HEADLINE HIGHLIGHT

Kadang Malu Membaca Tulisan Sendiri di Koran

11 Juli 2012 17:09:26 Dibaca :
Kadang Malu Membaca Tulisan Sendiri di Koran
Ilustrasi/Admin (Ajie Nugroho)

Belasan tahun yang lalu (duh ternyata sudah tua) ketika tinggal di Pontianak, tulisan saya pernah beberapa kali menghiasi kolom opini Harian Akcaya, koran lokal terbesar di Bumi Khatulistiwa tersebut. Meskipun saya masih belajar menulis, tetapi rasanya 2 dari 3 tulisan opini yang saya kirim dimuat beberapa hari kemudian.

Awalnya senang luar biasa, karena jaman itu media seperti Kompasiana belum ada. Meskipun honornya hanya cukup untuk beberapa bungkus rokok, namun saya tetap menulis dan mengirimkannya karena kantornya tak jauh dari kantor saya waktu itu karena motivasinya juga bukan ingin mendapat honor.

Setelah beberapa kali dimuat, saya menanggapinya biasa-biasa saja. Kadang saya dapat kabar dari teman kalau di koran itu ada tulisan saya ketika hari itu tidak baca koran. Saya membaca kembali tulisan di korannya itu hanya untuk mengatahui bagian mana saja yang diedit redaksi.

Namun ketika saya mencoba membandingkan dengan beberapa tulisan lain yang sama-sama di kolom opini, saya merasa malu dan menyesalkan diterbitkannya beberapa tulisan tersebut. Ada yang terasa tulisannya pabaliut (tidak mengalir dengan baik), analisa yang terlalu dangkal dan beberapa alasan lagi. Apalagi ketika dibandingkan dengan opini di koran nasional seperti Kompas. Rasanya ditawarin space pun akan saya tolak karena tulisan saya memang sangat jauh dari layak untuk ditayangkan di harian nasional tersebut.

Memang di harian lokal itu sering juga ditemukan artikel opini yang saya anggap tidak lebih baik dari tulisan saya. Tetapi biarlah itu urusan mereka, saya tidak merasa baik setelah membaca tulisan-tulisan mereka.

Karena alasan itu ditambah karena ada kesibukan lain yang lebih saya perlukan, kebiasaan menulis itu praktis sirna. Saya baru menulis lagi beberapa tahun belakangan ini ketika punya akun Facebook dan lebih sering lagi setelah bergabung dengan media warga Kompasiana ini. Bedanya kalau dulu hanya menulis opini, kini masalah tetek-bengekpun dituangkan pada tulisan yang panjang lebar. Entah apa penilaian pembaca terhadap tulisan-tulisan tersebut atau terhadap kompasianer yang bernama Taryadi Sumitu.

Yang saya rasakan sekarang, semangat “Sharing Connecting” Kompasiana membuat saya lebih enjoy menulis. Ketika saya ingin berbagi, saya tidak kecewa jika tidak ada orang yang mau dibagi. Jika ketika saya berbagi pengalaman buruk di Kompasiana agar bisa dipetik hikmahnya oleh orang lain, sayapun tidak kecewa jika artikel saya tidak ada yang membaca atau mengomentari.

Tapi Satu hal yang bagi saya bermanfaat dengan munculnya tulisan di media publik adalah saya dapat mengetahui kekurangan-kekurangan tulisan saya. Jika hanya di catatan pribadi, hal itu sama sekali tidak kelihatan. Namun untuk mencoba lagi mengirim tulisan ke media cetak, ah ntar-ntar lagi deh…..

Taryadi Sum

/kang_yadi

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Asal dari Sumedang, sekolah di Bandung, tinggal di Bogor dan kerja di Jakarta. Sampai sekarang masih penggemar Tahu Sumedang
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?