Jangan Haramkan Regenerasi Di PSSI

13 Juni 2012 06:22:10 Dibaca :

Menilik sejarah Indonesia, melihat perjuangan para pemuda-pemuda Indonesia dalam mengusir penjajah. PSSI yang dibentuk oleh sekelompok pemuda yang dipelopori oleh Ir.Soeratin, menjadi alat perjuangan bangsa pada masa penjajahan. Seorang Presiden Soekarno pernah berucap, “Beri aku seribu orang, dan dengan mereka aku akan menggerakkan Gunung Semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada Tanah Air, dan aku akan mengguncang dunia”

Ketika kita berbicara tentang Olahraga, kita akan berfikir tentang generasi muda. Di setiap cabang olah raga manapun sudah ada aturan untuk memberi kesempatan kepada atlet dari Anak Muda yang punya potensi di bidang masing-masing, adanya pembagian kelompok umur di setiap cabang menunjukan keterlibatan atlet muda sudah di akomodasi. Setelah atlet muda ini berprestasi seterusnya mereka di naikan ke kelompok yang umurnya lebih senior,begitulah seterusnya sehingga regenerasi tidak putus putusnya.

Regenerasi menjadi kunci pokok dalam sebuah Inovasi. Namun, jika regenerasi menjadi hal yang wajib dalam olahraga, apakah dalam Organisasi Olahraga juga pernah diterapkan seperti itu?

Delapan tahun sudah Sepakbola Indonesia terkungkung dalam sebuah lingkaran yang di isi oleh orang-orang yang sama. Tanpa ada regenerasi, sosok Joko Driyono, Tony Apriliani, Hinca Panjaitan dan beberapa yang lainnya adalah orang yang berada dalam lingkaran delapan tahun tanpa Regenerasi. Setelah era delapan tahun kepemimpinan Nurdin Halid usai, kini mereka muncul lagi dengan membentuk formasi baru dengan label KPSI, yang orang-orangnya tidak jauh berbeda dengan era yang lalu. Apakah organisasi sepakbola Indonesia tetap diharamkan beregenerasi?

Pasca Kongres di Solo, terpilihnya Profesor Djohar Arifin Husin memberikan warna baru dalam sepakbola Indonesia.Banyak generasi-generasi muda yang dimasukan dalam kepengurusan PSSI. Namun, ternyata masih banyak orang-orang lama yang masih bercokol didalam dan menghambat Inovasi yang dilakukan oleh generasi muda. Dan orang-orang lama seperti Joko Driyono, Hinca Panjaitan serta Toni Apriliani menyerang dari luar dengan KPSI nya.

Setelah penandatanganan  Nota Kesepakatan antara PSSI, ISL dan KPSI ada peluang untuk memasukan  gernerasi muda lagi dalam Kepengurusan Organisasi Sepakbola Indonesia. Di Exco utusan KPSI dan di anggota Join PSSI Committee ada peluang bagi anak muda untuk mengisi posisi tersebut. Dengan adanya kepercayaan kepada anak muda masuk ke dalam kepengurusan Sepakbola Indonesia akan ada gerakan yang menggambarkan jiwa dari anak muda yang ekpresif, progresif,responsif,punya mobilitas tinggi.Pikiran pikiran dari anak muda cenderung tidak monoton dan selalu mendobrak kekakuan karena desakan jiwa muda mereka.Para orang tua hanya bertugas mengontrol  mereka agar tetap berada di jalur aturan dan mekanisme yang ada dalam organisasi.

Beranikah kepengurusan PSSI yang sekarang ini berinovasi dengan menjegal orang-orang lama masuk kepengurusan dan menggantinya dengan generasi yang lebih muda?

Beranikah generasi muda bersiap menjadi calon-calon pemimpin sepakbola di masa depan? Menjadi calon pemimpin yang bersedia melayani masyarakat pecinta bola dengan mata, telinga dan hatinya. Pemuda harus siap menjadi pemimpin yang responsif dan cekatan dalam membantu setiap persoalan yang dihadapi masyarakat pecinta sepakbola dan masyarakat lain di sekitarnya.

Jangan batang kayu diganti dengan batang kayu, tapi gantilah dengan tunas yang baru.

Khoirul Triyana

/khoirul.triyana

Pecinta Sepakbola Tanpa Politik
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?