PILIHAN

Catatan untuk “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, Sepertiganya Rasa Bollywood

23 Desember 2013 12:41:45 Diperbarui: 24 Juni 2015 03:35:07 Dibaca : Komentar : Nilai :
Catatan untuk   “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, Sepertiganya  Rasa Bollywood
13877772521406437351

Adegan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (kredit foto Tribunnenews.com)

JudulFilm:Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Sutradara:Sunil Soraya

Bintang:Herjunot Ali,Pevita Pearce, Reza Rahadian, Arzeti Bilbina, Rendy Nidji

Rated:***

Saya sengaja mengajak kedua orangtua saya menonton film yang diadaptasi dari novel karangan HAMKA berjudul sama.Khususnya ayah saya yang lahir pada 1930-an tentunya mengetahui setting sosial yang terjadi masa itu di tanah kelahirannya dan juga sudah baca novelnya.Apa yang digambarkan film itu ketika Zainudin tokoh utamanya merantau dari tanah kelahirannya di Makasar ke Batipuh, Padang Panjangakurat.

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck bercerita tentangZainudin yang ingin silaturahmi dengan keluarga ayahnya dan di sana dia bertemu (Rangkayo) Hayati, asli Minang. bunga di perkauman itu. Zainudin jatuh hati. Sayang Hayati keturunan bangsawan dan Zainudin orang melarat. KemudianZainudin pun harus pergi ke Padangpanjang dan mendapati kenyataan Hayati menikah dengan Azis, keturunan bangsawan dan orang kaya. Zainudin pun merantau ke Batavia dan kemudian ke Surabaya menjadi sukses karena kerja kerasnya. Saya nggak masuk ke detail cerita karena sudah banyak diulasbaik di Kompasiana maupun di situs lain.Saya memberi catatan kesan saya pada film itu.

Bahwa memang ada orang Minangyang berpakaian tradisional dan ada yang berpakaian seperti orang Belanda (termasuk gaya rambutnya),ada yangmasih tinggal di Rumah Gadang dan ada yang sudah di rumah seperti orang Belanda juga pas.Menurut ayah saya keberadaan pacuan kudadi Padang Panjangjuga suasananya seperti itu.Tentunya harusnya tulisan Gelanggang Boekit Ambatjang, bukan Gelanggang Bukit Ambacang.

Pada segmen di Ranah Minang, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck saya beri applaus.Cara bertutur kaya dengan memakai pepatah dan syair terutama dialog antara Zainudin (Herjunot Ali) dengan Hayati,begitu juga Mamak-nya dengan Hayati (Pevita Pearce) memang seperti itu. Begitu juga bahasa surat-menyurat.Adegan ketika Zainudin yang jatuh sakit karena patah hati menggenggam tangan Hayati ternyata kukunya sudah berinai (kuku dicat tanda perempuan Minang sudah menikah).Saya jadi ingat sebuah lagu dari Elly Kasim Malam Bainai.

Pada segmen itu sang sutradara berhasil memotret permasalahan masa itu. Zainudin tidak dianggap sebagai bagian dari keluarganya atau orang Minang, karena ayahnya Minang dan Ibunya Bugis.Sebaliknya di Makasar dia juga tidak dianggap karena ayahnya orang Minang.Yang satu menganut matrineal dan yang lain patrineal.Zainudin jatuh hati pula pada Hayati yang asli Minang,yang bisa menikah harus restu mamak (paman yangdituakan dalam suatu keluarga besar/kaum).

Kedua, film itu juga menggambarkan dengan baik orang Minang yang terdidik Barat diwakilkan oleh Aziz (Reza Rahadian)dan adik perempuannya.Aziz digambarkan gemar kebut-kebutan dengan teman orang Belanda, diam-diam berjudi, bukan hanya berpakaian.“Aziz, ingat kau orang Minang.Jangan terlalu bergaul dengan teman-teman Belandamu,” kata ibunya.

Ayah saya memberikan nilai lebih pada Muluk (Randi Nidji)yang pas memerankan preman Minang lebih suka di pasar daripada di rumah.Tokoh ini menjadi sahabatbaik Zainudin yang menumpang di rumah keluarganya di Padang Panjang, hingga ikut merantau menemani Zainudinke Batavia dan jadi orang terpandang di Surabaya. Muluk kemudian menjadi partner bisnisZainudin.

segmen selanjutnya, Zainudinmenjadi pengarang mashyurdi Batavia berkat kerja kerasnya. Detail mesin ketika masa itu, surat kabar masa itu, pakaian, hingga tampilan buku pas dan detailuntuk segmen batavia. Karena keberhasilannyadia dipercaya menjadi perwakilan perusahaan penerbitannya di Surabaya.Di sana Zainudin sukses dan menjadi orang terpandang.Di segmen ini penggambaran menjadibak mirip mirp Bollywood.Zainudin digambarkan punya rumah gedung bergaya klasik, menyelenggarakan pesta dengan tarian-tarian.

Ayah saya ragu apa iya ada orang Indonesia pada masa itu punya rumah yang orang Belanda saja tidak terlalu banyak memilikinya.Saya juga sependapat sebab dari saya pelajari dari berbagai literatur, hingga majalah dan surat kabar sezaman memangmasa Hindia Belandamemang ada orang Indonesiayang kaya rayadi luar kelompok bangsawan.Mereka yang bergelimang harta karena kerja keras sebagai pengusaha memang ada tersebar di kota-kota besar.Kalau pribumipunya mobil juga ada di luar golongan bangsawan, pegawai menengah maupun pengusaha kelas UKM juga ada yang punyabahkan di kota seperti Bandung, Malang, Pontianak, hingga Gorontalo sekalipun. Tetapi apakah seperti Zainudin dalam film itu, tanda tanya besar.Dugaan sayapenggambaran inilebih karena pengaruh Bollywood.

Aroma Bollywood juga kental pada hubungan Zainudin-Hayati pada segmen Surabaya ini,mulai ketika pertemuan Zainudinyang berubah namanya menjadi Sabil dalam pesta,ketika Aziz dan Hayati tinggal di rumah Zainudinkarena bangkrut, hingga percakapanantara HayatidanZainudinyang begitu emosional setelah kematian Aziz.Akhirnya Hayati diminta pulang ke Padang Panjang menumpang Kapal Van der Wijck.Menurut cerita dan catatan sejarah memang kapal itulahtenggelam pada 20 Oktober 1936.

Lebih menonjol adegan saat Zainudin bertemu Hayati di rumah sakit, setelah kapal Van Der Wijk tenggelam. Adegan ini terasa melodrama seperti menonton film India. Tetapi mungkin cara sang sutradara agar film ini enak ditonton. Ya, memang bagi mereka yang menonton hanya untuk hiburan. Selain itu ada sedikit tanda tanya,mustahildengan transportasi masa itu kapal tenggelam pada 20 Oktober dan hari itu juga bisa bertemu? (Di makam tercatat Hayati meninggal 20 Oktober 1936).Lalu kemudian surat kabar (pada masa itu) mengabarkan kapal Van Der Wijk tenggelam secepat surat kabar sekarang? Ending film ini juga berbeda dari novelnya.

Dari departemen kastingHerjunot Ali, Pevita Pearce, apalagi Reza Rahadian benar-benar kerja keras.Tentunya juga Randy Nidji patut diacungi jempol.Begitu pemainlain pas, tidak ada yang janggal. Adegan kapal yang tenggelam, saya setuju dengan berapa peresensi film inijangan bandingkan dengan Titanic. Walau mungkin juga ada pengaruhnya.Bahwa ada adegan film yang mirip Gatsby jugasulit disangkal untuk gambaran suasana gaya hidup kota.

Secara keseluruhankehadiran Tenggelamnya Kapal Van Der Wijckharus diapreasiasi dengan baik sebagai sebuah tontonan di atas rata-rata film Indonesia.Saya menonton bersama keluarga di sebuah bioskop di Depok, Minggu (22/12) yang lalu.Sekitar 90%jumlah kursi terisi.Sementara Soekarno dan 99 Cahaya masih laris dan terisi separuhnya.Satu lagi film horor Indonesia (saya lupa namanya)hanya kurang dari 20 orang.

Irvan Sjafari

irvan sjafari

/jurnalgemini

TERVERIFIKASI

Saat ini bekerja di beberapa majalah dan pernah bekerja di sejumlah media sejak 1994. Berminat pada sejarah lokal, lingkungan hidup, film dan kebudayaan populer.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL film hiburan
Featured Article