Ber-Tuhan tapi Tuhan Dicueki

25 September 2011 11:23:29 Dibaca :

Tak dipungkiri, negara atau masyarakat kita, Indonesia adalah ber-Tuhan. Kalau tidak percaya, silakan ditanyakan. Kebanyakan pasti mengaku ber-Tuhan.



Di segala bidang pasti ada nama Tuhan dibawa-bawa. Entah berapa banyak ritual atau syukuran diadakan dengan embel-embel nama Tuhan.
Tuhan di atas segalanya. Mau mengadakan acara apapun, nama Tuhan tidak ketinggalan dibawa.

Entah berapa banyak "Rumah Tuhan" didirikan. Dari kota sampai pelosok desa. Dari jalan-jalan utama sampai dalam gang. Dari pantai sampai di atas bukit ada rumah ibadah untuk menyembah Tuhan.
Kalau ada survey, Indonesia pasti termasuk paling banyak ada "Rumah Tuhan".

Undang-Undang Dasar Negara sampai Undang-Undang biasa selalu tercantum nama Tuhan. Bahkan sila pertama dari Dasar Negara, Pancasila. Nomor satunya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Tuhan selalu yang pertama.


Setiap pejabat atau abdi negara, sebelum menjabat dan menjalankan tugasnya. Harus terlebih dahulu disumpah atas nama Tuhan sesuai agamanya masing-masing. Itu hal yang penting dan harus dilakukan. Sudah rutin.


Disetiap kegiatan baik formal maupun non-formal, nama Tuhan tidak pernah dilupakan. Setiap orang diminta untuk berdoa kepada Tuhan. Ini tak boleh ketinggalan agar segalanya berjalan lancar.


"Ya Tuhan" atau "Ya Allah" adalah kata-kata yang sudah kerap kita dengar atau diucapkan. Ini adalah penanda bahwa Tuhan sudah begitu akrab dengan hidup kita.


Namun sungguh miris bila melihat realita yang ada berkenaan dengan perilaku kita di masyarakat. Banyak yang terjadi justru bertentangan sebagai manusia yang ber-Tuhan. Malah seakan-akan Tuhan dicueki.


Kita berperilaku layaknya bukan lagi manusia yang ber-Tuhan. Di jalanan ugal-ugalan. Main salib dan berhenti seenaknya. Kata-kata kotor serampangan terucapkan. Buang sampah sembarangan.


Para pejabat yang sudah disumpahpun, lalu lupa, sehingga bebas berbuat korupsi. Mumpung ada kesempatan dan tidak ketahuan. Tuhan dianggap sedang tidur dan buta.


Banyak acara syukuran dan terimakasih kepada Tuhan. Tapi sungguh membuat sakit hati, karena banyak makanan yang terbuang dan bertaburan.



Banyak terjadi, pagi-pagi ingat Tuhan. Pada siang hari sudah lupa-lupa ingat. Malamnya Tuhan sudah di kelautkan.
Sebuah ironi atau tragedi bangsa kita?

Saya paham masalah ini, sebab saya adalah bagian dari bangsa ini. Itu artinya saya adalah termasuk pelakunya. Sungguh ironi menuliskan hal ini.....

Katedrarajawen

/katedrarajawen

TERVERIFIKASI (BIRU)

"Merindukan Pencerahan Hidup Melalui Dalam Keheningan Menulis"
______________________________
Saat berkarya, kau adalah seruling yang melalui hatinya bisikan waktu terjelma menjadi musik...dan berkarya dengan cinta kasih: apakah itu? Itu adalah menemun kain dengan benang yang berasal dari hatimu, bahkan seperti buah hatimu yang akan memakai kain itu....
[Kahlil Gibran, Sang Nabi]

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?