Malaikat Kedua

20 November 2012 03:19:01 Dibaca :

Oleh Ken Hanggara*)

Ini kisah tentang pertemuanku dengan seorang yang kuanggap ibundaku sendiri. Dia salah seorang motivator, inspirator, serta penyemangat yang membuatku bangkit dari cangkang. Yang membuatku keluar dari segala hal yang tadinya kuanggap tak mungkin dan tak pernah kulakukan. Memang kami belum pernah bertemu sekali pun di dunia nyata, hanya di facebook kami saling mengenal. Akan tetapi, pengaruh dari tiap kalimat indah yang ia tujukan padaku, sungguh membuatku patut berterima kasih kepadanya.

Baiklah. Cerita ini kumulai dari beberapa waktu yang kulalui sebelum kami saling mengenal.

Tak seperti biasanya. Beberapa hari terakhir semangatku sangat menggebu-nggebu. Hampir setiap hari aku pergi ke warnet yang letaknya lumayan jauh dari rumah nenekku. Semua itu kulakukan untuk menjemput mimpi-mimpi lamaku—mimpi yang sempat membuatku frustasi di tengah jalan karena berbagai hal yang membuatku berpikir apa aku akan berhasil?

Maklum, cukup lama aku melupakan mimpiku itu. Sebenarnya agak sedikit menyesal diriku dengan kebodohan mengabaikan sebuah mimpi yang melekat dalam hati terlalu lama. Namun segera kutepis rasa sesal, pengutukan diri, serta apa pun itu yang bersifat negatif dari dalam benak dan hatiku. Lembar baru telah terbuka. Setelah berhenti menulis selama satu setengah tahun, kali ini semangatku untuk mengukir tiap kata menjadi sederet kalimat sarat makna kembali merasuki tubuhku--bahkan lebih 'gila' daripada saat pertama kulantangkan mimpiku itu persis di bawah naungan Monas di ibukota Jakarta sana. Berawal dari sebuah kejadian yang membuatku jatuh, perlahan aku bangkit. Entah malaikat mana yang membisikkan kalimat ini tepat di ujung telingaku.

"Cobalah... Sekali saja. Ikut lomba-lomba itu. Siapa tahu kamu menang. Ah, alangkah indahnya jika namamu terpampang di sana sebagai salah satu juaranya. Lagipula ini mimpi lamamu bukan?"

Aku setuju tanpa syarat. Segera kuketik di search engine: lomba menulis tingkat nasional 2012. Mataku serasa berbinar-binar menatap berbagai informasi lomba kepenulisan di sana, baik itu online mau pun offline. Segera kucari mana kiranya yang paling cocok untuk jemariku yang sudah tak lagi lentur seperti dahulu--menyusun huruf demi huruf agar membentuk sebuah keindahan kalimat-kalimat puitis. Pilihan itu antara puisi, cerpen, dan artikel. Aku bingung harus memulai dari mana. Kuputar otakku, kembali ke beberapa tahun sebelumnya. Masih kuingat dulu waktu pertama kali kemampuan menulis merasukiku. Aku menyukai seorang gadis berkerudung teman sekelasku semasa SMA. Dari sanalah tiba-tiba kurasakan jemariku bergerak sesuai dengan imajinasi yang mendadak mengejutkan lamunan—menjadi selembar puisi. Tak terasa, entah berapa lembar kertas yang kunodai demi mengukir puisi-puisi indah yang mengandung rasa kekagumanku padanya.

Ah, terlalu banyak hingga sulit kuhitung!

Sayangnya tak pernah sekali pun aku mengirimkan tulisan-tulisan itu ke media untuk dimuat hingga dibaca banyak orang. Tak terpikir olehku keinginan ke arah itu. Barulah saat aku bertemu seorang teman di Jakarta, hasrat untuk menerbitkan karya mulai menghantuiku. Kami sama-sama kurus, sama-sama perantauan, sama-sama jangkung, dan sama-sama hobi menulis. Ia mendorongku untuk terus mengejar mimpiku menjadi seorang penulis. Waktu itu, kami sama-sama bekerja di sebuah management artist. Yang ada dalam pikiranku hanyalah bagaimana aku bisa mengembangkan hobi menulis menjadi sesuatu yang bermanfaat. Temanku yang baik itu segera menasehati serta membujukku.

"Jangan menunggu laptop itu berhasil kau beli. Waktu semakin lama semakin meninggalkanmu. Kalau aku jadi kamu, aku pasti langsung memulai dari sekarang..."

Hatiku mulai tergerak. Kubulatkan tekad dengan mengambil langkah awal. Bukankah jika kita diam saja mimpi-mimpi itu malah akan lenyap ditelan rasa pesimis? Maka aku mulai mengetik di warnet. Seringkali aku harus berjalan sejauh satu setengah kilometer ke warnet hanya untuk mengetik beberapa lembar tulisan.

Sebelumnya hanya puisi yang kuhasilkan dari inspirasi gadis berkerudung teman sekelasku itu. Namun sekarang aku mulai menulis sebuah cerita. Tak tanggung-tanggung, kuniatkan cerita itu menjadi sebuah novel! Namun semangat ini kembali luntur saat seorang teman memberi kritik negatif tak bertanggung jawab. Dia bilang novel yang sedang kutulis itu takkan berhasil dan ditolak penerbit. Sejak itu, aku berhenti menulis.

Lalu bagaimana pertemuanku dengan bunda Aliya Nurlela yang sudah kusebutkan di awal? Sabarlah. Ini sebentar lagi akan kuceritakan.

* * *

Sore itu, aku berada di kampung halaman karena ada satu dan lain hal. Beberapa hari ini aku sering ke warnet. Sekedar iseng mencari-cari lagu. Di situlah malaikat yang kusebutkan di awal tadi membisiki telingaku. Detik berikutnya jemariku mengetik informasi lomba menulis.

Maka setelah menimbang dari segala segi: waktu, ide, imajinasi, deadline, jumlah halaman, serta tema—kuputuskan untuk menulis sebuah artikel. Sungguh sebuah gebrakan baru. Tak pernah sebelumnya aku menulis artikel, namun berhasil juga kutulis hingga jadilah artikel sebanyak empat halaman bertema internet.

Sayangnya aku gagal. Tak surut—layaknya orang kesurupan—aku terus ke warnet untuk mencari info, mengetik, serta mengirim lomba via e-mail tentu saja. Sampai-sampai penjaga warnet itu hafal dengan mukaku, yang katanya mirip Tora Sudiro. Aku tak tahu, tak sepenuhnya tahu apa itu benar. Aku yakin ia butuh kacamata minus.

Kembali mencari berbagai info lomba. Kali ini cerpen dan puisi. Sampai empat belas hari semangat membakarku, tepatnya akhir Mei 2012, aku menemukan sebuah info lomba tingkat nasional yang diadakan sebuah wadah kepenulisan yang belum lama berdiri. Segera kucatat nomor kontaknya. Hatiku berdebar-debar ingin segera mengikuti lomba itu.

* * *

Malam itu, handphone-ku berdering. Ada pesan singkat masuk. Ah, ini yang kutunggu-tunggu, SMS dari seorang bernama Aliya Nurlela. Beliau adalah Sekjen dari wadah kepenulisan yang mengadakan lomba tersebut. Aku bertanya bagaimana cara menjadi anggota di forum menulis yang ia dirikan itu. Setelah mendapat penjelasan singkat, hatiku mendadak menjadi puas dan tidur dengan nyenyak meski lampu kamar tak menyala karena ada pemadaman listrik.

Itulah awal perkenalanku dengan Bunda Aliya Nurlela. Kami memang belumlah akrab saat itu. Hanya sekedar saling sapa melalui komentar-komentar di status beliau. Aku merasa bersyukur dan beranggapan bahwa ia tak lain adalah malaikat kedua yang membangkitkan semangatku setelah 'bisikan' di warnet tempo hari.

Dari tulisan-tulisan beliau aku belajar banyak hal. Status-status Facebook-nya mengandung seribu makna dalam menyikapi segala persoalan dalam hidup. Hingga suatu waktu aku membaca artikel beliau tentang kritik negatif. Dulu aku pernah mendapat kritik semacam itu. Luar biasa, beliau memberi solusi cerdas dan elegan untuk menanggapi komentar orang yang berniat menjatuhkan dengan kritik yang tak bertanggung jawab. Kami belumlah dekat, tapi entahlah. Aku merasa beruntung mengenalnya. Beberapa hari mengenal beliau, rasanya sudah setahun saja.

Mengenai lomba yang diadakan wadah kepenulisan beliau, hampir kulupakan. Aku belumlah mendaftar menjadi anggota resmi dikarenakan ada berbagai masalah lain yang belum kuselesaikan. Masih tergambar jelas dalam ingatan. Waktu itu Nenekku sakit, dan kami sekeluarga secara bergantian menjaga beliau di sebuah rumah sakit di Surabaya. Untuk sementara, aku hanya bisa mengikuti satu-dua lomba saja.

Awal Juni 2012, kucoba menulis sebuah surat untuk Bunda Aliya Nurlela. Itu adalah hari ulang tahun beliau. Begini kira-kira penutup suratnya:

Waktu terus berlalu, dan akhirnya aku sadar bahwa memelihara rasa pesimis adalah hal terbodoh. Lalu kuambil langkah baru, dengan banyak bergaul dalam berbagai komunitas penulis. Di sana aku mendapat banyak pelajaran berharga. Hingga akhirnya bertemu Bunda Aliya di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Meski belum lama mengenal dan sedikit mengerti sosok Aliya Nurlela di info FB-nya, aku telah mendapat satu pencerahan.

Bunda Aliya pernah menulis “Biarkan Mereka Menggonggong”. Isinya tentang menghadapi kritik menjatuhkan dengan cara yang elegan dan bijak. Aku langsung teringat akan seorang teman—bahkan kuanggap dia sahabat terbaikku—mengatakan secara langsung tanpa basa-basi, saat kutunjukkan satu hasil jerih payahku berupa tulisan: “Judulnya saja tidak menjual. Kalau aku jadi penerbit, takkan mau menerbitkan karya semacam ini. Karyamu ini jelek sekali.”

Nadanya serius, ekspresinya jujur dan terkendali—bukti bahwa dia sedang dalam keadaan sadar saat mengatakan itu. Masya Allah! Seorang sahabat dekat tega berkata seperti itu? Aku hanya terdiam meski sakit hatiku. Bahkan rasa sakit itu seolah takkan tersembuhkan waktu. Namun setelah kupejamkan mata, kuresapi kata-kata nasihat nan bijak dari Bunda Aliya, kubayangkan wajah sahabatku yang baik itu—aku sadar bahwa tak seharusnya aku menanggapi kritik negatif dengan pikiran yang juga negatif. Kritik yang bertujuan menjatuhkan mental dan tidak bertanggung jawab semacam itu, baiknya ditanggapi dengan santai saja. Biarlah dia berkata apa yang penting aku akan terus berusaha. Aku takkan berhenti belajar. Nasehat baik seperti nasehat Bunda Aliya itu, kusimpan dalam hati dan kepala. Sementara ucapan-ucapan tidak baik akan kubuang jauh-jauh ke Pegunungan Andes. Biar terkubur salju, dan hilang ditelan udara dingin yang jahat.

Bunda Aliya, engkau telah menginspirasiku. Bahwa betapa besar potensi yang dimiliki seseorang, jika tidak diasah akan terbuang percuma. Terus berusaha adalah kunci keberhasilan. Maka bolehlah kukatakan:

“Jika keberhasilan umpama salah satu puncak Pegunungan Andes, maka untuk meraihnya, kita harus mampu menaklukkan dinginnya suhu Andes yang jauh di bawah nol derajat Celcius (kritik negatif), dengan terus melatih penglihatan mata (potensi) agar tak tersesat di tengah salju yang membutakan (terbuang sia-sia), serta menjaga kunci (usaha dan optimis) agar tidak hilang tenggelam dalam salju (inti ketidakyakinan, pesimis, dan minder).”

Terima kasih, Bunda Aliya, atas motivasi, nasehat, dan persahabatan yang indah. Tak ada gading yang tak retak. Aku kutip kalimat khas Bunda Dorce: “Kesempurnaan hanya milik Allah, kekurangan hanya milik saya.” Inspirasi dan semangat juang darimu akan selalu tertanam di hatiku. Semoga kau selalu berada dalam lindungan dan ridho-Nya. Amin.

-Ken Hanggara-

Sejak saat itu, kami semakin dekat. Kami adalah dua orang anak manusia yang sengaja dipertemukan olehNya melalui cara yang tak terduga. Semangat, energi positif, serta rasa optimis yang beliau tanamkan dari apa yang beliau utarakan melalui status mau pun pesan obrolannya padaku, membuatku jauh lebih terarah dalam menatap jalan berliku untuk mimpi lamaku sebagai seorang penulis.

Terima kasih, Bunda Aliya Nurlela. Seribu rasa syukur kuucap padaNya karena telah mengirimkan malaikat sebaik dirimu, untuk menemaniku melatih sayap mengejar apa yang kucita-citakan. Terima kasih...

*) Ken Hanggara, anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia - Surabaya, Nomor IDFAM801M.

Ken Hanggara

/kenhanggara

Pemuda yang menyukai sastra dan seni. Tulisannya banyak yang berupa cerpen dan puisi, juga beberapa novel. Untuk menghubungi bisa melalui email: kenzohang@yahoo.co.id
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?