PILIHAN HEADLINE

Malta: Negara Mini, Bahasa Arab-Ing-talia dan Lokasi Syuting Banyak Film

21 Maret 2017 12:08:36 Diperbarui: 22 Maret 2017 07:25:07 Dibaca : 354 Komentar : 6 Nilai : 13 Durasi Baca :
Malta: Negara Mini, Bahasa Arab-Ing-talia dan Lokasi Syuting Banyak Film
Valetta, Malta (dokumentasi pribadi)

Malta adalah negara ke-30 yang kami kunjungi. Negara kepulauan supermini di Selatan Itali ini berbentuk republik dan merdeka dari jajahan Inggris tahun 1964. Inggris menjajah Malta sejak tahun 1814. Walaupun begitu, sisa-sisa Inggris tidak terlalu terasa, ya mungkin hanya kotak telepon dan kotak pos yang mengingatkan bahwa Inggris pernah ada di Malta. Kenapa bagi saya tidak terlalu terasa, karena banyak nama tempat di Malta lebih terdengar Arabnya daripada Inggrisnya. 

Padahal, dinasti Arab di Malta hampir sama lamanya dengan penjajahan Inggris, yakni hanya selama 2 abad saja, dan itu pun terjadinya sudah lama antara abad ke-9 sampai abad ke-11. Setelah orang Arab, masuk Itali dan baru Inggris. Namun begitu, nama-nama tempat di Malta masih berbahasa atau setidaknya kental Arabnya, sampai sekarang, seperti Mdina, Rabat, Wied il mielah dll.

Bila membaca bahasa Inggris Malta, saya banyak herannya, karena banyak istilah yang dipakai tidak biasa kita pakai. Misalnya istilah untuk disewa/disewakan dalam bahasa Inggris, yang sering kita pakai kan to rent di Malta menggunakan istilah to let. Awalnya malah saya pikir iklan untuk Toilet hehehe. Tapi begitulah di Malta, walaupun bahasa Inggris dan bahasa Itali adalah bahasa kedua, tapi bila mendengar orang Malta bicara akan terasa dejavu, karena bahasa Malta berangkat dari dialek bahasa Arab jadi logat Arabnya cukup terdengar dominan dengan dibumbui kata dari bahasa Itali, Inggris, Jerman, Spanyol, gado-gado deh serba campur aduk. Dan bila mereka berbahasa Inggris pun aksennya cukup unik, tidak terdengar masuk ke rumpun british, american apalagi australian

Wisata ke Malta bisa karena banyak alasan, karena Malta menyuguhkan banyak segmen wisata, wisata alam, wisata budaya dan sejarah, wisata lokasi film dll. Berkunjung ke Malta dari Jerman pun tidak lama dan tidak terlalu mahal. Maskapai murah seperti Ryanair, Air Berlin, Easy Jet banyak yang terbang ke Malta. Lama terbang dari Jerman sekitar 2 jam-an. Waktu yang baik berkunjung ke Malta antara akhir Maret-Juni atau musim gugur karena di saat musim panas, suhu udara di Malta bisa mencapai 45° C dan musim dingin (walaupun tanpa salju) tapi banyak hujan dan bisa banjir segala. 

Restoran dan harga makanan di Malta relatif lebih murah dari di Jerman demikian juga dengan hotel dan penginapan. Variasi makanan juga terutama di Kota Sliema dan Valetta, sangat beragam. Mencari makanan halal di Malta pun cukup mudah karena banyak ditemukan waralaba kebab as Sofra di banyak tempat.

Berkeliling di Malta banyak kemungkinannya bisa naik bus kotanya yang murah, naik hop on hop off, ikut tour atau seperti kami sewa mobil supaya lebih fleksibel.

Malta dan Uni Eropa

Marsaxlokk, Malta (dokumentasi pribadi)
Marsaxlokk, Malta (dokumentasi pribadi)

Malta walaupun mini dan baru merdeka tahun 1964, sudah masuk Uni Eropa sejak tahun 2004 dan mulai menggunakan mata uang Euro sejak tahun 2008. Paspor Indonesia dengan visa Schengen karena itu bisa masuk Malta tanpa masalah dan tidak perlu ekstra buat visa Malta. Di Kota Sliema, bahkan saya berpapasan beberapa kali dengan orang Indonesia. 

Kekuatan ekonomi Malta lebih baik dari saudara tua Eropa seperti Yunani ataupun lainnya lho. Andalan Malta adalah pertanian, perikanan, industri film, mainan anak, elektronik. Mainan anak Playmobil mungkin dikenal juga kan di Indonesia, nah... itu asalnya dari Malta. 

Luas negara mini ini hanya dua kali-an luas Kota Bandung, 316 km2 saja, jumlah penduduknya 430 ribuan orang. Seharusnya kalau tersebar rata tidak padat, tapi berhubung penduduknya hampir sebagian besar tinggal di ibu kota Valetta dan sekitarnya, maka Valetta dan sekitarnya terasa sangat padat. Apalagi ditambah di kota ini parkir gratis dan angkutan umum bus walaupun sangat murah (50 cent) penduduknya lebih senang bermobil ria, jadi sering macet. Padahal, jalan-jalannya sempit dan banyak kondisi jalan-jalannya mengingatkan kondisi jalan di Bandung, banyak lubang dan garinjul

Malta dan Bandung atau Indonesia pada umumnya memang memiliki banyak kemiripan selain penduduknya murah senyum, yakni banyak jalan-jalannya berlubang, lalu lintas kiri alias setir mobil ada di sebelah kanan, banyak tukang parkir liar, beberapa jalan tanpa trotoar dan urusan keselamatan minimal, bahkan jalan tanpa batas atau peringatan karena berujung laut tidak ada. Jalan tanpa batas ini yang seringkali membuat ngeri, kalau telat ngerem langsung nyemplung ke laut. Walaupun laut-lautnya indah dan biru tapi berenang di tengah laut Tengah dengan ombaknya yang mengerikan, hanya bunuh diri.   

Malta dan Film

Popeye village, lokasi syuting film Popeye tahun 1980 (dokumentasi pribadi)
Popeye village, lokasi syuting film Popeye tahun 1980 (dokumentasi pribadi)

Kelebihan Malta dari banyak kota di Eropa untuk produksi film adalah subsidi yang diberikan pemerintah Malta bila syuting film dilakukan di sana, lokasi-lokasi abad pertengahan atau lebih tua laginya banyak, pantai dan lautnya yang indah, kemudahan akses ke tempat-tempat lokasi, bahasa pengantarnya bahasa Inggris dan untuk logistik relatif murah dibandingkan dengan di negara Eropa lainnya. Hal ini membuat saya tidak heran pantas banyak sekali film yang dibuat di Malta, misalnya Troya, Games of Thrones, Gladiator, Da Vinci Code, By the Sea dll dan paling terkenal lokasi syutingnya di Malta adalah bekas pembuatan film Popeye, film komedi musikal tahun 1980 dengan bintangnya Robin Williams.  

Lokasi pembuatan filmnya ini tersembunyi di Utara pulau utama Malta, dekat pelabuhan Cirkewwa ke Pulau Gozo. Lokasi syuting ini sekarang menjadi salah satu tujuan wisata di Malta selain karena indah juga unik. 

Malta dan Keindahan Alam

Sisa Azure Windows (dokumentasi pribadi)
Sisa Azure Windows (dokumentasi pribadi)

Yang membuat kami tertarik ke Malta salah satunya adalah kecantikan dari Azure Windows. Sayangnya, Azure Windows yang sudah terbentuk ratusan tahun ini, seminggu yl, seminggu sebelum kami tiba di Malta, terhempas badai dan gelombang keras di laut Tengah. Uhu... yang kami bisa saksikan hanyalah sisa patahan tebingnya. 

Tapi kecantikan alam Malta tidak hanya Azure Windows, ada Wied Il Mielah, ada Blue Grotto, ada St Peter's Pool dll. Semuanya sangat menakjubkan, ditambah air laut yang demikian biru mengitari Malta. Biarlah foto-foto saya di bawah ini saja ya yang bicara.

Ladang garam di Gozo (dokumentasi pribadi)
Ladang garam di Gozo (dokumentasi pribadi)

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi

wied il mielah (dokumentasi pribadi)
wied il mielah (dokumentasi pribadi)

St Peter's Pool, Malta (dokumentasi pribadi)
St Peter's Pool, Malta (dokumentasi pribadi)

Malta dan Sejarah Dunia

Ggantija di pulau Gozo, Malta (dokumentasi pribadi)
Ggantija di pulau Gozo, Malta (dokumentasi pribadi)

Tidak pernah terpikir oleh saya, bahwa ada sisa bangunan buatan manusia lebih tua dari Djoser Piramida di Sakkara (2650 SM) atau Stonehenge (3100-2000 SM) bisa ditemukan di negara mini Malta. Masa sih sudah ada kehidupan yang lebih tua dari di Mesir atau Inggris, di pulau yang luasnya dua kali Kota Bandung di tengah lautan ini. Menurut Daniel, orang Maltanya, dulu Pulau Malta katanya masih nempel dengan Benua Afrika dan Eropa jadi mungkin saja Ggantija Tempel (3800 SM) di Pulau Gozo ini lebih tua dari peradaban di Mesir. Karena itu pula Ggantija masuk warisan budaya UNESCO juga. 

Untuk mengerti bangunan bersejarah memang harus memiliki fantasi dan ilmu. Walaupun penjelasannya ada, terkadang membayangkan kondisi dulu 5000 tahun lalu agak sulit, tapi tempat wisata bersejarah ini menjadi menarik apalagi bila ada bumbu legendanya. Seperti nama tempel ini, Ggantija artinya raksasa, karena konon dulu dibangun dalam semalam oleh raksasa wanita sambil menggendong bayinya. Ah ... ada-ada saja. Itu saja dulu ya oleh-oleh cerita Maltanya, salam. (ACJP)

ACJP Cahayahati

/kritzel

TERVERIFIKASI

tukang nonton film, betah nulis dan baca, suka sejarah, senang jalan-jalan, hobi jepret, cinta lingkungan, pegiat konservasi energi dan sayang keluarga
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL wisata

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana