Bangkitkan Keunggulan Kompetitif Industri Indonesia

09 Maret 2012 18:32:31 Dibaca :

Ketika Jepang dan beberapa negara Eropa memiliki keunggulan di bidang otomotif, haruskah Indonesia memaksakan diri untuk masuk di bidang tersebut untuk ikut meramaikan persaingan pasar dunia? Atau ketika Amerika menguasai teknologi informasi, apakah kita juga harus memaksakan diri menguasai teknologi tersebut sekedar untuk mendapat pengakuan dunia bahwa kita mampu?


Faktanya adalah Indonesia tidak memiliki sumberdaya di bidang tersebut. Selain padat modal,di bidang tersebut Indonesia tergolong baru dan jika mampu menjangkaunyapun tidak lebih dari pelengkap variasi produk dipasaran saja.


Rasanya dalam hal kebijakan industri dan perdagangannya, China lebih cerdik dalam memposisikan diri. Ketika mereka tidak mampu bersaing dengan kedua negara industri tersebut, mereka menggarap aneka industri dengan keunggulan yang ditawarkan adalah ‘harga murah’. Kini, seluruh dunia mengakui keberhasilan negeri tirai bambu tersebut setelah melihat fakta bahwa barang-barang murah Made in China tersebut tersebar di seluruh muka bumi.


Akhir-akhir ini, industri sepeda motor Jepang malah dibuat kalang kabut setelah China berhasil menularkan teknologi murah-meriahnya di bidang kendaraan roda dua tersebut. Meskipun pasar yang dimasukinya adalah otomotif, namun temanya tetap yaitu “murah meriah”.


Agar Indonesia mampu tampil di tingkat dunia, mengapa bukan taktik China yang harus ditiru? Maksud saya bukan teknologi murah meriahnya, tetapi cara mereka memposisikan dirinya sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki dan relung pasar yang masih tersedia. Bersaing di bidang otomotif, jelas tak akan mampu. Demikian juga di bidang teknologi informasi. Secara jujur mungkin Indonesia terlambat beberapa generasi dari mereka.


Dengan kekayaan sumberdaya alam yang dimiliki, Indonesia sesungguhnya dapat bersaing di pasaran dunia. Yaitu dengan mengembangkan industri yang benar-benar memiliki keunggulan dibanding jika negara lain yang melakukannya. Misalnya di bidang perikanan, Indonesia memiliki sumberdaya ikan yang sangat melimpah sehingga memiliki keunggulan kompetitif yaitu bahan baku yang dapat diperoleh lebih murah dibanding negara maju lain yang harus mendatangkan ikan dari tempat lain dengan biaya transportasi yang sangat mahal.


Saat ini ekspor komoditi perikanan Indonesia juga tergolong bagus. Sumberdaya yang dimiliki juga merupakan potensi terbesar mengingat wilayah Indonesia memiliki luas laut sekitar 3,54 juta km2 dengan panjang garis pantai 104.000 km. Meskipun beberapa tempat sudah diindikasikan over fishing, namun secara menyeluruh potensinya masih sangat besar. Jika kebijakan industri fokus ke sana, bukan tidak mustahil Indonesia akan mampu menjadi “Raja Ikan Dunia”.



Maka, ketika kita tidak mampu membendung masuknya produk asing ke Indonesia dari mulai produk hortikultura sampai komputer tablet, setidaknya kita juga masih bisa berbangga jika di negara-negara pemasok tersebut juga tersebar produk-produk unggulan Indonesia, misalnya ikan-ikan kaleng atau ikan-ikan kering Made In Indonesia.


Di samping itu, peningkatan sektor industri perikanan juga bisa menjadi salah satu solusi mengatasi kelimpahan tenaga kerja Indonesia. Selain membutuhkan nelayan yang lebih banyak, industri perikanan juga merupakan industri padat karya yang dapat menampung tenaga kerja yang cukup banyak. Yang pada akhirnya adalah meningkatkan kemakmuran rakyat Indonesia,


Rasanya, memfokuskan diri untuk mengembangkan teknologi perikanan yang mampu memenuhi tuntutan pasar dunia, jauh lebih mudah dari menyempurnakan mobil Esemka yang kemarin dinyatakan belum lolos uji emisi tersebut. Selain dari itu, modal awal yang merupakan keunggulannya adalah Indonesia sebagai Negara Maritim, yang menjadi salah satu negara dengan laut terluas di dunia.


Komoditi lain yang tidak kalah unggulnya adalah furnitur. Ketika selera orang berbalik ke alam, perlengkapan rumah yang terbuat dari kayu atau bambu bisa menjadi pasar yang sangat menjanjikan. Jika Indonesia fokus ke industri ini, bukan tidak mustahil Indonesia juga mampu menjadi “Raja Furnitur Dunia”.


Kuncinya adalah positioning, fokus dan serius.

Taryadi Sum

/kang_yadi

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Asal dari Sumedang, sekolah di Bandung, tinggal di Bogor dan kerja di Jakarta. Sampai sekarang masih penggemar Tahu Sumedang
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?