Kholil Rokhman
Kholil Rokhman swasta

Berusaha menyelami sederhana. Suka yang berbau Timnas Sepak Bola Argentina.

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Memotret si Cerdas, Fernando Redondo

13 Juli 2017   17:09 Diperbarui: 13 Juli 2017   17:23 248 1 1

Pada 19 April 2000, puluhan ribu pasang mata di Old Trafford menjadi saksi, bagaimana sihir si lelaki kurus itu. Menggesek bola dengan tumitnya, membuat lelaki petarung bernama Paul Scholes kelimpungan. Lalu, setelah mengelabui The Ginger Prince, dia menyodorkan bola dengan kaki kirinya, kaki yang jadi penanda betapa cerdasnya dia di lapangan.

Bola itu bergulir, tak bisa dijangkau oleh tembok kokoh Manchester United bernama Jaap Stamp. Bola menusuk di tengah kotak penalti. Kemudian, Pangeran Bernabeu, Raul Gonzales tinggal mencocor bola ke dalam gawang yang dijaga Raimond van der Gouw. Goooolllll!

Aksi lelaki kurus itu dikenang sebagai satu di antara permainan brilian yang dia tunjukkan bersama Real Madrid. Ya, dialah Fernando Redondo, gelandang jangkar Madrid asal Argentina.

Fernando Redondo bukan seperti beberapa pesepak bola yang lahir di lingkungan jelata, seperti legenda Diego Maradona. Dia tak seperti Diego Maradona. Maradona, lahir dan besar di jalanan. Maradona, berlatih sepak bola di jalanan, sampai kemudian, aksinya direkam dan jadi perbincangan. Tapi Redondo, adalah anak yang lahir dari keluarga berada.

Redondo lahir dari keluarga berada di daerah Villa Fiorito. Memiliki rumah elegan di perbukitan. Jika Maradona sudah berada di jalanan dan memulai karier di usia muda, tak seperti Redondo. Kala Carlos Bilardo memanggilnya untuk masuk skuat Piala Dunia 1990, Redondo menolak.

Ada dua alasan mengapa pemain kelahiran tahun 1969 itu tak mau masuk skuat Argentina. Pertama, karena Redondo tak suka dengan filosofi permainan pelatih Carlos Bilardo. Bilardo membangun Timnas Argentina di tahun 1990 sebagai tim dengan pertahanan luar biasa dan melakukan serangan balik untuk mendapatkan kemenangan. Aksi defensif tim Argentina tak cocok dengan filosofi Redondo. Dia mengaku suka dengan cara Cesar Luis Menotti, pelatih Argentina saat juara Piala Dunia 1978.

Menotti adalah tipikal pelatih yang suka dengan sepak bola menyerang. Karena alasan filosofi sepak bola itu, maka Redondo menolak pinangan Bilardo. Penolakan itu yang kemudian membuat Maradona berang. Maradona bilang bahwa Redondo adalah 'anak manja'. Sebutan yang tentu juga berdasar pada kondisi ekonomi keluarga Redondo.

Alasan kedua yang membuat Redondo menolak pinangan Bilardo adalah karena dia memilih untuk berkuliah. Zonacesarini.net menyebut jika Redondo kala itu memilih kuliah di jurusan ekonomi dan bisnis. Sumber lain menyebut jika Redondo memilih kuliah di jurusan hukum. Redondo adalah seorang mahasiswa yang memiliki nilai bagus.

Pada 1993, Redondo memilih mau menjadi bagian skuat Argentina. Kala itu, Redondo ikut membawa Argentina juara Copa Amerika. Maradona? Tentu tak ada di skuat karena baru selesai berkutat dengan sanksi tak boleh main sepak bola karena narkotika.

Adalah Alfio Basile yang kemudian membuat Redondo dan Maradona bisa bersatu di Piala Dunia 1994. Saat itu, Maradona adalah otak serangan dan Redondo adalah jembatan antara lini belakang dengan lini tengah. Kolaborasi keduanya mampu membuat Argentina bermain bagus di dua laga awal. Kala itu, Argentina mampu mengalahkan Yunani 4-0 dan Nigeria 2-1. Namun, Maradona kena kasus. Dia kedapatan memakai ephedrine. Alhasil, di laga selanjutnya Argentina limbung. Redondo tak punya partner di lini tengah.

Sebagai seorang pemain sepak bola, nama Redondo melambung kala berada di Real Madrid. Dia mampu menjadi gelandang yang mengatur irama permainan. Kekuatan dan kemampuan kaki kirinya telah banyak memakan korban. Dia menjadi tumpuan untuk menjadi penghalang pertama serangan lawan dan orang pertama yang bisa mengarahkan ke mana penyerangan akan dilakukan.

Bersama Real Madrid, Redondo ikut merasakan juara Liga Champions 1998 dan 2000. Namun, di tengah namanya yang melambung, Redondo memiliki konflik dengan Daniel Passarella, pelatih Argentina di Piala Dunia 1998. Passarella memilih tak memanggil pemain yang berambut gondrong. Redondo yang gondrong pun akhirnya memilih menepi dari panggilan Passarella.

Karier Redondo diakhiri di AC Milan. Sayang di klub itu dia tak mampu memberi banyak kontribusi karena cedera. Redondo memang bukan pemain sepak bola sembarangan. Selain menendang kulit bundar, dia sering menghabiskan waktunya membaca karya sastrawan terkemuka Argentina, Jose Luis Borges dan penulis "Selamat Jalan Tuan Presiden" asal Kolombia, Gabriel Garcia Marquez. (*)