Perempuan Bertato Belati

17 April 2013 20:07:02 Dibaca :

(1)

Kemuning.

Itulah namanya yang kami ketahui. Apa kepanjangannya? Kami tak tahu. Mungkin namanya pendek saja. Dan, nama pendek itu tak aneh bagi kami, sebab seperti namaku dan nama-nama orang yang tinggal di kampung ini, nama itu cukup satu kata saja. Tak perlu banyak-banyak kata. Tapi, nama haruslah sudah menyiratkan jenis kelamin pemiliknya. Ya, seperti Kemuning itu, sebagai nama bunga, bisa dipastikan bahwa pemilik nama itu adalah seorang perempuan. Kemuning bukan penduduk sini. Ia baru datang beberapa minggu lalu, tapi kehadirannya telah menghebohkan kampungku. Kemuning telah membuat cemburu ibu-ibu kampungku. Wajah Kemuning masih muda dan sangat cantik. Setiap dia berjalan puluhan pasang mata menatapnya, bahkan sorot mata para laki-laki yang kurang beriman seperti ingin menerkamnya, mencabik-cabik tubuh mulusnya dengan taring birahi yang tajam. Suara Kemuning sangat merdu, seperti rayuan yang mendayu-dayu yang membuat pendengarnya terkapar dalam lamunan panjang.

Pada awal-awal kedatangannya, Kemuning menanyakan Elang. Elang adalah jagoan kampung kami yang buron setelah membunuh Naga dan memperkosa tunangan Naga, Kenanga. Elang langsung kabur tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi di kampung kami. Seminggu kemudian, Kenanga gantung diri sebab tak tahan menerima nasib tragis seperti itu. Peristiwa itu terjadi sepuluh tahun lalu saat kemarau kering menerjang semua kampung.

Dan, Elang tak pernah ada kabarnya lagi.

Dulu, sebulan hingga satu tahun setelah peristiwa Elang membunuh Naga, sering ada polisi yang menyamar mencari Elang. Namun, sekarang tak ada lagi yang mencari-cari Elang. Elang betul-betul tak ada kabarnya sama sekali. Elang tak punya siapa-siapa di sini. Orang tuanya sudah meninggal ketika ia berusaha sepuluh tahun. Ia hidup seorang diri di jalanan yang keras. Kehidupan keras di jalanan itu menyebabkannya tumbuh menjadi laki-laki yang kasar dan pemberani. Tubuh Elang kurus. Tapi, kulitnya putih sehingga Elang tak tampak sebagai anak jalanan. Saat remaja, Elang sudah akrab dengan kantor polisi. Keluar-masuk tahanan di kantor polisi menjadi kebiasaanya di usianya yang masih muda.

Konon, kata sebagian orang, Elang menaksir Kenanga, bunga kampung kami. Tapi, Kenanga tidak menyukai Elang sebab hati Kenanga sudah tertambat pada Naga yang kehidupannya lebih baik daripada Elang. Ada banyak orang yang melihat saat Elang merangkak-rangkak memohon cintanya Kenanga, tetapi Kenanga malahan menghina dan mengusir Elang. “Preman jalanan, aku tak sudi jadi kekasihmu!” teriak Kenanga pada hari Elang menyatakan cintanya. Sebuah teriakan penghinaan yang membuat luka sangat mendalam pada hati Elang. Penghinaan yang membuat Elang bersumpah. Sebuah sumpah yang dipantangkan untuk disebut-sebut oleh siapa pun agar tidak ada lagi orang yang menjadi korban. Ya, sumpah itu telah memakan korban, yaitu Kenanga.

(2)

Tiba-tiba Kemuning datang ke sini. Lalu, Kemuning memunculkan kembali ingatan kami kepada Elang.

“Kenapa Kemuning mencari Elang?” pertanyaan itu di awal-awal kehadiran Kemuning sering terdengar ketika beberapa warga berkumpul di suatu tempat.

“Mungkin, Kemuning itu kekasihnya Elang,” begitu ada yang menjawab. Tapi, jawaban itu adalah jawaban yang paling tidak diharapkan para lelaki muda.

“Kemuning itu mata-mata polisi yang hendak menangkap Elang,” kata sebagian orang. Mungkin, jawaban itu yang dianggap paling logis.

Aku pun pernah ditanyai soal Elang oleh Kemuning, saat itu dia tiba-tiba muncul di hadapanku ketika aku sendirian sedang duduk-duduk di pos tempat anak-anak muda seumuranku kongkow-kongkow. Aku terkejut, sekaligus gugup. Aku tak pernah didatangi perempuan cantik, apalagi perempuan yang kecantikannya menjadi pembicaraan orang-orang sekampungku.

“Kau kenal Elang?” tanyanya. Kemuning duduk di sampingku. Harum tubuhnya langsung menyebar sekitarku. Aku mencoba menutupi kegugupanku.

“Tidak. Aku masih kecil ketika Elang ada di sini,” jawabku. Untuk menyembunyikan ketaknyamananku atas kehadirannya, aku langsung bertanya, “Mengapa engkau mencari Elang?”

“Aku punya urusan pribadi dengan Elang,” jawabnya tenang.

“Urusan apa?”

“Rahasia,” jawabnya sangat tenang. Kemuning pun berlalu. Tapi, saat Kemuning membelakangiku tanpa sengaja aku melihat pada pundak kirinya sebuah gambar dengan warna kebiru-biruan. Tato! Aku surprised. Aku perhatikan lagi sebelum dia pergi jauh. Ya, penglihatanku tidak salah. Kemuning memiliki tato di pundak kirinya. Sayangnya aku tak tahu gambar apa itu.

Pada hari berikutnya, aku ceritakan pada teman-temanku tentang adanya tato pada pundak Kemuning. Teman-temanku tidak percaya, tapi mereka penasaran. Mereka ingin membuktikannya. Akhirnya pada sorenya beberapa temanku nekad mengintip Kemuning mandi. Berbeda dengan gadis-gadis di kampungku yang sering mandi di pemandian umum atau di kali, Kemuning mandi di kamar mandi di rumahnya. Persisnya, di rumah kontrakannya.

Ketika kami berkumpul kembali, teman-temanku yang pergi mengintip Kemuning mandi membenarkan bahwa ada tato pada tubuh Kemuning. Tato itu bukan satu, tetapi ada beberapa. Pada pundak kirinya, tatonya bergambar kupu-kupu. Pada seluruh punggungnya hingga pinggulnya, seperti gambar bunga-bunga begitu. Kata mereka, tato-tato itu sangat bagus apalagi tertera pada kulit kemuning yang putih seperti susu. Sayangnya, Kemuning tidak pernah membalikkan tubuhnya. Mereka hanya bisa menikmati punggungnya Kemuning, sedangkan tubuh bagian depannya hanya bisa dibayangkan.

Ah, aku sangat iri tidak bisa menikmati kemolekan yang disaksikan oleh teman-temanku dan tidak mampu membayangkan bagaimana perasaan temanku saat mengintip Kemuning mandi.

(3)

Ada banyak laki-laki yang mencoba mendekati dan menyatakan cintanya pada Kemuning. Tapi, selalu saja Kemuning secara halus menolak mereka. Kemuning seperti sedang menunggu seseorang yang sangat didambakannya untuk menjadi suaminya. Tapi, siapakah dia? Hanya Kemuning yang tahu. Namun, menurut kami, satu-satunya laki-laki yang paling cocok menjadi suami Kemuning adalah Bima, adik Kenanga. Selain tampan, Bima pun punya seorang pengusaha yang terbilang sukses. Ya, tentu saja perempuan secantik Kemuning pantasnya bersanding dengan suami tampan dan kaya. Hanya saja, Bima jarang pulang ke kampung kami. Bima memiliki rumah di sebuah kota besar. Ia hanya datang pada waktu-waktu tertentu saja untuk menemui kedua orang tuanya.

Bulan Juli tahun lalu, Bima pulang.

Entah kebetulan entah apa, di jalan menuju kampung kami, mobil Bima menyenggol becak yang ditumpangi Kemuning yang pulag dari pasar. Bima terpaksa harus membawa Kemuning yang lecet-lecet ke mantri di kampung sebelah. Rupanya, peristiwa itu mendekatkan Bima dengan Kemuning. Terbukti Bima sejak pertemuan yang tidak sengaja itu Bima sering pulang ke kampung kami. Hampir setiap bulan, Bima pulang.

Pada bulan Desember, kampung kami pun meriah oleh pesta pernikahan. Pesta pernikahan yang paling meriah yang pernah kami saksikan. Di pelaminan bersanding sepasang pengantin yang cantik dan tampan, mereka membuat iri setiap orang yang memandangnya.

Dua hari setelah pesta pernikahan itu, Bima membawa Kemuning ke rumahnya di kota besar. Kami tak pernah lagi mendengar ceritanya.

(4)

Kamar pengantin di rumah Bima.

Lelah setelah pesta pernikahan telah hilang. Saatnya bagi Bima dan Kemuning menikmati malam pertamanya.

“Tahukah, Bima, malam ini sangat aku nantikan?” kata Kemuning. Tangannya merangkul tubuh Bima.

“Ya sayang, aku tahu. Malam ini sangat istimewa, bukan?” Suara Bima agak bergetar. Berkali-kali dia menciumi istrinya.

“Ya, sangat istimewa sekali bagiku. Sebab, aku bisa berduaan denganmu, orang yang sangat aku tunggu-tunggu.”

Kemuning mendorong tubuh Bima ke ranjang pengantin mereka. Diambilnya minuman yang sudah disiapkannya, lalu diminumankan kepada Bima. Lantas, Bima berbaring di ranjang pengantin yang harum dengan wangi parfum. Matanya menatap Kemuning yang melepas satu per satu pakaiannya. Tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Ia tak mampu menggerakkan tubuhnya. Bima belum menyadari apa yang sedang terjadi ketika semua pakaian terlepas dari tubuh Kemuning. Bima terperanjat sebab pada dada kiri istrinya ada sebuah tato.

“Bima, tahukah engkau siapa aku sebenarnya?” tanya Kemuning sambil tersenyum. Sebuah senyum kemenangan.

“Kauuuu!?” suara Bima tak keluar. Tertelan keterkejutan dan ketakutan.

“Ya, ini aku, Bima. Kau ingat sumpahku, Bima? Sumpah yang aku ucapkan di depan rumahmu bahwa aku akan memperkosa Kenanga dan membunuh adiknya! Kau sekarang tak berdaya. Tadi aku memasukkan racun yang melumpuhkan otot-ototmu pada minuman yang kau minum, Bima.”

Bima ingat sumpah itu. Sumpah yang diucapkan oleh Elang dan sumpah itu sudah beberapa tahun dilarang untuk diungkit-ungkit dan dibicarakan lagi di kampungnya.

“Lihatlah, tato belati di dadaku ini!”

Ya, Bima ingat dan semua orang kampungnya pun tahu bahwa hanya ada satu orang yang punya tato belati di dada kirinya, yaitu Elang!

“Aku melakukan operasi kelamin dan sengaja mengubah diriku menjadi perempuan agar aku tidak dikenali orang-orang di kampungmu. Agar aku, bisa mendekatimu, Bima. Sebentar lagi hartamu akan menjadi milikku setelah kematian dirimu.”

Malam itu kian pekat. Ranjang pengantin dihiasi genangan darah.

-----------------Depok, 17 April 2014.

Insan Purnama

/kang_insan

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Kang Insan, begitulah saya biasa dipanggil... Reviewer Fiksi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?