Khairrubi
Khairrubi Indie writer wanna be

Sejenak menepi dari pergulatan materialisme. Kemudian menulis, kritis, bebas.

Selanjutnya

Tutup

Sekeping Romansa Tertinggal di Jogja

12 Mei 2017   05:08 Diperbarui: 12 Mei 2017   08:46 40 0 0
Sekeping Romansa Tertinggal di Jogja
lemerg.com"

Sebagian orang menganggap Jogja biasa saja, tak lebih seperti kota lainnya. Lain cerita jika masih ada 'rasa' yang membekas, tertinggal nuansa cinta yang masih menggelayuti hati hingga kini. Silahkan saja beri stempel saya melow, cengeng, lebay, terserahlah mau bilang apa. Yang belum pernah merasakan mencinta dan dicinta sewajarnya tak menghina. Kalian belum paham betapa berartinya Jogja di mata saya, karena ada sekeping romansa yang takkan pernah saya lupa. Jogja jadi saksi saat cinta tulus itu terpatri. Biarkan saya bertutur disini, tuan baca saja tulisan ini tanpa perlu menghakimi. Biarkan opini mengalir sendiri dari lubuk hati.

Pernah pada suatu masa, saya tinggal di Jogja lima bulan bersamanya. Satu kata saja untuk menggambarkan semua romansa itu, indah. Dua orang anak manusia berstatus duda dan janda baru saja meresmikan hubungan mereka lewat sebuah seremonial sederhana. Tak ada pesta glamour, tak ada taburan bunga, tak ada hidangan mewah. Hanya seuntai kalimat ijab kabul penuh makna, bahwa saya harus membahagiakannya. Sebulan saling mengenal, sudah cukup bagi saya untuk langsung meminangnya. Kesamaan pandangan untuk menggapai ridha Nya, buat kami berdua tak perlu menunda untuk menyatukan raga dan rasa.

Kegagalan pernikahan pertama tak buat kami trauma akan kata cinta. Perkenalan di Surabaya sebulan yang lalu akhirnya membawa kami bersatu. Perbedaan usia, budaya dan gaya hidup tak menghalangi kami untuk saling mempercayai. Bukan lagi semata fisik apalagi materi yang jadi landasan merajut mimpi, lebih dari itu kami sama-sama ingin memperbaiki diri, mencari ridha illahi.

Pernikahan kami tercatat di Balikpapan. Di kota minyak itu kami berikrar untuk saling setia. Cukup sebulan saja kami disana, meski kehidupan bergelimang harta benda, tapi entah mengapa seperti ada yang tak sempurna. Cinta disita oleh pekerjaannya, acapkali ia mesti bertugas keluar kota untuk jangka waktu yang lama. Suatu malam saya ungkapkan kegalauan, termyata ia merasakan hal yang sama. Bukan pernikahan seperti ini yang kami inginkan, saling berjauhan, waktu habis buat pekerjaan. Kalau begini terus apa bedanya dengan pernikahan pertama? Bukan materi lagi yang kami cari, tapi pertaubatan. Bagaimana pernikahan bisa mendekatkan kami dengan sang Khalik. Kegagalan pertama sudah cukup jadi pelajaran yang berharga buat kami berdua. Takkan pernah ada yang kedua! Kami harus tetap bersama hingga masa tua menyapa.

Dan Cinta pun tak ragu mengambil tindakan, segera ia resign meninggalkan jabatan, fasilitas dan karirnya di perusahaan minyak ternama. Ia patuhi keinginan suaminya tanpa debat atau adu argumentasi terlebih dahulu. "Inggih mas", singkat saja ia menjawab mengalir tanpa beban dengan senyuman. Seminggu kemudian, kami berdua terdampar di Jogja. Sebuah desa di daerah Kulonprogo jadi pilihan kami untuk mulai merajut asa, jauh dari hingar bingar kota.

Segera kami bergerak, memulai dan menata semuanya dari awal lagi. Sebuah rumah mungil jadi tempat kami melepas lelah setelah seharian menjalani rutinitas pekerjaan masing-masing. Yang pasti tiada lagi perpisahan berhari-hari lamanya. Sebelum maghrib menjelang, kami biasanya sudah berkumpul dirumah, bersenda gurau, menikmati tiap kesederhanaan yang singgah menyapa. Kami syukuri nikmat illahi dengan mengucap syukur kepada sang Khalik. Inilah bentuk kehidupan yang diinginkan oleh kami berdua, sederhana saja tak perlu berlebih harta benda yang penting bisa selalu bersama. Cinta terlihat bahagia, wajahnya sering tenggelam dalam dekapan peluk mesra suaminya. Tatapan hangat itu tanda keikhlasan seorang istri berbakti, saya kecup keningnya sambil menggumam, "terimakasih ya Allah, terimakasih... Saya tak perlu bidadari Mu di surga, cukup kiranya ia yang jadi pendampingku didunia maupun diakhirat kelak".

Banyak tempat kami jelajahi bersama di Jogja. Saya masih ingat betapa cinta suka sekali dengan sebuah warung gudeg di pasar beringharjo, naik becak mengitari malioboro, bersepeda berdua di sekitaran kampus UGM, menemani ia melahap sushi di salah satu restoran Jepang jalan Gejayan, habiskan malam minggu dengan nonton midnight movie atau sekedar lesehan menikmati wedang jahe sambil menyesap dinginnya kaliurang. Sejatinya saya masih ingat semua detail perjalanan hidup dengannya.

Entah kenapa kebahagiaan itu tak bisa permanen atau setidaknya bertahanlah hingga raga ini menua, saya seperti hanya dititipi nikmat sesaat saja. Tanpa ada gejala berarti cinta jatuh sakit, tak sadarkan diri lima hari, kemudian ia menghadap sang illahi. Seminggu sebelumnya ia masih tertawa ceria di kebun bunga, tak ada keluh kesah, hanya bahagia dan manjanya yang menggoda.

Kehilangannya menggoyah akidah. Sederet pertanyaan kenapa, kenapa, kenapa, ditujukan pada sang Pencipta. Pada akhirnya saya temukan jawaban, semuanya ternyata hanya titipan. Kebahagiaan dengannya begitu singkat, cuma enam bulan menikmati limpahan kasih sayangnya. Apa mau dikata, cinta sudah pergi untuk selamanya, mungkin di akhirat nanti kami akan dipersatukan lagi.

Segera saya lari menjauh! Terlalu banyak romansa di Jogja yang tak bisa dihadapi sendiri. Akhirnya Jakarta jadi tempat pelarian menenangkan diri, reset kehidupan dari awal lagi. Nyatanya Jakarta malah merusak jati diri, hingga saya kadang bertanya sendiri dalam hati, kenapa bisa jadi begini?
Tuan boleh anggap ini roman picisan, hanya sekedar kisah seorang pria melankolistik yang tak siap hadapi getirnya kehidupan. Jutaan manusia didunia tiap hari dihadapkan pada tragedi, ditinggal mati orang yang dicintai atau mesti berpisah dengan sosok yang disayangi. Sejatinya hidup memang mengandung sejuta misteri, segudang rencana bisa berubah sekejap kemudian berganti dengan luka dan prahara. Dengan kegilaan semuanya bisa dihilangkan, namun ternyata cinta tulus seorang wanita memang susah sekali untuk dilupakan.

Tuan boleh saja memandang hina, saya terima dengan segenap jiwa. Tak ada lagi rasa sakit menerima cacian, toh sudah pernah mengalami luka yang lebih dalam dari sekedar sayatan. Saya doakan semoga tuan peroleh waktu sejenak rasakan hadirnya cinta didunia, agar bisa rasakan apa yang saya ceritakan. Berharaplah cinta itu hadir sedikit agak lama, paling tidak menemani tuan hingga usia mencapai tepian. Tak ada alasan menanggung kesedihan berkepanjangan, selalu ada tawa dan senyum sapa dari manusia-manusia lainnya. Berpisah memang sudah jadi ketetapan sebagai hasil akhir dari sebuah pertemuan, buat apa sedu sedan tak berkesudahan? Nikmati saja semua proses kehidupan sebagai pendewasaan mental dan spiritual.

Jogja hadirkan sekeping romansa yang takkan saya lupakan. Setelah hampir dua tahun tak pernah injakkan lagi kaki disana, hari Sabtu esok saya berniat menghadapi realita, mengumpulkan keberanian untuk napak tilas romansa percintaan. Lagipula ada kegiatan Kompasiana yang tawarkan keceriaan, siapa tahu akan hadirkan kejutan-kejutan, bertemu sosok menawan yang kelak bisa jadi pujaan. (RUB)