Humaniora

Kanamaya 1

12 Agustus 2017   02:41 Diperbarui: 12 Agustus 2017   02:57 83 0 0

Pemetaan yang disebut alam semesta ini hanyalah pada batasan dentuman  besar atau big bang oleh dunia pengetahuan, bukanlah meledaknya sebuah  butiran menjadi serpihan-serpihan kecil.  Sesungguhnya itu hanyalah  sebuah perkembangan dimensi. Karakter alam semesta adalah sejati, dan  hanya sampai batasan dentuman besar itulah sejati. Karya penciptaan yang  tak terukur besarnya, lebih dari itu bukanlah sejati, namun sejati  dalam pengertian yang berbeda.

Di masa lampau sudah banyak  diceritakan tentang alam semesta, namun dengan terbatas sekali.  Banyaknya Avatar tingkat tinggi terjun saling menyusul pada dunia yang  berada paling dekat dengannya, dalam sebuah karya keselamatan gagah  berani menjadi manusia bumi sebuah kebijakan maha kasih demikian besar.  Dimusuhi, dikucilkan, fitnah, disebarkan berita bohong, sudah menjadi  tradisi setiap episode mereka yang mencuat ke permukaan. Namun karena  mengerti prinsip, beberapa diantaranya tak  perdulikan hal-hal demikian.  Bagi guru terhormat, semakin menderita, direndahkan, dihina,  disepelekan semakin baik. Siapapun orangnya, mereka juga terlebih dulu  membina diri sebelum terjun di tengah masyarakat luas. 

Ada yang tinggal  di daerah Midian mengasingkan diri selama 40 tahun, tetapi sambil tetap  melakukan pekerjaannya memelihara ternak. Di kemudian hari ia pun bisa  menurunkan hujan roti, membuat sumber air, dan membelah lautan.  Ada  juga yang tinggal bersembunyi di gunung Horeb beberapa waktu lamanya  lantas melanjutkan pergi ke tepi sungai Kerit selama 3,5 tahun di  sebelah timur sungai Yordan dengan minum dari sungai itu, dengan pakaian  jubah dan ikat pinggang biasa dimana  merupakan tanda orang-orang  asketik, yaitu yang sengaja hidup sederhana dan seminimal mungkin. Di  kemudian hari dikisahkan ia bisa mempunyai kuasa atas angin ribut waktu  musim panas, hujan, hujan es, guntur dan embun.  

Ada juga seseorang  selama 17 tahun bersembunyi di padang gurun dengan membina diri tanpa  banyak cerita, ketika muncul membuat gempar dunia. Sekali menoleh saja  sudah mampu mengobati segala penyakit, menghidupkan orang mati. Jikalau  ada sosok manusia bisa bertindak menerobos jiwa demikian besar,  membebaskan tabur tuai, sebab akibat, karma orang lain demikian besar,  maka dapat dikatakan jika tingkatannya sudah tidak rendah lagi.

Pertanyaan yang sering muncul, kenapa ada manusia bisa menciptakan kuasa mukjijat dahsyat dan melahirkan kuasa bernubuat?

 Di benak cara menafsirkan manusia bumi, terlalu sering kita hanya  mengandalkan asumsi, jika mereka diasumsikan manusia-manusia terpilih,  artinya sudah terpilih dari sananya, berarti sudah tidak ada yang bisa  dibicarakan lagi,  karena sepertinya itu sebuah harga mutlak tidak bisa  ditawar. Sebab tenggelamnya kekotoran manusia, kita selalu berfikir jika  Anda tidak mungkin dan sulit punya punya peluang menjadi manusia  pilihan berikutnya sebagai sosok terpilih. 

Bahkan karena tidak tahu  jawabnya, dan jiwanya tidak mencapai di tingkat itu, lantas mengatakan  masa sekarang sudah tidak diperlukan lagi hal-hal kekuatan besar karena  bukan jamannya diperlukan mukjijat besar. Akhirnya itu seperti tirai,  dimana manusia terus berputar-putar mencari jawabnya sehingga menjadi  sebuah ketidakberdayaan dengan sekelumit rahasia yang tidak bisa  terpecahkan, kenapa bisa terpilih, mengapa bisa ada kekuatan mukjijat  besar, bagaimana bisa begitu?

Akhirnya semua orang saling kalkulasi,  satu dengan lainnya hingga tidak bisa mengoreksi diri sendiri, kenapa  dirinya mempunyai keterbatasan yang tidak disukai oleh dirinya sendiri.  Saling mengeluh, saling berprasangka, bahkan rela dengan tanpa rasio  berjibaku berebut demi kemuliaan bagi pentahbisan orang lain di luar  diri untuk diposisikan pada takhta tinggi, berujung saling klaim demi  sebuah kepentingan dan ego.  

Bahkan orang tidak bisa mengerti  bagaimana ketika di langit sebenarnya membuka dimensi begitu besar bagi  apa yang disebut karya keselamatan. Agar semua makhluk berbahagia, semua  tingkat dimensi harus diselamatkan pada tingkatannya masing-masing.

 Yang diselamatkan bukan hanya manusia, namun flora dan fauna, segala  alam semesta, langit, galaxy, tata surya, bahkan seluruh materi yang  ada.

Dan di sini, akan mengupas semesta dari awal sampai akhir,  pada bahasa terbatas untuk bisa dimengerti makhluk hidup dan alam  semesta pada setiap tingkat-tingkatnya, sampai Anda benar-benar jelas  dan memahami hingga segala misteri terkuak indah.

Apakah  manusia-manusia lain yang tidak bertubuh manusia tidak memiliki hak  keselamatan yang sama?  Bukankah juga yang bertubuh bukan manusiapun   memiliki keistimewaan serupa? Bukankah ada banyak penguasa di segala  dimensi dan di tengah udara juga memiliki kemampuan bisa membuat hati  manusia tidak kuat bisa terbelah?  Bagaimana cara guru-guru terhormat  itu bisa melakukan kuasa-kuasa demikian ? 

Memang, pada masa lampau tidak  diceritakan detail eksistensi materi dan tubuh manusia, bukan sebab  para guru terhormat tidak mengetahuinya, justru karena mengetahui  periode saat inilah masanya, maka yang diceritakan di masa dahulu hanya  sebatas itu. Dan karena manusia di masa tersebut belum dapat berfikir  seperti era modern kini, sampai tumbuhnya peradaban masa Dharma akhir  baru saja dipersiapkan masa kini. Hal - hal demikian baru dimunculkan.  

 Ya, saat ini. Alam semesta sedang meluruskan diri secara tsunami  serempak, tanpa pandang bulu. Yang bengkok dan patah, tidak sesuai  dengan semesta akan dipersektif simetri. Dimana tanpa memiliki kenaikan  tingkat Jiwa, maka mustahil jiwa manusia dan partikel materi lain, akan  mampu melakukan sebuah perubahan besar dalam hidupnya, baik di masa kini  maupun di masa mendatang.