HIGHLIGHT

Wejangan Tiga Guru Sufi Tanah Jawa

18 Juli 2012 15:33:53 Dibaca :
Wejangan Tiga Guru Sufi Tanah Jawa
Sumber gambar: Dokumentasi Pribadi

Di tanah Jawa sejak dahulu memang kental dengan nuansa dimensi ruhaninya. Semenjak zaman Wali Songo yang diyakini sebagai penyebar agama Islam pertama, Islam menyebar dengan mengedepankan aspek eksoterismenya. Hal ini tidak terlepas dari jargon bahwa orang Jawa gone semu. Orang Jawa sepertinya lebih menyukai dimensi batin dibandingkan dengan syariat oriented, meski hal ini tidak berarti terjadi pengabaian soal syariat.

Buktinya, bahkan antara tasawuf dan syariat pernah terjadi ketegangan di tanah Jawa. Banyak yang menyebutkan perseturuan antara Syehk Siti Jenar dengan para ulama birokrat Demak Bintoro merupakan gambaran nyata perseteruan antara ulama tasawuf dan ulama syariat. Namun, hal ini perlu dikaji lebih luas, sebab ketegangan itu tidak lain ada aroma politik. Perlu diingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, yakni Kebokenongo merupakan cucu dari Raja Majapahit terahir dari Jalur permaisurinya, sedangkan raja demak juga cucu Majapahit tetapi dari jalur selir. Sehingga ketegangan itu sifatnya sangat politis.

Ketegangan antara syariat dan tasawuf berakhir ketika Thariqoh mulai masuk ke Indonesia sebelum abad 18. Seiring dengan banyaknya ulama tanah Jawa yang “nyantri” ke tanah Hijaz. Syehk Khatib As-Sambasy merupakan tokoh awal penyatu dua aliran thariqoh, yaitu Naqsyabandiyah dan Qodariyah. Penyatuan ini disinyalir sebagai bentuk kemesraan antara ulama fiqih dengan ulama thariqoh.

Buku ini memaparkan wejangan ruhani dari tiga sosok kiai di tanah Jawa: Syekh Muslih Bin Abdur Rahaman Al-Maraqy ( Mranggen Demak), Syekh Romli Tamim (Rejoso Jombang), dan Syekh Dimyathi bin Muhammad Amin Al-Bantaniy (Cidahu Banten). Wejangan ketiga kiai ini menggambarkan simbiosis antara tradisi syari’ah dengan tradisi thariqoh di dunia pesantren Jawa dan menjadi bukti adanya dinamika keagamaan yang khas.

Syekh Dimyathi al-Bantaniy atau yang lebih terkenal dengan Abunya Dimyathi. Beliau merupakan sosok ulama dari Banten sekaligus pemimpin jama’ah Thariqoh Sadziliyah. Wejangan Beliau, sebagaimana lingkup membawa pondok pesantren, tidak terlepas dari penekanan “mengaji”. Pesan beliau yang terkenal: “Jangan ngaji ditinggalkan, meskipun jarak antara majelis dan jalan raya sangat jauh, atau di luar sana berkecamuk perang dahsyat”. Ada lagi pesan Abunya Dimyathi yang patut diingat, “Biarpun dunia runtuh 1000 kali, pengajian di majelis jalan terus…”

Penekanan ini tidak terlepas dengan keyakian Beliau bahwa mengaji merupakan bentuk syukur hamba kepada Allah karena dikaruniai akal yang sempurna. Ngaji juga dikaitkan dengan upaya santri untuk membuang kebodohan dan gelapnya fikir (li izaalah al-jahli). Hal itu karena rancunya pikiran adalah bencana, carut marutnya nalar adalah “kegelapan” (Zhulumat) dan kegelapan adalah neraka. Selain itu mengaji merupakan hal yang tersulit dibandingkan menjadi wali. Orang lebih terpesona dengan kekeramatan seorang wali. Untuk memperoleh kharomah tersebut sangat mudah, tetapi menjaga keajekan ngaji adalah perjuangan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Meskipun Beliau berkecimpung dalam dunia sufi, tetapi tidak meninggalkan syara’. Pesan Abunya Dimyathi kepada santrinya penempuh jalan ma’rifat adalah derajat keutamaan tak mungkin diperoleh kecuali dengan kepatahuhan terhadap syara’. Jadi parameter utamanya adalah patuh pada syar’i. Maka, derajat seorang manusia di depan Allah selalu diukur dari seberapa banyak ia mau menjalankan perintah-perintah Allah dan lari dari larangan-laranganNya.

Berbeda dengan Abunya Dimyathi, Syaikh Romli Tamim merupakan Mursyid dari Thariqoh Qodariyah Wa Naqsyabandiyah. Beliau mengajar para santrinya di daerah Rejoso Jombang, Jawa Timur. Beliu juga seangkatan dengan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari (Tebuireng), dan Syaikh Wahab Hasbullah (Tambak Beras). Hanya saja, kedua ulama itu dikenal karena kerja-kerja keulamaannya, sementara Syaikh Romli dikenal karena wejangan-wejangan dan doktrin sufistiknya bagi para santrinya yang menginginkan wushul kepada Allah.

Wejangan Syaikh Romli bagi para santri suluk adalah “seharusnya bagi murid-murid thariqoh selalu tafakkur setiap waktu”. Maksud Syaikh Romli adalah seorang santri hendaknya tetap dalam keadaan “sadar”, senantiasa berdzikir dengan membentangkan perenungan pada akal ataupun nalar sehingga jalan dan gerak nafsu menjadi sempit dan terbatas. Sehingga menurut Syaikh Romli, baik dan tidaknya agama seseorang, bisa disebabkan oleh aspek dari tafakkurnya.

Senada dengan pendapat Abunya Dimyathi bahwa penempuh suluk tidak bisa meninggalkan syari’at. Oleh karena itu, Syaikh Romli berpesan, “syariat tidak bisa ditunda oleh hakikat!” Maksudnya bahwa kebenaran hakikat tidak bisa mengganti peranan syari’at karena dua hal tersebut tidak bisa dipisah. Menyitir ungkapan Syaikh Imam Ghozali dalam kitab Bidayahnya, Syaikh Romli menegaskan: “ Zahirnya takwa adalah syariat, sedangkan batinnya takwa adalah hakikat.” Singkatnya, rahasia yang tersembunyi dari syara’ adalah hakikat.

Syaikh Muslih Mranggen merupakan ulama thariqot yang lebih merakyat. Risalah kecilnya yang cukup terkenal adalah Futuhat ar-Rabbaniyah yang menguraikan doktrin sufistik “tersingkapnya ma’rifat ilahiyah”. Di dalam risalah kecil ini diuraikan agak mendatail dan teknis dalam penjelasannya tentang tata cara para santri dalam menjalankan thariqah, terutama 10 doktrinnya yang disebut sebagai “mabadi ‘ilmi ath-thariqoh” yang membahas landasan thariqoh Qodariyah Wa Naqsyabandiyah.

Sebagai ulama thariqoh Qodariyah wa naqsyabandiyah, Beliau sangat menekankan zikir bagi para santrinya. Mengutip wejangan Syaikh Ali al-Murshifi, dalam kitab Minah as Saniyah, Syaikh Muslih mengungkapkan:” Bahkan, para guru yang agung pun akan sulit memberi obat bagi para santri-santrinya agar memancarkan hati mereka, kecuali dengan mudawwamah dzikir!”.dzikir itu bagaikan batu gerinda yang terus menghaluskan hati para pengamalnya.

Dzikir laa ilaaha illallah, merupakan harga dan sekaligus kuncinya surga. Dalam pandangan Syaikh Muslih, dzikir menjadi “kunci” memasuki pintu surga maka sesungguhnya “kunci” itu terdiri dari berbagai “perangkat” lain yang merupakan bagian dari dzikir. Surga selalu digambarkan dengan keadaan tentram dan damai, maka tidaklah salah jika dzikir merupakan kunci surga, kunci ketenangan. Hal ini sesuai dengan firman Allah, bahwa hanya dengan berdzikir hati menjadi tenang.

Zikir kalimat thayibah, dalam kitab Tanbihul Ghofilin, mampu melebur 4000 dosa. Namun, Syaikh Muslih mengingatkan kita jangan menyalah pahami dengan berlaku “ceroboh” dan menganggap remeh “larangan-larangan” Allah karena menganggap dosa-dosanya mudah diampuni dengan tobat dan berdzikir kalimat thayibah. Menurut Syaikh Muslih, orang yang berperilaku demikian adalah orang-orang yang tertipu oleh nafsunya sendiri dan setan.

Demikian wejangan dari ketiga kiai yang cukup terkenal di kalangan ahli thariqoh di Tanah Air, khususnya tanah Jawa. Wejangan-wejangan para masyayikh ini sekirannya dapat menjadi bekal para salik dan umat Islam yang sebentar lagi menjalankan ibadah puasa. Sebab ibadah puasa bukanlah sekedar memuasakan perut dan nafsu libido. Puasa bukan sekedar menahan tetapi terus menerus mendzikirkan jasmani dan ruhani agar mencapai keseimbangan ketenangan dunia dan akhirat.

Judul : Tiga Guru Sufi Tanah Jawa

Penulis : H. Murtadho Hadi

Penerbit : LKiS Yogyakarta

Tahun Terbit : cet. II, 2012 (Edisi Khusus Komunitas)

Tebal : 250 halaman

kaha.anwar@gamail.com

Khoirul Anwar

/kaha.anwar

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Belajar di UIN Yogyakarta
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?