Ego Vs Ajaran Nabi

14 Juli 2012 07:00:59 Dibaca :

Ia membenciku, aku harus membalasnya.

Ia menghinaku, aku wajib untuk membalas.

Ia mempermalukanku, aku perlu membalas sakit hati ini.

Ia memarahiku, aku bukan orang bodoh dan harus membalas.

Ia telah mencuri sesuatu dariku, aku harus mencuri kembali.

Ia menyakitiku, sebagai obatnya aku wajib menyakitinya.
Begitu yang mereka perlakuan padaku, demikianlah aku akan memperlakukan mereka. Bukankah itu adil namanya?

Apa yang mereka lakukan, mereka harus menerima akibatnya.

Itulah pemikiran kita. Itulah logika yang selalu jadi pembenaran bagi kita untuk melakukan kesalahan. Berbuat hal yang umumnya dilakukan kebanyakan orang.

Tetapi kebenarannya Tuhan pasti tidak ingin kita menjadi demikian.

Bukankah Tuhan telah mengutus Para Nabi untuk mengajari dan menuntun kita? Menjadikan Para Nabi sebagai teladan?

Apapun itu. Kita bebas memilih. Lebih mengedepankan pemikiran sendiri atau sesuai pengajaran Kitab Suci.

Tidak ada yang dapat mendikte. Kita yang berkuasa atas hidup sendiri. Kita sendiri yang akan menanggung akibat.

Katedrarajawen

/katedrarajawen

TERVERIFIKASI (BIRU)

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis"
______________________________
Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan waktu terjelma menjadi musik...dan berkarya dengan cinta kasih: apakah itu? Itu adalah menemun kain dengan benang yang berasal dari hatimu, bahkan seperti buah hatimu yang akan memakai kain itu....
[Kahlil Gibran, Sang Nabi]

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?