Yahudi dalam Politik Indonesia (13)

29 November 2011 14:34:38 Dibaca :

Jika Israel menggunakan kekuatan militer dan pengaruh loby Yahudi  terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat dalam menghadapi perebutan  wilayah dengan palestina, maka Hamas salah satu faksi militer palestina juga memiliki strategi  untuk menghadapinya.  Sikap Israel yang menggunakan kekerasan senjata, bagaimanapun bukan  menjadi tandingan gerilyawan  Hamas dan itu mestinya sangat disadari oleh Hamas.  Yang menjadi pertanyaan kita, apakah gerilyawan Hamas ini adalah orang2 yang berani mati demi bangsanya ?.    Bukan. Apa yang mereka lakukan juga merupakan sebuah strategi dalam menghadapi Israel, makin banyak korban makin mengundang simpati umat muslim, juga umat muslim di Indonesia. Korban sipil yang begitu banyak, memang berhasil membangun simpati, terlebih dengan pendekatan persaudaraan umat muslim telah mendorong sikap  kaum Islam yang militan.   Gerakan Islam militan inilah yang umumnya disebut sebagai gerakan terorisme dan gerakan ini juga  terjadi di Indonesia.  Di wilayah yang penuh dengan kemarahan terhadap Israel dan sekutu baratnya, Hamas tidak akan menerima usul apapun yang akan membatasi aksi yang menurut mereka merupakan hak untuk berjuang. Kelompok ini ingin mengirim pesan bahwa mereka tidak terintimidasi dan akan terus berjuang demi seluruh pihak di dunia yang marah dengan aksi Israel. Strategi yang cerdik pimpinan Hamas, untuk sementara waktu berhasil membuat kerumitan  Amerika Serikat yang memancing aksi2 Islam radikal mengganggu kepentingan barat diseluruh dunia.

Keberhasilan Hamas memancing reaksi militer Amerika Serikat, bagi amerika Serikat   tentunya membutuhkan anggaran untuk mendukung aksi militernya. Startegi  Hamas dengan anggaran dan peralatan yang terbatas, target politiknya tercapai  yaitu selain memancing reaksi militer juga mengundang simpati umat Islam seluruh dunia.  Aksi2 teror adalah bagian dari strategi menghadapi kekuatan militer yang besar dan strategi yang dilakukan oleh kelompok Islam ini pada akhirya menyedot anggaran yang besar yang besar  faktanya  saat ini  ekonomi Amerika Serikat dan negara2 mengalami kemunduran.   Kesempatan ini digunakan pula sebagai bahan propaganda  oleh mereka yang menentang faham liberalisme dan kapitalisme dengan mengangkat kemerosotan ekonomi Eropa dan Amerika Serikat sebagai kegagalan liberalisme. Propaganda seperti ini  biasa dijumpai di internet yang saat ini merupakan sarana yang paling efektif untuk penyebaran sebuah faham setelah bubarnya Uni Soviet.  Namun demikian, bayak faktor yang dapat mempengaruhi keadaan ekonomi, perang berkepanjangan bisa jadi sebagai salah satu sebab.  Seperti halnya krisis ekonomi di Indonesia , umumnya dipahami sebagai akibat dari krisis moneter. Namun jika dilihat lebih dalam lagi, krisis moneter Indonesia dapat diakibatkan oleh krisis hutang luar negeri.  Artinya, untuk mengetahui  penyebab kemunduran  ekonomi sebuah negara tidak dapat  langsung tunjuk hidung liberalismelah penyebabnya.  Sebab, memang faktanya, leberaisme dan capitalisme memang telah menciptakan negara2  menjadi maju. Jepang dan Korea misalnya, dua negara ini menjadi pangkalan militer Amerika Serikat mampu memanfaatkan "proteksi" militer Amerika Serikat secara tepat sehingga dua negara ini menjadi negara  yang menguasai tehnologi maju.Demikian pula dengan China yang militernya bersifat defensif kini sudah menjelma menjadi kekuatan ekonomi dunia. Dengan kata lain, faktor kemajuan sebuah bangsa sesungguhnya bukan karena fahanya, tetapi lebih disebabkan oleh mental bangsa itu sendiri.

Bangsa Indonesia saat ini sesungguhnya sedang menghadapi masalah korupsi yang kronis dan harus diakui bahwa  pemberantasan korupsi  selalu mengalami ganjalan dari waktu kewaktu sejak republik ini berdiri.  Dipandang dari dari sudut sosiologi kemayarakat, bahwa sebuah perbuatan walaupun perbuatan itu sangat merugikan, jika secara sosial dalam kemasyarakatan dapat diterima sebagai  perbuatan yang biasa, maka perbuatan itu tak memiliki sangsi sosial. Sejarah panjang bangsa Indonesia yang diperintah oleh bangsa kolonial, memeras rakyat, membiarkan rakyat miskin, korupsi, merampok kekayaan alam adalah perbuatan yang dilakukan bangsa kolonial.  Dalam pemerintahan kolonial yang berlangsung lama maka terciptalah birokrat kolonnial  bangsa pribumi yang mempunyai mental seperti  "Tuannya".   Ketika bangsa Indonesia berhasil mencapai cita2 kemerdekaan, tak pilihan lain harus melaksanakan pemerintahan dengan memanfaatkan para birokrat warisan  pemerintahan kolonial.  Menggertak rakyat, membiarkan rakyat miskin, korupsi, merampok kekayaan alam yang  sudah menjadi hal yang biasa didalam pemerintahan kolonial, ternyata mental itu ta dapat hilang ketika bangsa ini telah merdeka dan masih menjadi ciri hingga saat ini. Apapun dalihnya, tidak ada bangsa kolonial yang igin memajukan bangsa yang dijajahnya. Begitu juga dengan bangsa Yahudi, memasuki bisnis di Indonesia pada dasarnya untuk mendapatkan untung  yang sebesar2nya. Ketika keuntungan itu  hanya dinikmati kaki tangannya di Indonesia dan bangsa Yahudi, maka tak tepat harus  menyalahkan bangsa Yahudi. Sebab, masuknya  bangsa Yahudi ke negeri ini karena memang diberi kesempatan. Maksudnya, kita sebagai bangsa Indonesia selama belum mampu bersaing dengan bangsa lain, selama itu bangsa ini akan menjadi taklukan. Sebagaimana nasib TKW bangsa di Indonesia di Arab Saudi, bangsa kita menunjukkan kemarahan ketika bangsa Arab Saudi memperlakukan TKW tidak semestinya.  Lalu apa yang dilakukan oleh bangsa kita ?. Demonstrasi didepan kedubes Arab Saudi.

PECEL TEMPE

/ken-arok

apalah arti sebuah nama
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?