Sepakbola Haram, Lari ke Kontrakan

15 Juni 2012 08:54:48 Dibaca :
Sepakbola Haram, Lari ke Kontrakan

Susah memang jika keluarga sudah menjadi pengikut wahabi. Banyak sekali yang diharamkan, yang dibilang sesat-menyesatkan, bid'ah, khurafat, syirik, dan sebagainya. Termasuk sepakbola. Ketika masyarakat sedang asik menikmati gelaran Piala Eropa, tetapi di belahan dunia lain justru sepakbola diharamkan. Mungkin bagi orang Indonesia yang (sok) nasionalis dan anti asing, mereka berpendapat bahwa sepakbola adalah cara kapitalis-kapitalis Barat menjajah NKRI. Lihat saja bagaimana Indonesia cuma dijadikan pasar untuk menjual sepakbola mereka. Padahal sepakbola Indonesia, atau bahkan Asia, tidak bisa dijual di negara-negara mereka. Sederhananya, kita membeli produk mereka. Namun, mereka tidak mau membeli produk kita.

Sentimen-sentimen anti kapitalis ini juga dipakai oleh kalangan agamis yang mana dalam hal ini saya menyoroti kaum salafi wahabi. Tetapi dalil-dalil yang dipakai disertai bumbu-bumbu teks dan doktrin agama. Mengapa sepakbola ditentang dan diharamkan oleh orang wahabi? Dikarenakan;

1. Dalil pertama hampir mirip dengan kelompok anti asing dan kapitalisme, yakni sepakbola itu menjajah atau menggerus nilai-nilai keislaman. Karena saat ini sepakbola sudah seperti agama, sehingga umat lebih bangga, kagum, memuja, dan mengidolakan pemain atau klub sepakbola ketimbang Rasulullah, khalifah Rasyidun, dan generasi salaf yang dibilang generasi keemasan dalam Islam.

2. Terlalu banyak uang-uang riba yang bergulir di dalam Industri sepakbola. Karena hukum riba adalah haram, maka perangkat-perangkat yang bisa menghasilkan riba itu juga haram.

3. Sepakbola telah menanamkan ego kebangsaan atau fanatisme klub yang telah menggantikan cita-cita daripada dakwah untuk menyebarkan Islam ke seluruh dunia tanpa dibatasi ego sempit bernama nasionalisme.

4. Mengandung kemaksiatan seperti judi dan memertontonkan aurat.

5. Dalam ruang privat, sepakbola sama seperti halnya musik, membuat umat Islam, terutama generasi mudanya lalai daripada perintah agama dan asik terjerumus dengan sesuatu yang melalaikan. Padahal dalam al-Qur'an telah diperingatkan bahwa dunia ini hanya lahwun wa laghwun, alias hal-hal yang dapat melenakan dan melalaikan manusia.

Setidaknya itulah beberapa alasan yang dikemukakan oleh orang wahabi. Dan karena ayah saya seorang wahabi tulen, dia sering melarang anak-anaknya nonton sepakbola. Maka dari itu, sebagai penggemar sepakbola, lebih baik saya pergi ke kontrakan beberapa kawan untuk menonton sepakbola ketimbang ada di rumah. Sulit untuk melawan kaum wahabi apalagi jika ada ikatan darah seperti Ayah-Anak. Saya heran, kenapa sih pemerintah tidak mau mencegah dan menghalau penyebaran ajaran wahabi di Indonesia? Takut dibilang melanggar HAM dan kebebasan beragama? Takut mengingkari keragaman dan kebhinekaan? Atau takut dibilang tak jauh berbeda dengan rezim Orde Baru?

Whatever-lah, semua orang bisa bilang kepada saya, "Itu sih derita loe." karena hidup di dalam lingkungan wahabi. Tetapi menurut saya di Indonesia ini memang kepentingan politik telah merasuk ke segala bidang dan banyak rusuhnya. Saya cuma berharap suatu hari bisa pindah dari negara ini, bebas dari pertarungan ideologi, bebas dari wahabi, bebas menikmati hal-hal yang saya sukai, bebas dari apapun yang menekan saya sebagai individu yang bebas.

Kupret El-kazhiem

/kupretist

Pelarian, Pengangguran, Soliter, Serabutan, Penduduk Bumi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?