Karmani Soekarto
Karmani Soekarto

1. Universitas Brawijaya, Malang 2. School of Mnt Labora, Jakarta 3. VICO INDONESIA 1978~2001 4. Semberani Persada Oil 2005~2009

Selanjutnya

Tutup

Dakon Sang Lorong Waktu, a Time Tunnel 28

19 Maret 2017   22:00 Diperbarui: 19 Maret 2017   22:36 68 0 0

Rineksa malaekat (Dijaga oleh malaikat)  

Lan sagung pra rasul (dan semua para rasul)

Pinayungan ing Hyang Suksma (Dalam lindungan Tuhan)

Ati Adam utekku baginda Esis (Hatiku Adam, otakku baginda Sis)

Pangucapku ya Musa (Ucapanku adalah nabi Musa)

nah Boy teruskan kidungnya, biar semua dapat bagian.”

Begitu Sunaringsasi selesai membawakan kidung lanjutan Danu, kini Boy Gatot segera bersiap membawkan kidung lanjutan Sunaringsasi, dengan batuk batuk yang sesungguhnya tidak sakit batuk Boy Gatot mengambil suara, Boy Gatot :” Wah suaramu begitu merdunya Sasi, aku siap memulainya lanjutannya

Napasku nabi Ngisa linuwih (Nafasku nabi Isa yang teramat mulia)

Nabi Yakup pamiryarsaningwang (Nabi Yakup pendenganranku)

Dawud suwaraku mangke (Nabi Daud menjadi suaraku)

Nabi brahim nyawaku (Nabi Ibrahim sebagai nyawaku)

Nabi Sleman kasekten mami (Nabi Sulaiman kesaktianku)

Nabi Yusuf rupeng wang (Nabi Yusuf menjadi rupaku)

Edris ing rambutku (Nabi Idris di rambutku)

Baginda Ngali kuliting wang (Baginda Ali sebagai kulitku)

Abubakar getih daging Ngumar singgih (Abubakar darahku Umar

dagingku)

Balung baginda ngusman (Usman sebagai tulangku)

nah tinggal satu bait teruskan Jose, malam semakin larut tentu ada yang mendengarkan.”

Kini ganti giliran Jose Eko membawakan kidung bait terakhir, dengan mengambil ancang ancang agar suaranya sampai, Jose Eko :” Siap Boy, aku mulai ngidung

Sumsumingsun Patimah linuwih (Sumsumku Fatimah yang amat mulia)

Siti Aminah bayuning angga (Siti Aminah sebagai kekuatan badanku)

Ayup ing ususku mangke (Nanti nabi Ayub adalah ususku)

Nabi Nuh ing jejantung (Nabi Nuh sebagai jantungku)

Nabi Yunus ing otot mami (Nabi Yunus sebagai ototku)

Netraku ya Muhamad (Mataku ialah Nabi Muhamad)

Pamuluku Rasul (Air mukaku rasul)

Pinayungan Adam Kawa (dalam lindungan Adam dan Hawa)

Sampun pepak sakathahe para nabi (lengkaplah semua para nabi)

Dadya sarira tunggal (Jadilah badan yang satu)

Nah selesailah aku membawakan kidung ini.”

Danu Subroto :” Sekarang kita akhiri kidung ini dengan membaca doa, dan

persiapan untuk tidur.”

Pembawa Kidung :” Nini kenalkan namaku Prawiro Nitiharjo, kalau boleh tahu

siapa nama kalian semua ini?”

Dyah Sunaringsasi :” Maafkan paman kami lupa memperkenalkan diri, aku Dyah Sunaringsasi paman, yang ini Danu Subroto kepala regu kami, yang ini Jose

Eko kakak kandungku, yang ini Boy Gatot dan si Lutung adalah Taat Sugriwo.”

Prawiro Nitiharjo :” Wah wah nama nama yang baik. Begini nini Sunaringsasi, rasanya paman belum pernah mendengar kidung yang kalian bawakan, pamanmendengarkan bulu kuduk rasa berdiri, kidung terdengar bagaikan seseorang memanjatkan doa kepada yang kuasa. Kidung sangat asing bagiku tetapi kidung ini sangat menarik. Apalagi dibawakan dengan suara yang pas. Coba nini tengok barang sebentar apakah di halaman luar ada yang mendengarkan?”

Mendengar pertanyaan ini segera Boy Gatot membuka pintu, melihat halaman rumah ternyata banyak orang sedang duduk lesehan mendengarkan, Boy Gatot :” Paman ternyata banyak orang bergerombol mendengarkan, padahal kitasudah ingin berhenti memperdengarkan kidungnya, bagaimana ini paman?”

Prawiro Nitiharjo :” Ya aku mau keluar sebentar, mereka tidak akan membubarkan diri sebelum aku tutup dengan membawakan kidung pangkur yang berati sudah mungkur atau sudah selesai, tetapi akan aku tanya dulu pasti mereka minta tambahan lagi seperti biasanya.”

Beberapa saat kemudian Prawiro Nitiharjo disertai Boy Gatot keluar berbincang bincang dengan mereka yang bergerombol mendengarkan :” mBah Nitiharjo aku pengin mendengarkan sekali lagi kidung yang pertama kali dibawakan oleh lelaki, tetapi kali ini aku minta dilantukan kidungnya oleh suara perempuan tadi yang suaranya sangat merdu. Kami semua yang berada di luar halaman ini merinding mendengarkan kidung tersebut, kidung bagaikan memanjatkan doa.”

Prawiro Nitiharjo :” Ya ya aku akan meminta kepada yang perempuan untuk membawakan, setelah dua kali dilantunkan selesai ya.” Selesai berkata demikian Boy Gatot segera menyambung :” Nama kidungnya adalah Kidung Rumekso ing Wengi, tolong diingat ya.”

Tidak berapa lama kemudian Prawiro Nitiharjo dan Boy Gatot segera masuk,mereka berbincang bincang dengan Sunaringsasi agar mau melantunkan KidungRumekso Ing Wengi dua kali lagi, sebagai isarat mengakhiri lantunan kidung.

Tidak berapa lama kemudian Dyah Sunaringsasi membawakan lantunan Kidung Rumekso Ing Wengi sebanyak dua kali bait satu dan bait dua yang beberapa saat lalu dilantunkan oleh Danu, baru kemudian mereka yang berada di halaman luar membubarkan diri.

Prawiro Nitiharjo :” Nini Sunaringsasi dan adi adi semua kalau boleh tahu kidung tersebut siapa penganggitnya? Sejauh ini paman belum pernah mendengarkan juga mereka yang berada di halaman tadi.”

Dyah Sunaringsasi :” Paman, memang Kidung ini dianggit oleh seseorang yang mumpuni kira kira 300 tahun yang akan datang, beliau seorang sunan yang akan menyebarkan agama baru, Agama Islam, beliau adalah Sunan Kalijogo paman.”

Prawiro Nitiharjo :” Paman percaya dengan keteranganmu nini, tetapi bagaimana nini tahu kalau kidung tersebut dianggit oleh seorang sunan, kalau boleh tahu nini Sunaringsasi dan adi semua ini sebenarnya siapa?”

Dyah Sunaringsasi :” Paman sudah memberi tumpangan semalam, maka kami berterus terang paman. Kami berlima sesungguhnya mahasiswa yang sedang tersesat ketika kami mendaki Gunung Semeru paman, hingga terlempar ke jaman 800 tahun kebelakang, jamannya kehidupan paman.”

Prawiro Nitiharjo :” Kalian sebagai mahasiswa berlima? Dimana yang satu nini?”

Dyah Sunaringsasi :” Paman, ceritanya amat panjang tidak mungkin aku ceritakan sekarang, semalampun tidak akan selesai. Lutung itu sesungguhnya manusia seperti kita ini, karena lancang tidak menjujung kearifan lokal maka musibah menimpanya, jadilah teman kami Taat Sugriwo seekor lutung paman, lutung tidak dapat berbicara tetapi mengerti percakapan kita. Kami juga sedih, karena kami berangkat berlima harus pulang juga berlima paman, maka lutung tetap kami ajak sampai nanti kami bisa kembali ke jaman kami sendiri paman.”

Prawiro Nitiharjo :” Sungguh rumit nini, paman kurang sanggup mengikuti ceritanya, susah masuk di akal paman. Tetapi paman percaya, sejak tadi saat ..bersambung...