Mohon tunggu...
K. Fatmawati
K. Fatmawati Mohon Tunggu... Desainer - Penjelajah

Desainer grafis yang berfokus pada keseimbangan lingkungan, pendidikan, tatanan sosial budaya, ilmu pengetahuan dan percepatan digital.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengarahkan Cita-cita Tanpa Melukai

16 November 2019   06:19 Diperbarui: 16 November 2019   06:29 480
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Photo by Clark Young on Unsplash

Kemarin saya mendengar tawa jenaka dua anak kecil yang sedang bermain. Saya dengar mereka sedang bermain motor balap -- karena suara "ngeeeng..ngeeeng" yang keluar dari mulut mereka.

Lalu saya teringat, hanya motor saya yang saat ini sedang terparkir. Langsung saya pergi ke balkon untuk menengok.

Dua anak kecil yang usianya tidak lebih dari 9 tahun, sedang naik di atas motor saya. Membawa tongkat, sambil bermain rem, tombol-tombol di stir, dan persneleng. Seorang anak berusaha berdiri di atas dudukan motor, sambil menghujamkan batang pohon ke sadel motor.

"alamak!" dalam hati saya mengumpat.

Mengacaukan hiburan mereka saat mereka tengah asik, bukan keinginan saya. Saya pernah ada di masa itu, yang dunia seakan ada dalam genggaman saya. Jadi saya tunggu, sampai tawa mereka agak reda dan gerakan mereka tidak terlalu cepat.

"Dek, hati-hati kalau main motor. Jangan bawa tongkat juga, bahaya." Ucap saya dipandangi dua pasang mata anak laki-laki yang tidak beralaskan kaki.

Mereka lalu lari -- menghilang dari sudut pandang saya yang kemudian berganti dengan munculnya seorang dewasa. Kami lalu bertukar pendapat.

"Mereka kan anak kecil, janganlah begitu,"

"Pertama, mereka bermain di atas motor saya. Kedua, melompat-lompat di atas motor sambil membawa batang pohon, itu sangat berbahaya,"

"Kan mereka cuma anak kecil, kita ini yang sudah dewasa,"

"Kalau mereka berdua jatuh kemudian ditimpa motor saya, bagaimana,"

"Ya berarti motornya tidak bagus, kita tanggung biayanya sama-sama,"

"Berarti mereka main di motor ibu saja. Saya khawatir kalau motor saya nanti mencelakai,"

"Motor saya kan motor lama, nanti kalau rusak malah repot," katanya mendengus

"Baik, kalau begitu mari dijaga sendiri-sendiri saja. Ibu jaga anak-anak itu, saya jaga motor saya. Mari tidak usah saling menyelakai," tutup saya.

Ibu itu tampak tidak puas, karena gerutuannya masih terdengar saat saya melangkah ke kamar, meletakkan buku bacaan yang ceritanya terputus gelak tawa anak-anak itu - di atas pangkuan saya.

Memikirkan adu pendapat yang baru terjadi, sambil mendengar suara-suara yang sering saya dengar.

"Biarkan saja ia merusak, ia masih anak-anak,"

"Biarkan saja ia mencuri, toh mereka hanya remaja,"

"Perusahaan harus memahami alasan perusakan aset oleh karyawan, bukan malah memecat,"

"Tidak apa kalau korupsi, ia sudah banyak berkontribusi pada negara,"

"Tidak apa-apa ngebut di jalan tanpa pakai helm atau tanpa lampu, yang penting selamat,"

"Tidak apa kalau korupsi, asal ia bisa mengembalikan uang yang ia ambil,"

"Sudahlah kita biarkan saja, ia sudah tua. Kita yang muda harus memaafkan,"

"Wajar ia membunuh, karena tiap hari ditagih hutang,"

Hingga suatu hari saat toko hasil jerih payah kita dijarah oleh demonstran, kita hanya bisa mendengar jawaban pilu,

"Sabar, toko saya juga dijarah, tapi tidak apa -- mereka berdemonstrasi atas nama rakyat kecil,"

Photo by Randy Colas on Unsplash 
Photo by Randy Colas on Unsplash 

Mungkin terlalu jauh kalau memulai kisah dari dua orang anak anak, lalu berlanjut pada contoh tidak terpuji lain. Tapi anak-anak adalah aliran air yang membuat muaranya sendiri. Dari situ ia diajarkan, dari situ ia belajar dan menentukan tujuannya.

Saya tidak mau menunggu sampai jatuhnya seorang anak dari balkon apartemen tertinggi memilukan hati. Jangan sampai itu karena ia meniru superman, sedangkan orang dewasa di sekitarnya bersikap masa bodoh. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun