Catatan Pergerakan (1)

10 Agustus 2017   18:27 Diperbarui: 10 Agustus 2017   18:53 31 1 0

TIDAK terasa malam mulai larut. Jarum jam sudah menunjukan pukul sebelas lebih lima puluh menit. Itu artinya sepuluh menit lagi sudah tengah malam, menjelang pagi.

Kopi yang ada di dalam gelas pun sudah surut. Menyisakan letek (ampas) yang mulai mengering. Begitu juga bungkus rokok, penampilannya mulai berubah. Tidak lagi terlihat rapi, seperti saat hendak ke kantor, saat pertama kali dibeli. Kali ini sudah lungset, bekas diremas. Ada yang diremas menggunakan tangan, tapi ada juga sisa bekas diremas menggunakan kaki. Tapi hanya orang-orang tertentu saja yang meremas dengan menggunakan pola yang terakhir itu.

Biasanya tipe orang ini karena kecele. Dilihatnya bungkus rokok masih terlihat rapi, tanda-tanda masih ada isinya. Tapi setelah digoyang-goyang dan dibuka. Eh, ternyata kosong. Emosi. Bungkus rokok dibanting, lalu diinjak. Tidak lupa dengan kata penutup "Wooo... lambe knalpot kabeh". Dan, semua langsung tertawa.

Seiring malam yang mulai larut dan menjelang pagi. Suhu udara pun mulai terasa cukup dingin. Membekap tubuh yang merasakannya. Sedikit menggigil. Utamanya yang belum terbiasa ngopi di pinggir laut. Jalur pantai utara Kota Tuban, atau yang biasa diakronimkan pantura itu. Persisnya di sepanjang Jalan RE. Martadinata. Beralaskan tikar yang digelar di atas trotoar tepat di atas bibir pantai, sesekali deburan ombak memercik di antara kita yang membentuk lingkaran.

Tapi terkadang juga membentuk persegi. Ada juga yang tiduran, sehingga membentuk pola yang tidak jelas. Sebenarnya sih terserah, tidak ada aturan dan tidak ada yang melarang. Yang penting posisinya enak. Tidak usah diperdebatkan.

Malam itu, saya yang sedianya pulang pukul delapan, pun terpaksa harus menginap untuk malam itu. Karena tidak mungkin pulang dini hari, banyak hantu di sepanjang perjalanan. Tapi sebenarnya bukan takut karena ada hantu, tapi ini soal perasaan dan menjaga nama baik keluarga dari rasan-rasan tetangga. Takut dikira sebagai anak nakal, klayapan, pulang saat malam sudah dikudeta oleh pagi, dan bla-bla-bla lain sebagainya.

Padahal kan tidak benar, saya tidak pulang karena diskusi sampai pagi. Dan, itu adalah hal yang positif ketimbang melihat sinetron yang kerap mendidik generasi muda bangsa ini lebay.

Meski mata mulai melawan, hendak menutup dengan sendirinya, ngantuk. Namun diskusi masih tak kunjung beranjak. Malahan semakin gayeng. Terpaksa, mata inipun harus saya ajak berkompromi agar tidak semakin menyipit seiring rasa kantuk yang terus mendera.

Tapi entah apa yang kita diskusikan, saya lupa. Termasuk siapa saja saat itu. Yang saya ingat hanya Jabran, Kopler, Adam, Majid, dan mungkin Widad. Sudah delapan tahun yang lalu. Jeda waktu yang cukup lama untuk mengingat jelas kenangan yang sudah berlalu. Kecuali kenangan sang mantan. Jadi tidak usah saya ingat-ingat. Kalau nanti sudah ingat akan saya tulis lagi pada catatan yang berikutnya.