HIGHLIGHT

Repotnya Menghadapi Ramadhan Ketika Istri Melahirkan ....

05 Agustus 2012 18:04:34 Dibaca :

Lebaran empat tahun lalu (2008) adalah musim lebaran yang paling merepotkan buat saya. Jangankan untuk menjalani acara “ritual mudik”, buka bersama di kantor yang hanya dilakukan setahun sekali saja tidak sempat diikuti. Pasalnya, menjelang masuk bulan puasa istri saya melahirkan akan ketiga kami.


Malam menjelang sehari sebelum memasuki bulan Ramadhan tahun itu, istri saya masuk rumah bersalin. Saya harus mondar-mandir antara klinik dan rumah karena kedua anak saya yang masih SD akan mengikuti pawai Ramadhan yang biasa dilaksanakan di lingkungan perumahan kami. Selesai mengawal anak-anak, saya kembali ke klinik, ternyata di ruang persalinan itu istri saya sedang berjuang melahirkan anak ketiga kami. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar dan sayapun akhirnya lupa dengan kecapean yang terjadi beberapa saat sebelumnya.


Besoknya istri saya pulang dari klinik dan kami harus menyambut Ramadhan dengan 2 anak SD yang sedang belajar puasa. Karena istri belum boleh melakukan apa-apa, saya harus menangani semua urusan rumah tangga dari mulai menyiapkan makan sahur, menyiapkan dan mengantar anak sekolah. Sementara itu, tugas utama saya mencari nafkah juga tak bisa ditinggalkan.


Untuk santap sahur, saya dan anak-anak hanya menyantap makanan-makanan siap goreng seperti naget, sosis dan dan sebagainya. Itu terpaksa dilakukan karena saya tidak bisa memasak selain bikin dadar terur dan nasi goreng. Sedangkan untuk buka puasa, kami hanya mengandalkan membeli makanan dari luar yang memang banyak tersedia di mana-mana.


Karena harus menyiapkan buka puasa untuk kedua anak saya rumah , setiap hari terpaksa harus pamit untuk pulang kerja lebih awal, setidaknya jam 4 sore harus sudah beranjak dari kantor yang berada di Jakarta itu. Akibatnya, acara buka bersama di kantor dan beberapa lagi di kumunitas saya yang lain harus dilupakan. Untunglah semuanya mengerti kesibukan insidental itu.


Seminggu menjelang lebaran, masalah mulai timbul. Ternyata tempat yang biasa jualan makanan untuk buka puasa satu-satu mulai tutup. Ada yang pulang kampung dan ada sudah tidak berdagang lagi karena konsumennya sepi. Pernah sekali sampai megunjungi 10 tempat yang biasanya berjualan menu buka puasa tidak mendapat apa-apa karena semuanya sudah tidak bejualan lagi . Akhirnya sayapun masak sendiri sebisanya. Sampai kondisi itu, saya belum membolehkan istri turun ke dapur meskipun dia sendiri sudah menawarkan diri.


Menjelang lebaran, kerepotan saya tidak menjadi berkurang, dari mulai susahnya mencari gas sampai susahnya mencari tempat yang menjual makanan jadi. Yang masih buka di hari sekitar lebaran hanyalah restoran-restoran besar yang sangat menguras dompet kalau dilakukan berhari-hari.


Beberapa hari setelah lebaran adalah puncak kerepotan saya. Yang biasanya saya pulang kampung ke Sumedang, kini yang dari Sumedang datang ke rumah saya. Tidak tanggung-tanggung, dua mobil yang terdiri dari 2 keluarga kakak saya dan ibu bapak saya sekalian menengok bayi saya. Meskipun pada akhirnya mereka-mereka yang mengambil alih tugas dapur, tetapi pada saat mereka tiba saya sibuk sekali mencari makanan karena masih pada tutup. Karena Sumedang-Bogor cukup jauh mereka seperti biasa menginap, ada yang sehari dan ada yang dua hari.


Setelah dua hari mereka baru pulang, tetapi kesibukan saya masih belum berhenti karena yang berkunjung dan menginap datang lagi dari keluarga istri dengan jumlah yang hampir sama. Ini lebih repot lagi karena saya tidak seleluasa meminta tolong kepada kakak-kakak saya dan orang tua sendiri. Meskipun kerepotan tetapi tetap harus memperlakukan mereka tetap sebagai tamu.


Yah, kisah itu sudah lewat empat tahun lalu. Tidak hanya super sibuk, secara keuangan juga sama ludesnya dibanding dengan  mudik yang biasanya memakan waktu lebih dari seminggu. Tapi meski terasa merepotkan, tetapi juga menyenangkan karena ada bayi baru lagi di rumah. Ke istri saya, saya bahkan menantang kalau saya bersedia melakukan itu sekali lagi. Tapi istri saya bilang “Tidaaaak, tiga anak sudah cukup….!”.

Taryadi Sum

/kang_yadi

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Asal dari Sumedang, sekolah di Bandung, tinggal di Bogor dan kerja di Jakarta. Sampai sekarang masih penggemar Tahu Sumedang
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?