Sampaoli, Messi, dan Icardi

18 Juni 2017 03:27:12 Diperbarui: 18 Juni 2017 03:42:55 Dibaca : 61 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :

Pilu memayungi Argentina pada 4 Juli 2015. Kala tim berbaju putih biru itu gagal jadi juara Copa Amerika. Argentina, yang digadang jadi kampiun harus gigit jari kalah dari tuan rumah Chile.

Konon, cerita perih itu sempat memunculkan kabar 'retak' di ruang ganti, Javier Mascherano (kapten de facto) bagi Argentina murka pada Ever Banega. Pasalnya, Banega gagal mengeksekusi penalti, mengikuti kegagalan Gonzalo Higuain. Walaupun cerita retak di ruang ganti itu buru-buru diklarifikasi, Mascherano bilang tak ada sumpah serapah kejengkelan pada Banega. Kala itu Argentina kalah adu penalti 1-4. 

Siapa yang berada di balik Chile? Dialah Jorge Sampaoli, si plontos yang berpaspor Argentina. Di tengah letupan hura-hura sampai pelosok Chile, Sampaoli masih menyelipkan kekaguman pada Lionel Messi. Sampaoli bilang, Messi tetaplah pemain terbaik dunia. 

Tak sampai setahun setelah cerita di Santiago itu, Sampaoli mundur dari Timnas Chile. Dia ingin berpetualang ke lain tempat. Sempat tersiar kabar jika Sampaoli sebenarnya hampir pasti ke Chelsea. Namun, lelaki kelahiran Santa Fe tahun 1960 ini kabarnya tak fasih bahasa Inggris. 

Tak jadi ke Inggris, Sampaoli akhirnya berlabuh ke Sevilla. Akhir musim 2016-2017, Sevilla ada di posisi empat klasemen. Posisi ini terakhir kali didapatkan Sevilla pada musim 2009-2010. Namun,  sebelum purna tugas di Sevilla selesai, pada akhir Maret 2017, Sampaoli keceplosan ingin melatih Messi. 

Tentu jika ingin melatih Messi, kemungkinannya hanya dua, di Barcelona dan di Argentina. Saat itu, Barcelona pun sudah bakalan ditinggalkan Luis Enrique yang memilih mengakhiri petualangan di Catalan. Kemudian, nama Sampaoli pun jadi perbincangan, sebagai salah satu pengganti Enrique. 

Tapi alur cerita kemudian berubah karena Sampaoli memiliki kesempatan melatih Argentina usai Edgardo Bauza dipecat. Sempat malu-malu kucing, si plontos itu akhirnya membenarkan bahwa dia mau melatih Argentina, tentunya setelah Argentina membayar Sevilla. Maklum, Sampaoli diberi tugas dua musim di Sevilla. Barang siapa mengambil Sampaoli, maka harus membayar Sevilla. Konon untuk bisa mendapatkan Sampaoli, Argentina harus merogok kocek 1,5 juta euro. Awal Juni 2017, Sampaoli resmi melatih Argentina. 

Soal Messi

Tak ada yang berubah soal Messi. Pelatih berganti, pemain ini jadi pujaan dan jadi pusat perputaran Timnas Argentina. Dari Alejandro Sabella, Gerardo Martino, sampai Edgardo Bauza, menempatkan Messi sebagai poros utama Argentina. Semua akan mengelilingi Messi agar anak emas itu, bisa mencuat seperti apa yang dia lakukan bersama Barcelona. 

Sampaoli pun mengungkapkan hal itu. Menempatkan Messi sebagai pusat Timnas Argentina. Sampaoli juga tak mencopot ban kapten dari lengan Messi. Mungkin ini adalah upaya membuat pemain kelahiran 1987 itu nyaman. Jika Lio nyaman, maka dia diharapkan punya mood yang baik. Mood yang baik diharapkan membuat ayah dari Thiago Messi itu menikmati sepak bola. Tentu jika Messi menikmati posisinya, dia bisa bermain lepas, mengeluarkan sihirnya sesering mungkin bagi Argentina.

Tapi justru di situlah kadang jadi pokok persoalan. Selama ini, pemain lain Argentina yang potensial melambung malah tenggelam. Tenggelam karena dipaksa jadi pelayan dan pelengkap Messi. Atau tenggelam karena secara psikologis, sejak awal keberadaannya dipinggirkan karena Megaloman bernama Messi.

Catat saja perjalanan Argentina pada Piala Dunia 2014. Messi benar-benar jadi sentral bagi Argentina di ajang akbar itu. Dari 8 gol yang dibuat Argentina sepanjang turnamen, empat di antaranya dibuat Messi. Dia juga membuat assist mematikan pada Angel Di Maria yang membuat Argentina mengalahkan Swiss 1-0 di babak 16 besar. 

Beberapa hari jelang final, ayah Messi, Jorge Messi berujar jika anaknya mendapat beban besar. Ekspektasi tinggi warga Argentina bertumpuk di Messi. Ketika Argentina akhirnya gagal di final karena kalah 0-1 dari Jerman, maka kegagalan itu seperti hanya milik Messi. Lelaki yang dinilai hanya punya jiwa Barcelona dan bukan Argentina. Bisa jadi beban berat itu sudah tercipta saat Sabella menaruh Messi sebagai
monster tunggal di Argentina.

Ketika Gerardo Martino mengambil alih tongkat kepelatihan, keadaan pun tak berubah. Messi jadi pusat permainan dan kapten tim. Di Copa America 2015, ketika Argentina tak meyakinkan di babak grup, Messi pun jadi bulan-bulanan. Fans Argentina mempertanyakan kenapa di babak grup, Messi hanya buat satu gol dan itu pun dari tendangan penalti melawan Paraguay.

Namun, begitu Argentina melambung di babak semifinal dengan mengalahkan Paraguay 6-1, Messi pun dipuji setinggi langit. Di laga itu Messi membuat tiga assist. Tapi sekali lagi ketika Argentina gagal jadi juara karena kalah adu penalti dari Chile, Messi pun jadi bulan-bulanan publik Argentina. Maklum, satu bulan sebelumnya Messi mampu membawa Barcelona juara Liga Champions usai mengalahkan Juventus 3-1.

Setelah Copa America 2015, ketergantungan Argentina pada Messi kembali terlihat. Dalam empat laga awal kualifikasi Piala Dunia 2018, di mana Argentina tanpa Messi, tim Tango menang sekali, seri dua kali, dan kalah sekali. Begitu Messi main di laga ke lima dan ke enam, Argentina kontan mendapatkan kemenangan.

Di Copa America Centenario 2016, efek Messi sempat terhapus saat laga awal. Tanpa Messi, Argentina menang 2-1 atas Chile. Namun setelahnya ketergantungan pada Messi kembali terlihat. Ketika Argentina kembali gagal jadi juara, Messi jadi bulan-bulanan hingga membuat dia mundur dari Timnas Argentina.

Ketika Tata Martino mundur dari kursi kepelatihan dan digantikan Edgardo Bauza, Messi kembali dipanggil. Messi kembali jadi pusat gerak Argentina. Di tangan Bauza Argentina menang tiga kali, seri dua kali, kalah tiga kali. Tiga kemenangan didapatkan saat Messi bermain. 

Kini, apakah Sampaoli akan melanjutkan cara Sabella, Tata, dan Bauza? Jika melihat awal cerita Sampaoli, maka dia tetap akan menjadikan Messi sebagai ruh Argentina dengan ban kapten yang melingkar di lengan. Namun satu hal yang membedakan Sampaoli dengan tiga pendahulunya adalah soal ekspresi di tepi lapangan. Sampaoli bukan sosok kalem. Dia orang yang meledak dengan tatto bertuliskan pemberontakan di lengan kirinya. 

Tentang Icardi
Alejandro Sabella pernah memainkan Mauro Icardi, tapi hanya di satu laga. Setelahnya Icardi tenggelam. Tata dan Bauza memilih menyingkirkan Icardi dari Timnas Argentina.

Adalah Diego Maradona yang lantang meminta agar Icardi tak masuk skuat Tango. Kabar juga berembus jika Messi menghalang-halangi Icardi masuk ke skuat Argentina. Apa pasal? Karena Icardi dinilai sudah membuat aib. Bukan di dunia sepak bola, tapi dalam urusan asmara.

Icardi digambarkan sebagai orang yang 'menggunting dalam lipatan'. Icardi merebut wanita bernama Wanda Nara yang dulunya adalah pasangan dari Maxi Lopez, striker asal Argentina yang kini bermain di Torino. Padahal dulu Maxi Lopez adalah karib Icardi. Sejak 'perebutan' itu persahabatan keduanya jatuh berkeping-keping. Kenapa Messi membela Maxi? Karena keduanya pernah jadi karib saat di Barcelona tahun 2005-2007. 

Itulah yang membuat Icardi selalu tersingkir. Padahal, Icardi adalah tukang gedor gawang lawan yang potensial. Ketajaman Icardi moncer di musim 2014-2015. Dia mampu membuat 22 gol bagi Inter Milan di Liga Italia Serie A. Icardi menyabet gelar pencetak gol terbanyak atau capocannonieri bersama si gaek Luca Toni.

Icardi menjadi pencetak gol terbanyak termuda dari pemain murni berwarga negara Argentina. Icardi menjadi pencetak gol terbanyak Liga Italia Serie A di usia 22 tahun. Sebelum dan setelah Icardi memang ada pemain murni berwarga negara Argentina yang jadi capocannonieri. Namun mereka menyabet gelar itu pada usia yang lebih tua dari Icardi.

Gonzalo Higuain menjadi topskor Liga Italia Serie A dengan baju Juventus (36 gol) pada musim 2015-2016 kala berumur 29 tahun. Hernan Crespo jadi capocannonieri saat berbaju Lazio musim 2000-2001 dengan 26 gol. Saat itu Crespo berusia 25 tahun.

Gabriel Batistuta jadi pencetak gol terbanyak Liga Italia Serie A saat berseragam Fiorentina musim 1994-1995 dengan 26 gol. Saat itu pemain berjuluk Batigol ini berusia 26 tahun. Diego Maradona menjadi capocannonieri saat membela Napoli pada musim 1987-1988 dengan 15 gol. Saat itu Maradona berusia 27 tahun.

Memang ada orang Argentina yang jadi capocannonieri lebih muda dari Icardi. Dia adalah Antonio Valentin Angellilo yang jadi pencetak gol terbanyak di musim 1958-1959 dengan 33 gol. Angellilo jadi pencetak gol terbanyak di usia 21 tahun. Namun, Angellilo tidak murni berwarganegara Argentina karena dia juga pernah memperkuat Timnas Italia selain juga pernah memperkuat Timnas Argentina. 

Selain pernah jadi capocannonieri muda, Icardi juga didapuk jadi kapten Inter Milan. Dia dipercaya jadi kapten sejak tahun 2015 saat usianya 22 tahun. Maka di Inter Milan Icardi menorehkan dua hal penting, yakni tajam dan jadi pemimpin di usia belia. Jika ukurannya adalah kepemimpinan di klub, maka Icardi lebih hebat dari Messi. Sebab, Messi baru jadi pilihan kedua kapten Barcelona setelah Andres Iniesta. 

Nah, terkait Icardi, Sampaoli
pun sudah tebal telinga. Dia memanggil Icardi saat Argentina berujicoba melawan Brazil pada Juni 2017. Ketika Sampaoli memanggil Icardi pun, tak ada suara lantang Maradona untuk memprotes, adem-ayem saja. Bisa jadi Maradona sudah 'dikondisikan', bisa jadi aura bengal Sampaoli mengecilkan nyali penantangnya. 

Ketika Icardi masuk skuat, maka bahasan yang muncul adalah apakah Icardi bisa main bareng dengan Messi? Jika ukurannya adalah sama-sama pernah di satu klub, harusnya keduanya bisa akur. Icardi pernah berbaju Barcelona pada tahun 2008-2011. Hanya saja saat itu Icardi masuk di Barcelona junior yang tentu tak satu tim dengan Messi yang sudah di tim utama Barcelona.

Tapi persoalan keduanya adalah tentang kasus perselingkuhan. Benar saja, saat berlatih jelang laga melawan Brasil, ada saja media yang menggambarkan Messi dan Icardi tak akur. 

Sampaoli memang memanggil Icardi.
Tapi dia tak memainkan Icardi saat laga melawan Brasil. Icardi hanya jadi penghangat bangku cadangan. Bahwa Sampaoli menabrak kebijakan terdahulu dari Martino dan Bauza dengan memanggil Icardi, memang benar adanya. Tapi Sampaoli tak memainkan Icardi bersama dengan Messi. Bisa jadi Sampaoli memang tak berniat memainkan Icardi, bisa jadi karena dia hanya ingin mengetahui reaksi pemain Argentina ketika ada sosok kontroversial Icardi di skuat, atau bisa jadi Messi dan yang lainnya menekan Sampaoli agar tak memainkan Icardi.

Kini Argentina dihadapkan pada empat laga sisa kualifikasi Piala Dunia 2018. Jika hasil negatif maka Argentina bisa jadi gagal lolos ke Rusia tahun depan. Perlu diingat saat ini Argentina ada di posisi lima klasemen sementara. Padahal hanya empat teratas klasemen akhir yang otomatis lolos ke Rusia. Posisi lima klasemen akhir harus melalui playoff agar bisa dapat tiket ke Rudia.

Nah, empat laga sisa kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Amerika Selatan akan jadi bukti. Apakah kebengalan Sampaoli bisa mendobrak dominasi Messi sentris dan Argentina tanpa Icardi. Atau Sampaoli hanya mengikuti pendahulunya dengan melanggengkan Messi sentris dan Argentina tanpa Icardi. Atau justru Sampaoli bisa mengompromikan antara Messi sentis dan Argentina secara tim serta mengompromikan antara pihak anti dan pro Icardi. 

Tinggal kita lihat saja apakah Sampaoli akan tegar dengan aura pemberontakannya? Seperti kata-kata tato yang terlilit di lengannya seperti dikutip dari juara.net, 'No escucho y sigo, porque mucho de lo que esta prohibito me hace vivir' atau yang artinya 'saya menolak mendengar apalagi menjadi pengikut, karena yang terlarang itu memenuhi jiwa dengan kehidupan'. (*)

Kholil Rokhman

/kholilrokhman

Berusaha menyelami sederhana. Suka yang berbau Timnas Sepak Bola Argentina.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL bola

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana