Mohon tunggu...
Abdul Salam Atjo
Abdul Salam Atjo Mohon Tunggu... Administrasi - Penyuluh Perikanan

Karyaku untuk Pelaku Utama Perikanan

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Menggali Pangan dan Gizi dari Sepetak Sawah Minapadi

17 Maret 2017   13:11 Diperbarui: 17 Maret 2017   22:00 597
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Budidaya perikanan air tawar sistem minapadi, selain dapat padi juga bisa panen ikan. Padi sebagai penyumbang pangan karbohidrat dan ikan sebagai penyumbang gizi berupa protein hewani ternyata bisa digali dari sepetak lahan sawah.

Perikanan Budidaya saat ini menjadi tumpuan penting dalam menopang pembangunan perikanan nasional seiring dengan fenomena meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap sumber pangan dan gizi yang aman bagi kesehatan. Hal ini menjadi sebuah tantangan besar bagi pemerintah dalam mewujudkan Perikanan Budidaya sebagai ujung tombak dalam menggerakan perekonomian nasional dan ketahanan pangan masyarakat. Disamping itu Indonesia saat ini dihadapkan pada sebuah tantangan besar yaitu dalam menghadapi persaingan perdagangan bebas di level regional ASEAN atau AseanEconomic Community(AEC).

Salah satu solusi dalam menghadapi tantangan tersebut melalui pengembangan usaha budidaya perikanan yang terintegrasi dengan tanaman padi di sawah atau minapadi. Budidaya minapadi adalah budidaya ikan dan padi dalam satu hamparan sawah. Minapadi dapat meningkatkan produktivitas lahan sawah karena selain tidak mengurangi hasil padi, juga dapat menghasilkan ikan/udang. Budidaya minapadi dilakukan masyarakat sejak lama walaupun masih menggunakan teknologi sangat sederhana hanya terbatas pada kegiatan tahapan pendederan.

Teknik budidaya minapadi untuk menghasilkan benih ikan umumnya menerapkan sistim tumpang sari dan sistim penyelang. Sedangkan teknik budidaya minapadi untuk menghasilkan ikan konsumsi dilakukan dengan sistim tumpang sari dan palawija.

Dalam persiapan lahan, tanah diolah dengan sempurna sampai kedalaman 15-20 cm sampai perbandingan lumpur dan air 1 : 1. Pematang dibuat padat dan kokoh agar tidak mudah bocor dan longsor. Uukuran lebar dasar pematang 40-50 cm, lebar atas 30-40 cm dan tinggi 30-40 cm. Pematang dibersihkan dari gulma agar tidak menjadi sarang hama padi maupun ikan. Lapisi pematang dengan lumpur secara berkala agar bersih dan rapi. Setelah kering, lumpur pelapis pematang akan mengeras sehingga gulma tidak mudah tumbuh. Caren dibuat sebelum pengolahan tanah dimulai diukur secara baik sehingga kedalamannnya sesuai yang dikehendaki karena fungsi caren sebagai media hidup ikan, tempat memberi makan ikan, memudahkan ikan bergerak ke seluruh petakan serta memudahkan panen ikan.

Beberapa persyaratan wadah untuk pengembangan minapadi antara lain:  wadah pembesaran berupa petakan sawah yang mampu menampung air, wadah dapat dikeringkan dengan sempurna, pintu air masuk dan keluar terpisah, dasar caren miring ke arah saluran pengeluaran, luasan petakan sawah minimal 500 m2, pematang harus kuat untuk menahan air minimal 30 cm dari pelataran sawah dengan lebar minimal 50 cm;, lebar caren minimum 1,5 m dengan kedalaman dari pelataran minimum 0,5m, ukuran kobakan minimum 1,5 m x 1,5 m x 0,5 m.

Jenis ikan yang dibudidayakan harus memenuhi kriteria benih bermutu dan mempunyai nilai ekonomis. Beberapa jenis komoditas yang dapat dikembangan dalam minapadi adalah  ikan mas, nila,  dan lele.Benih ikan mas kelas benih sebar tersebut memiliki ciri-ciri yaitu bentuk tubuh tebal, gemuk dan kepala tidak besar, bentuk mata bulat, dengan tingkah laku berenang bergerombol dan aktif menyongsong arus. Berdasarkan perkembangan terakhir, telah dirilis varietas ikan nila unggul antara lain varietas : nirwana, jatimbulan, best, sultana, gesit, JICA dan nila merah larasati. Benih ikan nila yang digunakan sesuai dengan SNI Nomor 6140 : 2009 Benih ikan nila hitam (OreochromisniloticusBleeker) kelas benih sebar. Benih ikan nila kelas benih sebar tersebut memiliki ciri-ciri yaitu bentuk tubuh agak pipih, dengan tingkah laku bergerombol di permukaan air, aktif melawan arus air dan bereaksi positif terhadap cahaya dan kejutan.

Untuk ikan lele (Clarias sp) merupakan ikan yang sudah lama berkembang di Indonesia dan digemari oleh segala lapisan masyarakat sebagai sumber protein. Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan yang sanngup hidup dalam kepadatan tinggi di lahan dan sumber air yang terbatas. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan 1) dapat dibudidayakan dilahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, 2) teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, 3) pemasarannya relatif mudah, 4) modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah serta 5) waktu usaha yang dibutuhkan tidak terlalu lama. Ikan lele bersifat nokturnal yaitu aktif bergerak mencari makan pada malam hari. Pada siang hari biasanya berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Ikan lele dilengkapi pernafasan tambahan berupa modifikasi dari busur insangnya dan bernafas dengan bantuan labirin yang berbentuk seperti bunga karang di bawah badannya, fungsinya sebagai penyerap oksigen yang berasal dari udara sekitarnya. Maka dalam keadaan tertentu ikan lele dapat beberapa jam berdiam dipermukaan tanah yang lembab dan sedikit kadar oksigennya (Rachmatun, 2007).

Minapadi sistim penyelang, menghasilkan ukuran benih seperti : nila, mas, tawes, nilam, lele, gurami, patin dan ikan lainnya. Langkah kerjanya meliputi persiapan lahan dengan cara  membabat jerami sampai pangkalnya dan akar yang tersisa dibenamkan; Perbaikan pematang untuk mencegah kebocoran air; Perbaikan saluran pemasukan dan pengeluaran serta dilengkapi dengan saringan yang terbuat dari kawat, bambu atau jaring; Pengolahan dan pembalikan tanah; Pembuatan caren keliling dengan lebar 40-100 cm, kedalaman 60-100 cm dan caren penampungan (kobakan panen) dengan ukuran 1x2 m dan kedalaman 50-75 cm.

Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik dengan dosis 150-500 gram/m2 dan kapur dengan dosis 50 gram/m2 yang diberikan setelah petakan digenangi air setinggi 30-40 cm dan suplai air terus-menerus. Benih ikan yang ditebar sebanyak 100.000 ekor/ha/musim tanam dengan ukuran tebar 1-3 cm.  Pakan tambahan untuk ikan berupa pelet halus sebanyak 20% dari bobot total ikan, dengan frekuensi 2 kali sehari; Ketinggian air di pelataran sawah selama masa pemeliharaan adalah 30-40 cm; Balikkan tumpukan jerami 3 (tiga) hari sekali untuk mempercepat proses pembusukan dan pertumbuhan pakan alami; Monitoring kualitas air dilakukan agar kualitas air sesuai dengan standar pemeliharaan ikan. Panen dilakukan 2 – 3 hari sebelum tanam padi; Dengan sistim ini diperkirakan dapat memproduksi benih berukuran 3-5 cm dengan masa pemeliharaan 20 hari sebesar 60.000-80.000 ekor/ha/musim tanam;  Usaha minapadi dengan sistim penyelang ini dapat juga menghasilkan benih untuk dibesarkan di Karamba Jaring Apung (KJA), atau dijadikan olahan goreng kering yang dikenal dengan “baby fish”.

Minapadi sistim tumpang sari Persiapan lahan dengan langkah kerja sebagai berikut :  Sawah dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan penanaman padi dan pemeliharaan ikan; Perbaikan saluran pemasukan dan pengeluaran serta dilengkapi dengan saringan yang terbuat dari kawat, bambu atau jaring; Pengolahan dan pembalikan tanah; Pembuatan caren keliling dengan lebar 40-100 cm, kedalaman 60-100 cm dan caren penampungan (kobakan panen) dengan ukuran 1x2 m dan kedalaman 50-75 cm. Dengan sistim ini caren dapat dibuat kolam dalam dengan ukuran 0,8-1 meter.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun