PILIHAN

(Sisi Lain) Saudi Arabia

21 Maret 2017 08:14:10 Diperbarui: 21 Maret 2017 08:34:22 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Saya hanya senang mengamati fakta, menguliknya di kepala, kemudian menuliskan kembali dengan cara tersendiri. Sebenarnya saya agak segan menulis topik ini, apalagi Raja Salman justru menampilkan sisi berbeda selama berkunjung di Indonesia. Perilaku kebapakan, mengayomi, serta merentangkan toleransi tergambar dalam pemberitaan selama berada di tanah air kita tercinta.

Namun, kita tidak bisa mengabaikan berita atau opini yang mengaitkan terorisme dan ekstrimisme yang diekspornya. Saudi Arabia telah sengaja menyebarkan paham kekolotan Wahabi ini ke seluruh dunia, terutama kepada umatnya. Tahukan sampeyan , misalnya, untuk di Asia Tenggara saja, menyusup ke dalam minoritas Rohingnya untuk menggoyang pemerintahan Myanmar – Saudi Arabia menggandeng AS.

Salah satu sumber yang bisa menjadi rujukan untuk mengamati wilayah Timur Tengah, saya mengandalkan catatan, laporan, terjemahan artikel seorang novelis dan jurnalis berbakat: Dina Sulaeman. Ada catatan bahwa selama delapan dekade terakhir Arab Saudi bersikap hati-hati. Dengan menggunakan kekayaan minyaknya yang amat besar, mereka diam-diam menyebar citra ultra-konservatif Islam-nya ke seluruh dunia Muslim, diam-diam menggerogoti rezim sekuler di kawasan, lalu bersembunyi di balik bayangan, sementara pihak lain bertempur dan sekarat. Adalah uang Saudi yang memicu gerakan Mujahidin di Afghanistan, mendanai invasi Saddam Hussein ke Iran, dan menjadi sumber uang bagi gerakan-gerakan Islam dan kelompok teroris di berbagai penjuru bumi, mulai dari Kaukasus hingga  Hindu Kush.

Diplomasi sembunyi-sembunyi itu berada di ambang keruntuhan. Rezim Bani Saud terlihat dalam kondisi paling rentan sejak rezim itu didirikan pada tahun 1926. Kasus ini bisa kita analisis untuk mengetahui betapa keangkuhan, delusi dan ketidaklayakan perilaku feodal akan mengalahkan uang sebanyak apapun.

Rintangan pertama yang dialami kerajaan Saudi adalah keputusan yang diambil musim gugur tahun 2015 untuk melemahkan pesaing mereka dengan cara meningkatkan produksi minyak sehingga harga minyak jatuh. Mereka berpikir bahwa jika harga satu barel minyak turun dari $ 100 menjadi sekitar $ 80, pesaing mereka akan tercekik karena mengandalkan sumber yang lebih mahal dan teknologi baru, termasuk industri minyak AS, perusahaan pengeksplorasi Kutub Utara, dan produsen yang baru muncul seperti Brazil. Riyadh berharap, dengan cara ini mereka akan menguasai kembali pasar energi. Jatuhnya harga minyak juga akan merusak negara-negara yang bergantung pada minyak yang tidak disukai Saudi, seperti Rusia, Venezuela, Ekuador, dan Iran.

Maka siapa pun yang sudi membuka kesadaran akan mudah menemukan praktik-praktik kampanye yang mengungkit-ungkit sistem kenegaraan setempat. Ayat-ayat agama didengung-dengungkan sebagai dalih untuk meyakinkan pengikutnya, rakyat biasa yang rentan tersasar pun digiring untuk mempercayai surga yang aduhai nyaman dengan sekumpulan bidadari seksi. Ayat-ayat kitab suci yang sesungguhnya diturunkan sebagai rahmat bagi semesta alam, dicuwil-cuwil menjadi sarana provokasi menolak keberadaan pihak lain.

Jadi, mari kita saling membuka diri, mengulurkan tangan persahabatan dengan tulus, kemudian bersama-sama memasang badan untuk segala provokasi yang mengadu domba kita sebagai saudara sebangsa dan setanah air! 

Eko Kriswanto

/kriskamin

Mulai menulis sejak kelas V Sekolah Dasar, dipicu puisi seorang temannya.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humaniora

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana