Khairrubi
Khairrubi Indie writer wanna be

Sejenak menepi dari pergulatan materialisme. Kemudian menulis, kritis, bebas.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Ibu Mega dan PDIP

11 Januari 2017   18:20 Diperbarui: 11 Januari 2017   18:25 200 0 0

Bahasanya tak pernah 'tinggi', mudah dipahami seperti ibu-ibu yang lagi ngerumpi. Tingkat intelektualitasnya juga biasa-biasa saja, terasa jika si ibu sudah berbicara. Namun jangan ragukan kapabilitasnya dalam mengelola riak badai konflik, baik itu di internal PDIP maupun percaturan politik nasional.

Kebayang ribetnya bukan main mengelola partai sebesar PDIP, dengan elit dan kepengurusan lintas agama, ideologi, suku, ras dan kepentingan. Megawati tak cuma sekedar pimpinan partai, si ibu mungkin sudah jadi manusia setengah dewa bagi para pemujanya. Jika bu mega sudah bersabda, otomatis riak-riak yang semula riuh dalam partai akhirnya menyepi, senyap seketika. Tak banyak manusia dengan kemampuan meng-agitasi seperti ini. Wanita lagi!

Masih ingat ketika pencalonan ahok belum mencapai kata sepakat. Internal PDIP bak kopaja ngebut serong kiri kanan. Pro kontra ahok menjadi friksi yang kemudian berlanjut dengan saling serang opini di media massa.
Dan ketika detik-detik batas akhir pencalonan, muncul 'fatwa' ibu mega; PDIP resmi mencalonkan ahok-djarot di Pilgub DKI Jakarta tahun 2017. Seketika hiruk pikuk tadi hilang, berganti semangat kebersamaan seluruh elit partai untuk memenangkan sang incumbent.

Saya sudah menduga. Seperti sebelumnya, ricuh di PDIP cuma temporary sifatnya. Banyak buku yang membahas tentang manajemen konflik. Dan saya rasa megawati sudah khatam berkali-kali. Sang ibu sudah hafal diluar kepala tentang ratusan teori manajemen konflik. Dia tak lagi berada dalam level teoritis, tapi sudah menginjak tataran practice. Hal ini yang tidak dimiliki oleh anak-anak biologis Soekarno yang lain, juga tak dimiliki oleh elit parpol diluar PDIP.

Tak bisa dipungkiri, ada elit PDIP yang akhirnya bersebrangan dan memilih hengkang akibat tak sepaham dengan kebijakan megawati. Sebut saja kwik kian gie dan laksamana sukardi. Pak kwik memilih mundur baik-baik, penyebabnya apa tak pernah jelas. Laksamana juga lakukan hal yang sama. Dan ketika telah berpisah dari moncong putih, kesamaan antara orang-orang yang terbuang ini ialah tak satupun dari mereka yang mengkritik, membuka aib, apalagi bersuara keras terhadap kepemimpinan megawati. Singkatnya mereka tak setuju dengan policy partai, menulis surat resign, kemudian kabur menjauhi politik dengan mulut tetap terkunci rapat.

Bandingkan dengan partai-partai yang lain. Golkar dari dulu tak pernah punya pemimpin kharismatik. Perbedaan dalam internal partai selalu berujung pada hengkangnya sekelompok elit yang kemudian mendirikan partai baru. Demokrat juga sami mawon, sang bos besar SBY bahkan dilawan secara frontal oleh kader-kader yang dulu dibesarkannya. Sebut saja anas urbaningrum yang akhirnya menjadi duri dalam daging, seakan kanker yang menjalar pelan-pelan merusak soliditas partai. SBY bahkan di usia senjanya merasa harus tungun tangan (lagi) mengurus partainya sendiri. Apalagi ketika anak yang diharapkan dapat meneruskan estafet kepemimpinan, ternyata belum benar-benar mandiri. Ibarat kata makan masih disuapi, kencing pun masih diajari.
Golkar dan Demokrat, dua partai yang berhaluan sekuler sama persis dengan PDIP. Namun kedua partai itu tak pernah menemukan sosok pemimpin yang benar-benar kharismatik.

Dibalik sifat kewanitaannya yang mudah ngambek, nesu, merajuk, terselip jiwa kepemimpinan sang proklamator. Ya, si anak memang tak sepintar bapaknya. Tapi melihat gayanya dalam menahkodai partai sebesar PDIP, megawati jelas punya 'sense of belonging' tersendiri yang pada akhirnya membedakan ia dengan sang bapak biologis.
Salut buat bu Mega!