HIGHLIGHT

Seharusnya Perwakilan RI di Luar Negeri Malu Jika Mengabaikan BMI

19 Mei 2012 10:39:56 Dibaca :

Tulisan ini terinspirasi oleh artikel HL tanggal 15 Mei 2012 dengan judul Demo BMI Hongkong "Bukan" Tanpa Alasan yang ditulis oleh kompasianer Fera Nuraini. Jika apa yang disampaikan kompasianer Fera Nuraini adalah sebuah fakta, maka sikap pejabat atau staf KJRI di Hongkong yang "enggan" menemui para demonstran menimbulkan tanda tanya besar di benak saya. Karena penasaran akhirnya saya mencoba membuka-buka lagi, membolak-balik berbagai referensi yang menjelaskan fungsi perwakilan RI di luar negeri seperti yang tercantum dalam Keppres No. 108 tahun 2003.


Dalam keppres tersebut, kata-kata seperti "pengayoman", "bimbingan", "pelayanan", "perlindungan", "pemberian bantuan hukum", dan "menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan antar WNI" merupakan kata-kata yang sering di ulang-ulang ketika menjelaskan tentang Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) Perwakilan RI di Luar Negeri.



Jadi menjadi sangat aneh bagi saya, ketika ada BMI yang ingin menyampaikan aspirasinya tapi tidak ada staf atau pejabat KJRI yang bersedia untuk menemuinya. Setahu saya, di setiap KJRI ada konsul dan atase yang bertanggung jawab terhadap bidang tertentu. Misalnya, ada Atase Tenaga Kerja (Atnaker) yang bertanggung jawab mengenai permasalahan BMI. Ada juga bidang konsuler yang menangani masalah pengayoman, bimbingan dan perlindungan WNI. Jadi sudah menjadi KEWAJIBAN mereka untuk melayani WNI yang membutuhkan bantuan, apa pun dan bagaimana pun kondisi mereka. Mereka digaji dengan uang rakyat dalam jumlah yang  jauh lebih besar dibandingkan dengan gaji PNS di Indonesia, salah satu tugasnya adalah untuk "pengayoman", "bimbingan", "pelayanan", "perlindungan", "pemberian bantuan hukum" tanpa diskriminasi.


Karenanya cerita "abainya" nya para pejabat KJRI Hongkong untuk bertemu dengan BMI adalah bentuk pengingkaran terhadap TUPOKSI-nya. Apalagi, saat ini Indonesia sedang membangun diplomasi "elegan" yang membutuhkan sinergitas dan kerjasama antara pihak perwakilan RI di luar negeri dengan semua pihak. WNI yang sedang berada di luar negeri adalah ujung tombak bagi diplomasi itu sendiri. Mereka-lah orang-orang yang berinteraksi langsung, berkomunikasi langsung, berkarya langsung di negara penerima. Mereka-lah duta-duta bangsa yang berperan penting mengangkat harkat dan martabat bangsa. Jadi menjadi tidak masuk akal ketika "sang ujung tombak diplomasi" justru di terlantarkan dan diabaikan.


Sikap "abai dan acuh" para pejabat KJRI tersebut cukup mengusik emosi dan menimbulkan tanda tanya, sebenarnya Perwakilan RI di luar negeri menganggap BMI sebagai pahlawan devisa atau pabrik masalah?

Pertanyaan tersebut terpaksa saya ajukan karena dalam banyak kesempatan, pemerintah melalui DEPNAKERTRANS dan BNP2TKI mengakui bahwa BMI sebagai penyumbang devisa terbesar bagi negara, bahkan diperkirakan sumbangan devisa dari para BMI ini mencapai lebih dari Rp150 triliun. Jumlah ini jelas jauh lebih besar jika kita bandungkan dengan sumbangan pajak dari PT Freeport, yang lebih kecil dari devisa-nya para BMI tapi mendapatkan fasilitas yang "wah" seperti negara dalam negara. Lihatlah, pada saat menjelang lebaran, triliunan rupiah mengalir deras ke pelosok-pelosok desa dari para BMI. Seharusnya pemerintah berterimakasih pada BMI. Jasa BMI sangatlah besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional, misalkan 1 BMI pergi berarti 1 pengangguran hilang, 5 orang akan hidup layak dari kiriman uang BMI. Jadi bisa kita hitung, kalau misalkan ada 6 juta BMI seperti yang disampaikan oleh BNP2TKI berarti 30 juta orang terangkat dari kemiskinan karena aliran uang dari BMI tersebut.


Sayangnya, ketika ada "masalah" yang menimpa BMI di luar negeri, justru sikap "abai dan acuh" yang ditunjukkan oleh pihak perwakilan RI. Rupanya, alasan mendorong pertumbuhan ekonomi dan besarnya devisa dari BMI, belum mampu membuka mata perwakilan RI di luar negeri untuk memberikan perlindungan dan pelayanan terbaiknya kepada BMI dari perlakuan diskriminasi, dan diperlakukan tidak manusiawi.



Pertanyaan penutup sebagai bahan renungan, mengapa BMI yang telah berjasa menjadi pahlawan devisa dan menggerakkan roda ekonomi nasional justru sering diabaikan?

Ken Hirai

/kenhirai

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Bukan writer, bukan trainer juga bukan public speaker, hanya seorang petualang yang sedang mencari jalan pulang....Bismillah
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?