PILIHAN HEADLINE

Di Indonesia, Kesetaraan Gender Masih Belum Sepenuhnya Tercapai

18 Mei 2017 03:55:04 Diperbarui: 18 Mei 2017 13:14:21 Dibaca : 338 Komentar : 2 Nilai : 4 Durasi Baca :
Di Indonesia, Kesetaraan Gender Masih Belum Sepenuhnya Tercapai
Ilustrasi. Breckenhill.com

Kesetaraan gender selalu menjadi isu yang menarik untuk diperbincangkan setiap tahunnya. Apalagi ketika kita memperingati Hari Kartini di mana momen ini sangat pas untuk melakukan penilaian apakah emansipasi pada wanita dan kesetaraan gender telah dicapai oleh Indonesia.

Nyatanya kesetaraan gender ini belum sepenuhnya terpenuhi. Secara kasat mata masih ada yang menganggap bahwa derajat dan hak-hak wanita berada di bawah pria. "Kaum papa" dipercaya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari wanita dalam hal apapun. Intelegensi, kemampuan bekerja, daya tahan tubuh dan berbagai hal lainnya yang bahkan tidak terpikirkan oleh kita. 

Meski demikian di zaman serba modern ini sekat-sekat pemisah antara wilayah pria dan wanita dipercaya semakin tipis karena wanita mulai mendapat hak-hak yang setara dengan pria. 

Isu kesetaraan gender ini memang sangat menarik untuk dibicarakan. Oleh karena itu bertepatan dengan Hari Kartini bulan lalu, kami pun menyajikan sebuah jajak pendapat melalui fitur pro kontra di Kompasiana. Dalam pro kontra ini, kami melontarkan sebuah argumen bahwa "Kesetaraan gender belum sepenuhnya terpenuhi" dan ternyata ada sebanyak 3 Kompasianer yang menyatakan senada dan 2 Kompasianer lainnya menilai bahwa kesetaraan gender sebenarnya telah terpenuhi. 

Pendapat pertama dilontarkan Kompasianer Setiawan D. Nusa. Ia menyatakan sependapat dengan argumen yang dilontarkan oleh Kompasiana. Ia menilai bahwa budaya Timur yang melekat pada diri masyarakat Indonesia tak bisa lepas begitu saja walaupun bangsa ini telah terpengaruh oleh budaya kebarat-baratan dengan penyamarataan gender sebagai salah satu kebiasannya. Menurutnya kesamaan gender di negara ini masih belum pas dan masih harus ditingkatkan.

"Kesetaraan adalah hal yang masih cukup pembiasaan di negara-negara berbudaya Timur hingga saat ini. Apapun sistem pemerintahan yang berjalan, nilai-nilai budaya ketimuran masih sangat terasa walau sudah tidak begitu dominan lagi. Secara keseluruhan, kesetaraan gender saya liat belum sampai pada titik 'yang pas'. Peran wanita dalam berbagai sektor masih dapat ditingkatkan," tulis Setiawan pada kolom komentar. 

Pihak internasional pun ternyata masih memandang kesetaraan gender di Indonesia belum terpenuhi menyeluruh. Bahkan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Guerend mengatakan bahwa Indonesia harus meningkatkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan untuk menumbuhkan ekonomi negara. 

Opini lainnya tentang kesetaraan gender ini muncul Kompasianer Paul Malhnau. Ia mengatakan hal serupa dengan Setiawan. Menurutnya kesetaraan gender tak bisa lepas dari peran sosio kultural.  Pandangannya ini disadari dari masih banyaknya masyarakat Indonesia yang memandang sinis jika ada calon ataupun pemimpin dari kaum hawa.

"Kadang tidak sedikit orang berpikir bahwa misalnya sebuah organisasi atau lembaga atau apapun itu hanya boleh dipimpin oleh pria. Masih ada kok yang seperti itu. Kita tidak bisa menutup mata akan hal ini. Perempuan pun saya lihat masih ada saja hak-haknya yang belum terpenuhi. Kesetaraan gender memang belum seluruhnya didapatkan perempuan," tulis Paul. 

Namun di sisi lain, ada pula pihak yang menilai bahwa kesetaraan gender di Indonesia berada pada kondisi yang cukup baik. Adalah Feminis asal Malaysia bernama Zaenah Anwar yang mengatakan bahwa Indonesia sebetulnya sudah cukup baik dalam soal kesetaraan gender, namun Indonesia kurang menjual hal tersebut pada publik sehingga masyarakat masih cenderung memandang negatif. 

Hal ini senada dengan Kompasianer Faisal Fahmi yang kontra akan pernyataan yang dibuat Kompasiana. Ia beranggapan bahwa tak semua manusia harus mendapatkan kesetaraan karena ada seleksi alam yang nantinya akan menyaring manusia dari jenis kelamin berbeda untuk menempati posisinya masing-masing. Semuanya tergantung dari usaha dan kerja keras sehingga tiap individu akan menuainya pada suatu saat nanti.

"Memang kesetaraan gender sebaiknya memikirkan akan manusia yang memiliki kodratnya masing-masing, ada bagian-bagian tertentu dalam ajaran agama yang harus dipatuhi dan dipegang teguh. Tidak semua manusia berhak mendapatkan kesetaraan gender itu, hanya manusia berkualitaslah yang berhak setara setelah diseleksi alam," tulisnya pada kolom komentar. 

Adapula Kompasianer terakhir yang kontra dengan pernyataan kami adalah Dayu Lestari, ia menganggap kesempatan pria dan wanita untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, dan dunia berumah tangga. Perempuan kini bebas mengenyam pendidikan di berbagai tingkatan, pekerjaan yang didapat kaum hawa juga beraneka ragam sehingga, dan ada beberapa pria yang mau mengasuh anak dan membiarkan istri mereka untuk berkarir.

Meski demikian, ternyata berdasarkan data ternyata angka Indeks Ketidaksetaraan Gender di Indonesia masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Salah satu masalah krusial yang dihadapi perempuan adalah tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga. Data pada Komnas Perempuan menunjukkan tingginya tingkat kekerasaan terhadap perempuan di dalam rumah tangga pada tahun 2015 secara nasional tercatat mencapai  321.752 kasus.

Hal inilah yang seharusnya mendapat perhatian dari pemerintah. Kesetaraan gender merupakan aspek vital dalam memajukan HAM dan tata laksana pemerintahan. Bukan hanya itu, perempuan juga seharusnya bisa mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk berkontribusi dalam segala bidang termasuk politik dan ekonomi.


(LUK/yud)

Kompasiana News

/kompasiananews

TERVERIFIKASI

Akun ini merupakan resmi milik Kompasiana. Kompasiana News digunakan untuk mempublikasikan artikel-artikel hasil kurasi, rilis resmi, serta laporan warga melalui fitur K-Report (flash news).
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana