Merdeka dari Radikalisme dan Terorisme

11 Agustus 2017   09:55 Diperbarui: 11 Agustus 2017   10:00 106 0 1
Merdeka dari Radikalisme dan Terorisme
Bendera Indonesia - http://fsldkindonesia.org

Radikalisme dan terorisme menjadi ancaman semua negara, termasuk Indonesia. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tidak dipungkiri menjadi daya tarik tersendiri bagi kelompok radikal. Mereka berbondong-bondong menyebarkan propaganda radikalisme di media sosial. Dan bujuk rayu kelompok ini terbukti telah membuat ratusan warga negara Indonesia, bergabung dengan kelompok ISIS di Suriah dan Mosul. Ancaman teror di dalam negeri juga masih saja terjadi. Satu persatu rencana teror berhasil digagalkan, tapi satu persatu generasi muda kita berhasil terpapar radikalisme. Dan inilah yang menjadi tantangan mengisi kemerdekaan saat ini. Indonesia harus bebas dari radikalisme dan terorisme.

Dalam sejarahnya, Indonesia memang tak bisa dilepaskan dari aksi teror. Dan aksi teror di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari keberedaan jaringan kelompok radikal. Organisasi NII telah melahirkan Jemaah Islamiyah pimpinan Abubakar Ba'asyir. JI yang ketika itu berafiliasi dengan Al Qaeda, terlibat dalam serangkaian teror bom di Indonesia. Setelah bom bali hingga bom JW Mariot, pimpinan organisasi ini mulai banyak ditangkap. Setelah itu, muncul organisasi Jamaah Anshorut Daulah, pimpinan Aman Abdurahman yang berafiliasi dengan ISIS. Organisasi ini juga terlibat dalam sejumlah aksi teror di Indonesia. Salah satunya adalah bom Thamrin pada awal Januari 2016 yang lalu.                                                                                                                              

Jaringan kelompok radikal dan teroris ini, seringkali menyusup dalam konflik yang terjadi di Indonesia. Berbagai penyelidikan mengatakan, mereka masuk dalam konflik poso dan ambon. Kelompok ini telah berlatih di Mindanao Selatan, dan kemudian menebar teror di Indonesia. Bahkan, pada saat pilkada DKI Jakarta yang lalu, jaringan teroris di Suriah juga sempat muncul di media sosial dengan foto bertuliskan ancaman kepada Ahok. Inilah fakta yang kita hadapi saat ini. Belum lagi maraknya propaganda di media sosial, membuat banyak orang terprovokasi dan berani melakukan tindakan teror.

Semuanya itu merupakan tantangan bagi Indonesia saat ini. Benar, Indonesia telah terbebas dari penjajahan fisik. Namun Indonesia belum sepenuhnya bebas dari penjajahan paham radikal dan teror bom. Indonesia masih menjadi target kelompok ISIS, setelah pertahanan mereka di Suriah dan Mosul terus melemah. Upaya ISIS untuk mengembangkan kekuasaannya di Asia Tenggara, tentu harus menjadi kewaspadaan bersama. Benar, kemampuan aparat keamanan kita sudah tidak bisa diragukan lagi. Tapi siapa yang bisa menahan pergerakan paham atau ideologi yang berkembang melalui kecanggihan teknologi?

Indonesia merupakan negara dengan tingkat keberagaman tinggi. Berbagai kekayaan suku, budaya, bahasa dana agama ada di negeri ini. Keindahan alam Indonesia juga tidak ada duanya. Mari kita jaga kekayaan ini untuk generasi berikutnya. Jangan biarkan kelompok radikal dan teroris, terus menebar teror di Indonesia. Jangan biarkan bibit radikalisme dan intoleran menjangkiti generasi muda. Mari kita melakukan aksi pencegahan, dengan terus menebarkan pesan damai. Setiap ujaran dan perilaku kita, juga harus mencerminkan perdamaian. Kenapa ini penting? Karena Indonesia pada dasarnya negara yang menjunjung perdamaian. Karena itu mari bebaskan NKRI dari segala bentuk radikalisme dan aksi teror.