan tetapi semua adegan itu perlahan berubah, setelah kuraih tangan dan kutempelkan di dahinya, lalu kucium keningnya. Ia kebingungan, aku hanya tersenyum, dalam pelukanku yang menyatu dengan pelukannya, aku kembali mengingat Pak Kasim dan nasi gorengnya.

Kini aku tahu semua rahasia sakit hati dan berbagai macam perasaan aneh yang disembuhkan oleh sepiring nasi goreng itu. Seandainya semua orang tahu.

Emosi ini, kebencian ini, hanya soal lapar atau tidaknya seorang manusia.         


KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL cerpen

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana