Kompasiana News
Kompasiana News

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).

Selanjutnya

Tutup

Otomotif headline

Indonesia Rajai Kompetisi Mobil Irit se-Asia, Lalu Apa Selanjutnya?

19 Maret 2017   12:32 Diperbarui: 19 Maret 2017   20:34 316 3 5
Indonesia Rajai Kompetisi Mobil Irit se-Asia, Lalu Apa Selanjutnya?
Tim Sadewa dari Universitas Indonesia berhasil menduduki posisi pertama. Dokumentasi Kompasiana

Singapura - Tim Indonesia seolah tidak memberi ampun pada tim-tim dari negara lain. Posisi lima besar juara membuat mobil paling irit se-Asia disabet oleh lima tim dari Indonesia. Tim Sadewa dari Universitas Indonesia menduduki posisi teratas, disusul oleh ITS Team 2 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember kemudian di posisi tiga ada Garuda UNY Eco Team dari Universitas Negeri Yogyakarta, posisi empat dan lima ditempati tim dari Universitas Sebelas Maret dan Istitut Teknologi Bandung. 

Kejayaan Indonesia ini diapresiasi oleh Shell Indonesia, General Manager External Relations Shell Indonesia, Haviez Gautama menyatakan rasa bangganya pada seluruh tim Indonesia. 

“Sangat bangga tentunya. Sebagai negara dengan tim peserta terbanyak, akan sangat sedih jika tidak ada tim yang masuk dalam setiap kategori,” ujar Haviez di sela-sela penyerahan piala Sabtu (18/3) kemarin.

Indonesia mendominasi. Tentu saja ini adalah hal positif yang bisa kita banggakan sebagai bagian dari warga negara Indonesia. Apalagi mereka adalah mahasiswa yang masih memiliki masa depan yang sangat panjang dan pemerintah harus memperhatikan potensi-potensi ini. Tapi kemudian muncul pertanyaan “setelah juara, lantas apa yang akan dilakukan?” 

Pertanyaan sederhana, tapi poin inilah yang paling penting sebenarnya. Akan sangat percuma jika potensi, kemampuan dan keahlian yang berhasil dibentuk dari kompetisi Shell Eco-marathon 2017 ini jika tidak bisa diimplementasikan pada kehidupan sehari-hari. 

Jika kita berkaca pada data, transportasi menjadi sektor yang paling banya mengonsunsi energi dunia. Hal inilah yang menjadi alasan utama agar pengembangan bahan bakar karbon rendah untuk kendaraan bisa dibuat. Jika tidak, pilihan kedua adalah masyarakat dunia harus menggunakan kendaraan yang irit bahan bakar agar penggunaan energi fosil yang semakin habis bisa lebih efisien. Atau pilihan terakhir, dunia harus segera mencari dan mengimplementasikan sumber energi alternatif. 

Pengembangan bahan bakar berkarbon rendah untuk kendaraan pun menjadi sangat penting. Dewasa ini ada sekitar 1 miliar kendaraan yang memadati tiap ruas jalan di seluruh dunia. Bahkan menurut Badan Energi Dunia (IEA) pada 2040 mendatang diperkirakan jumlah kendaraan akan meningkat dua kali lipat. 

Permasalahannya adalah, hampir sekitar 90 persen dari kendaraan yang sehari-hari digunakan masih menggunakan bahan bakar dari sumber energi fosil. Di sinilah poin pentingnya. Masyarakat dunia harus bisa bertransisi ke berbagai tipe energi lain untuk mengurangi emisi karbon dan meningkatkan efisiensi kendaraan. 

Inilah tujuan utama diselenggarakannya Shell Eco-marathon ini. Hal ini diamini oleh John Abbot, Downstream Director untuk Royal Dutch Shell yang sempat berinteraksi dengan tim Kompasiana saat media briefing di Hotel Changi Village, Singapura (16/3) lalu. 

“Dalam waktu dekat dunia akan membutuhkan adanya produksi massal bagi mobil bertenaga listrik dari baterai yang harganya terjangkau,” kata John. 

Ia melanjutkan, menurutnya selain itu dibutuhkan juga bahan bakar lain seperti hidrogen dengan jarak tempuh yang lebih jauh dan pengisian bahan bakar yang lebih cepat. Infrastruktur pendukungnya pun perlu dibangun dan yang terpenting adalah para pengguna yang harus ikut berpartisipasi dalam perubahan ini. 

Oke, masyarakat wajib berpartisipasi. Tapi pertanyaan kedua kemudian muncul “Kapan teknologi yang membawa Indonesia berjaya di ajang se-Asia ini bisa diimplementasikan dalam penggunaan sehari-hari?”

Sepertinya tidak dalam waktu 2 atau 3 tahun ke depan. Karena sebagai penyelenggara, pihak Shell pun tidak memberikan jaminan bahwa dalam waktu dekat teknologi ini akan segera bisa digunakan.

 

Norman Koch. Dokumentasi Kompasiana
Norman Koch. Dokumentasi Kompasiana

Adalah Norman Koch yang mengatakan demikian. Ia adalah General Manager Shell Eco Global yang sempat ditemui tim Kompasiana beberapa waktu lalu. Kompasiana menanyakan pertanyaan serupa dan menurut Koch, pengimplementasian teknologi ini tidak bisa diperkirakan. Bahkan ide teknologi Idling Stop System yang saat ini banyak digunakan oleh industri otomotif pertama kali muncul dalam kompetisi serupa yang diselenggarakan pada tahun 90an. Artinya butuh waktu bahkan lebih dari 10 tahun untuk merealisasikan teknologi semacam ini.

“Kami sendiri tidak bisa memperkirakan dan memberi jaminan kapan teknologi hasil dari kompetisi ini bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan teknologi yang banyak digunakan oleh industri otomotif saat ini awalnya ditemukan sekitar tahun 80 hingga 90an. Mungkin membutuhkan waktu sekitar 10 tahun atau lebih untuk pengimplementasian,” ujar Koch pada Kompasiana. 

Sayangnya, Shell pun tidak berminat untuk memproduksi teknologi hasil implementasi ini menjadi sebuah produk yang bisa digunakan. Bahkan Koch pun melanjutkan bahwa mereka sama sekali belum memikirkan soal pengimplementasian ini. Menurutnya, dalam kompetisi ini Shell hanya ingin menjadi trigger untuk merangsang mahasiswa mengeluarkan ide-ide dan kreativitasnya demi mengubah dunia menjadi ke arah yang lebih baik. 

Setelah pengumuman juara dilaksanakan, Kompasiana pun mengajak beberapa anggota tim dari beberapa tim yang menjadi juara untuk berbincang sejenak. Dan beberapa dari mereka berniat untuk mengajukan teknologi ini sebagai proposal pada beberapa pabrikan otomotif untuk mendanai dan mengembangkan penelitian ini. Bahkan ada pula dosen pembimbing yang mengatakan bahwa hasil dari project ini kemudian akan coba dijual pada pihak swasta atau indsutri otomotif yang mungkin membutuhkan. Tentu saja mereka “menjual” ide dari proyek ini bukan berarti “membuang” tapi untuk terus dikembangkan dalam beberapa waktu ke depan agar teknologi ini bisa memberi manfaat pada masyarakat. 

Bahkan beberapa anggota tim yang terlibat menyatakan keinginannya untuk terus berkecimpung baik di industri otomotif maupun sumber daya energi. Sayangnya, Shell tidak memberikan jaminan tertentu bagi para juara dari kompetisi ini. 

“Kami ingin mereka berkompetisi. Bahkan jika ingin bekerja di Shell pun mereka harus tetap berkompetisi. Tapi tentu saja dengan menjadi juara di gelaran ini akan memberikan nilai tambah bagi presentasi diri mereka masing-masing dan itu akan menjadi pertimbangan,” kata Darwin Silalahi, Country Chairman Shell Indonesia di sela-sela acara ini saat ditemui tim Kompasiana.

Meski demikian, para juara inilah yang harus segera dilirik oleh pemerintah. Ini adalah modal awal dan potensi besar bagi Indonesia untuk ikut serta membawa dunia menjadi lebih baik. Perlu diingat, energi fosil semakin lama semakin menipis, dan Indonesia dengan jumlah penduduk yang sangat besar serta jumlah kepemilikan kendaraan yang tinggi tentu akan memberi pengaruh yang signifikan jika kita bisa bertransisi dengan menggunakan energi alternatif.

(yud)