Kevinalegion
Kevinalegion Content and Community Officer of Kompasiana

Get along between Touring, Cycling, Football dan Food. instagram.com/kevinalegion

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara highlight

Mengapa Ahok Sebaiknya Mundur Sekarang!

20 April 2017   13:11 Diperbarui: 20 April 2017   13:24 3089 34 33
Mengapa Ahok Sebaiknya Mundur Sekarang!
Foto: gozzip.com

Sebelumnya, selamat buat seluruh warga berKTP Jakarta, maupun warga yang numpang mencari nafkah di ibukota. Setiap 5 tahun sekali, kalian punya Gubenur baru, ibarat memiliki sebuah mobil, waktu 5 tahun memang sudah out of date, pilihannya adalah mengganti mobil baru atau memodifikasi mobil tersebut agar terlihat lebih segar dan ada suasana baru. Tapi kali ini warga Jakarta lebih memilih untuk mengganti mobil baru. Oke, tidak masalah, karena siapapun berhak soal pilihannya.

Bagi pendukung Ahok, tak perlulah kecewa berlebihan, nangis darah, mau pindah dari Jakarta, tidak mau mengakui hasil quick count, bahkan hingga mau potong payudara. Menjadi rasional adalah pilihan tepat di dunia yang penuh teka-teki ini. Siapapun Gubernurnya mau Ahok ataupun Anies, Jakarta akan berjalan seperti biasanya, perbedaannya hanyalah mana yang bisa menggeber Jakarta lebih cepat atau standar-standar saja, mungkin juga berdiam di tempat. Jika membayangkan Jakarta ketika dipimpin Anies akan jatuh, mundur, bla..bla..bla, janganlah sampai phobia berlebihan, wong Banten Gubernur enggak ada yang beres saja pun, warganya tetap hidup seperti biasa. Bedanya adalah Banten ya cuma begitu-begitu saja tanpa pergerakan signifikan. Sama halnya Jakarta yang akan dipimpin oleh Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, mereka belum kerja kok sudah dibayangkan yang enggak enak-enak. Optimis dulu, evaluasi kemudian.

Setelah kekalahan Agus di putaran pertama, rasanya putaran kedua pun sudah cukup tertebak Ahok akan sulit meraih pemilih Agus yang mayoritas akan berpindah secara signifikan ke kubu Anies. Jika Ahok tidak mampu meraih 50% di putaran pertama, sebenarnya sudah dapat dipastikan dia akan kalah di putaran kedua. Saya pun menikmati kekalahan Ahok dengan semangkuk Mie Ayam Wonogiri yang jadi bahan taruhan saya dengan rekan. Kesempatan Ahok hanya ada di putaran pertama, karena suara mayoritas muslim terbagi di dua pilihan.

Setelah mengetahui hasil quick count, dengan perolehan angka yang cukup terpaut jauh rasanya sulit hasil real count akan mengubah posisi secara signifikan. Walaupun belum diresmikan, Anies Sandi kemungkinan besar adalah Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta paling anyar untuk seluruh warga Jakarta, iya Gubernur sah pendukung Pro maupun Kontra. Rasanya tugas pemilih sekarang adalah bukan lagi untuk mempromosikan jagoan mereka, maupun menjelekan musuh yang dijagokan, tugas warga Jakarta adalah mengawasi, ikut mengevaluasi, dan menagih janji program-program yang sudah dijanjikan pada proses kampanye. Jangan sampai ada perkataan nyinyir "milih enggak, kok nagih-nagih", yang begini ya lucu, namanya warga ya semuanya berhak diberlakukan dengan adil dan sama, termasuk menagih program yang sudah dijanjikan walaupun tidak setuju dengan program tersebut sekalipun.

Saya rasa program yang ditawarkan Anies Sandi tak kalah menarik dibandingkan Ahok, programnya bisa dibilang sangat "menjanjikan" dan mampu menyenangkan hati siapapun yang mendengarkannya, walaupun kurang rasional sekalipun. Dan sebagai warga luar Jakarta yang turut terimbas dengan riuh pilkada sampai-sampai konflik keluarga hanya gara-gara pilkada, rasanya saya juga berhak untuk memberikan deretan program yang sudah dijanjikan sebagai catatan ke depan, apakah program ini akan terealisasi ataupun tidak. 

Warga Jakarta, selamat mengawasi deretan program "menjajikan" Anies Sandi!
Enjoy...

***

Program KPR DP 0%

Ilustrasi: shutterstock.com
Ilustrasi: shutterstock.com

Untuk para pendukung Ahok, stop nyinyir dengan program yang sebenarnya irrasional jika diberlakukan di Jakarta ini. Bukankah seharusnya kalian lebih senang, program ini akhirnya dipilih oleh warga Jakarta untuk mensejahterakan seluruh penduduk Jakarta. Walaupun sebenarnya saya sendiri agak ragu apakah warga menengah ke bawah mampu mencicil rumah seharga 350 juta. Pada program DP 0 rupiah, warga atau konsumen yang ingin mendapatkan fasilitas tersebut harus terbukti mampu menabung sebanyak Rp 2,3 juta per bulan selama enam bulan.

Boro-boro 2,3 juta, cicilan motor 700ribu saja pun, masih banyak warga yang masih menunggak. Sejak awal program ini diluncurkan, sebenarnya saya jadi agak bingung apakah sudah tersinkronisasi dengan rencana program jutaan rumah yang dicanangkan pemerintahan pusat dan PUPR, alasan Presiden dan PUPR membangun rumah-rumah murah dengan harga seratus jutaan bagi saya adalah solusi terbaik soal tempat tinggal bagi warga miskin tak hanya Jakarta, tapi seluruh Indonesia. Harapannya adalah warga tidak lagi-lagi Jakartasentris, karena rumah murah ini dibangun benar-benar memanfaatkan lahan yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai jual, di pinggiran terluar Bodetabek. Program ini seperti bertentangan, mengarahkan siapapun untuk kembali Jakartasentris. Menjadikan orang mengurungkan niat untuk memiliki rumah di pinggiran Bodetabek, dan membangun kehidupan yang dahulu dianggap "mati".

Tapi, tak apa, inilah program yang mungkin bisa jadi angin segar untuk tetap bisa tinggal di Jakarta. Karena ini adalah program pendanaan, mulai dari sekarang silakan hunting rumah 350 juta di Jakarta, dan ajukan dengan program DP 0 rupiah, clue yang sudah diberikan Anies adalah hunting di website Rumah123, kalau enggak dapat ya cari terus dan terus sampai dapat. Dan bantu informasikan kami warga luar Jakarta apakah program ini berjalan atau tidak, siapa tahu kita bisa urus KTP juga ke Jakarta. Tapi dengan harga 350 juta, seandainya Anda tidak akan dikenakan bunga sekalipun --karena jika kena bunga hukumnya Riba bagi umat muslim--, setiap debitur wajib membayarkan cicilan sekitar 2 juta setiap bulannya. Apakah warga miskin sanggup? Saya tidak tahu. Iuran rusun sebesar 350 ribu pun banyak yang menunggak. Tapi bank atau developer mana yang berniat untuk beramal kepada jutaan warga Jakarta, bekerja sukarela tanpa bayaran?

Jika mau berpikir efisien, rumah subsidi yang ditawarkan pemerintah pusat jauh lebih ringan bagi warga menengah ke bawah dibandingkan Anda harus maksa tinggal di Jakarta, cicilan per bulannya hanya sekitar 900 ribu.

Balik lagi, program ini ditujukan untuk siapa? Warga miskin atau mampu? Saya tidak tahu, silakan bantu awasi siapa yang akhirnya sanggup untuk mencicil rumah di Jakarta.

Stadion Sepakbola "Old Trafford" di Jakarta

Foto: Kompas.com
Foto: Kompas.com
Siapa yang tidak tergiur dengan program ini, saya yakin bukan hanya Jakmania yang berbungah ketika mendapatkan janji ini, semua pencinta sepakbola pun akan menantikan hal ini sebagai alternatif dari stadion GBK.

"Kami akan bangun stadion 18 bulan setelah kami dilantik. Kami akan bangun stadion berkelas, seperti Manchester United. Rumputnya seperti Old Trafford dan kursinya seperti Allianz Arena milik Bayern Munich," kata Sandiaga ketika memaparkan program ini kepada seluruh Jakmania. WOW!

Jakmania memang cukup "seksi", untuk dijadikan alat pendulang suara, jumlahnya tidak sedikit. Bahkan dengan program yang dijanjikan ini mampu menggerakan anak-anak abegeh baru punya KTP yang dahulu sangat anti politik, menjadi ingin menggunakan suaranya demi stadion klub tercinta. Tapi lagi-lagi warga Jakarta, jangan lupakan program yang sudah dijanjikan ini, Jakmania saya yakin tidak akan lupa. 18 bulan setelah dilantik Sandi dan tim hukum berjanji akan menyelesaikan sengketa Taman BMW dengan mudah, dan proses pembangunan akan berjalan. Ingat lokasinya Taman BMW, jika dihitung 18 bulan dari pelantikan pada Oktober 2017, April 2019 stadion yang akan jadi kebanggan Jakmania ini akan mulai dibangun. Selesainya kapan? Kita belum tahu, mungkin tunggu dua periode seperti yang sudah-sudah.

Berapa biaya membangunnya? Apakah melibatkan swasta? Kita belum tahu penjelasan rincinya, mudah-mudahan jika mengunakan dana APBD, dananya masih cukup dan tidak kehabisan karena subsidi pendanaan DP 0 rupiah.

Stop Reklamasi?!

Foto: KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
Foto: KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Sebagai rakyat awam, pasti bingung apa sih gunanya reklamasi. Apakah dalih melindungi Jakarta bisa terbukti atau hanya karena ada nilai ekonomi yang dikejar dari proses tersebut. Saya sendiri pun belum tahu pasti, dan yang saya tahu pun reklamasi sudah berjalan cukup lama khususnya yang saya tahu di pingir pantai wisata Ancol. Proses pemindahan pasir sebenarnya sudah berjalan sangat lama, bahkan lucunya dulu proses reklamasi dianggap sedang menambang pasir.

Isu reklamasi menjadi bahan paling seksi yang ada di pilkada. Kata kunci yang sering menjadi pelengkap pamungkas kalimat adalah "Pro pengembang atau pro nelayan", paling ganas deh ini kalimat. Pengembang selalu dicap sebagai "musuh", "orang kaya berduit", sementara nelayan selalu dicap sebagai pihak yang paling "miskin" dan tertindas. Pilihan paling culas adalah ke nelayan. Mengapa? Karena secara citra orang akan dianggap sebagai pahlawan yang membela orang miskin. Soal nantinya proyek akan jalan atau tidak, itu urusan nanti. Yang terpenting rakyat bisa dijanjikan dulu, pengembang kemudian.

Anies Sandi bersikap untuk tolak reklamasi dengan dalih ada mata pencaharian nelayan yang tersingkir akibat reklamasi. Dan Jakarta punya Kepulauan Seribu sebagai "hiburan" pengganti pulau mewah reklamasi. Saya sendiri pun tidak mengerti apa dampak baik dan buruk reklamasi, tapi sebagai janji yang sudah diusung poin pentingnya adalah bagaimana nelayan bisa hidup sejahtera di utara Jakarta, bagaimana Kepulauan Seribu menjadi daya tarik wisatawan dunia. Ini yang harus ditagih nantinya seandainya Anies Sandi menepati janjinya untuk stop reklamasi. Nelayan dan Kepulauan Seribu harus sejahtera, nelayan mampu menjaring ikan dengan pendapatan yang melimpah, tidak terpapar limbah seperti sekarang, siapa sekarang yang mau makan seafood langsung di deretan rumah makan Muara Angke? sedikit? Ya itu realitas. Padahal dulu deretan rumah makan ini menjadi primadona untuk menikmati seafood segar. Jangan nanti sudah stop reklamasi, ujung-ujungnya nelayan juga tidak dapat apa-apa karena tidak ada langkah konkret untuk menanggulangi masalah limbah ini. Pernah lihat air laut di Muara Angke? atau sekitar Jakarta lainnya? Mau makan ikan dari situ? Eh.. ada apa enggak yah ikannya. Mmmhhh...

Rata-rata pun nelayan sudah harus bergerak sangat jauh dari daratan demi bisa menjaring ikan di Jakarta. Pendapatan nelayan sudah tidak signifikan? Ya iya, bahkan nelayan-nelayan yang dulu ada di Kepulauan Seribu saja pun memilih berhenti jadi nelayan dan beralih menjadi kapal wisata karena pendapatannya jauh lebih menjajikan. Ikan-ikan yang ada dibakar di pulau seribu dari mana? Mereka biasanya lebih memilih belanja dulu di perairan tangerang, padahal mereka tinggalnya di laut. Ironis? Iya, itu realitasnya. Bukan soal mereka bisa menjaring ikan atau tidak, tapi mana yang lebih menguntungkan untuk nelayan yang lebih harus dipikirkan. Jangan hanya janji stop reklamasi demi nelayan, tapi sehabis itu nelayan dibiarkan saja berusaha sendiri melawan limbah dan kebutuhan ekonomi.

Lanjut, Kepulauan Seribu yang diharapkan jadi primadona wisata Jakarta. Mudah-mudahan bang Anies dan Sandi, sudah menelusuri seluruh Kepulauan Seribu, dan lihat bagaimana progressnya sekarang. Dulu yang menjadi lokasi wisata favorit yang cukup worth it dengan dana sedikit kini berubah jadi pulau-pulau yang penuh dengan pengelolaan buruk soal sampah, yang masih cantik hanya tersisa pulau-pulau yang masih jarang terjamah orang. Mudah-mudahan tim oren dibekali dengan solusi konkret, soal pembersihan laut Jakarta. Dan, mudah-mudahan bang Anies dan Sandi juga tahu beberapa pulau di sana juga dimiliki pribadi.

***

Dan, masih banyak lagi Janji-janji yang saya bingung mana yang benar-benar rasional, mana yang lebih prioritas, huuufft. Agar tidak lupa silakan lakukan browsing menggunakan keyword "Program dan Janji Anies Sandi" di Google, mudah-mudahan tidak ada yang dihapus oleh media.

Inilah alasan mengapa Ahok sebaiknya mundur sekarang, tulus amat lu Hok menyelesaikan program-program unggulan lu demi warga Jakarta yang sudah enggan dipimpin sama lu. Kan masih banyak Provinsi lain yang juga seksi, tapi jangan di Banten yak. Karena belum nyalon aja lu sudah pasti tumbang, huehehe.

Seluruh warga Jakarta pasti sudah tidak sabar seberapa kontras perkembangan Jakarta untuk lima tahun ke depan, sama halnya era Foke yang kontras banget ketika era Jokowi-Ahok. Sudah enggak sabar kan, melihat rumah DP 0 di Jakarta, kalo bisa dapet sih maunya di HI sama Thamrin tuh rumah. Enggak sabar kan ada stadion Old Trafford di Jakarta biar enggak perlu lagi ke Manchester, bisa mancing ikan di Muara Angke, bisa melihat jutaan spesies ikan di pinggiran pulau Seribu, melihat seluruh ormas dapat bagian dana APBD, seluruh hotel esek-esek Jakarta ditutup, bukan hanya Alexis loh bang, ada Delta, Classic, ada yang oriental sampe Ubzek dll --Lah, kok gw tau yak. Mudah-mudahan enggak kalah galak sama jagoan di sana, yang kalo disuruh solat malah ngajak nge-bir bang. Kalo ngobrolnya santun, kayanya mereka malah ditambahin maboknya bang. 

Byyuuuuurrr..
"Baaanggguunnn piiinn, ngayal aja lo kerjaannya"

---

Toss!
Sukurin lu pada warge Jakarte :p