Juneman Abraham
Juneman Abraham Dosen

Juneman Abraham :: Psikolog Sosial. Konsultan dan Peneliti Psikologi; Home page: http://about.me/juneman

Selanjutnya

Tutup

Regional

Psikologi Budaya Instan

25 April 2014   04:06 Diperbarui: 23 Juni 2015   23:13 1218 0 0

Ingin makan, instan. Ingin kaya, instan. Ingin terkenal, instan. Ingin cantik dan langsing, juga instan. Keinginan untuk mendapatkan segala sesuatu dengan cepat dan mudah menjadi tuntutan orang saat ini. Tak heran, budaya instan pun telah menjadi budaya baru bagi masyarakat modern. Bagaimana cara bertahan di tengah budaya instan yang kian marak? Berikut ini adalah butir-butir pemikiran Juneman Abraham, psikolog sosial dari Universitas Bina Nusantara.




Apa yang memicu budaya instan?


Pertama, serbuan tuntutan hidup, kompetisi, serta semarak dan serba cepatnya perubahan di lingkungan. Sementara itu, manusia secara biologis maupun psikologis memiliki kapasitas yang terbatas untuk mengolah informasi, melakukan refleksi/permenungan, dan merencanakan adaptasi. Jalan pintas lalu nampak menjadi pilihan yang "realistik dan rasional" di saat orang tidak mampu mengimbangi serbuan perubahan tersebut.

Kedua, perspektif waktu yang kian memendek. Hal ini dipengaruhi oleh revolusi teknologi yang memangkas ruang dan waktu, yang menyediakan cara untuk mamanipulasi badan serta benda-benda seturut keinginan kita secara cepat dan murah, serta kultur yang memuja-muja kecepatan sebagai ukuran pertama kesuksesan.

Ketiga, keterbukaan informasi dan nyaris tak terbatasnya bahan tontonan di sekitar kita. Dengan adanya media jejaring sosial (facebook, twitter, dsb), orang dengan mudah melakukan perbandingan antara dirinya dengan orang lain. Pada saat melakukan pembandingan itu, orang mudah mendapati kenyataan bahwa dirinya masih "kalah atau di bawah" dari orang lain (karena seperti kata pepatah "di atas langit pasti ada langit"). Ditunjang oleh suburnya ungkapan motivasional, "Kalau orang lain bisa, mengapa saya tidak bisa? Kalau orang lain bisa mencapainya dalam 3 jam, mengapa saya harus 3 hari?", lantas membuat orang mengejar terus untuk dapat mencapai apa yang bisa dicapai oleh orang lain (yang tidak ada habisnya). Frustrasi gampang menghinggapi dan menghalalkan segala cara bisa menjadi pilihan terdekat.

Keempat, pertukaran sosial yang dilandasi oleh materialisme dan imajinasi-imajinasi yang tidak lagi mengindahkan pakem moral. Sebagai contoh: Dalam sejarah pernah terjadi bahwa pengampunan dosa dan keselamatan spiritual ("masuk surga") dibayangkan seolah-olah bisa diperoleh dalam sekejap dengan cara menyumbang uang dan fasilitas kepada tempat ibadah. Cinta pasangan hidup seolah-olah bisa dilambangkan oleh perhiasan mahal. Gelar akademik bisa diperoleh dengan menyumbang uang ke kampus.

Kelima, apabila mengikuti penjelasan teori psikologi evolusioner: nenek moyang manusia tidak memiliki alasan yang kuat untuk memiliki tujuan hidup jangka panjang. Hal ini karena yang terpenting bagi mereka pada saat itu adalah survival (bertahan hidup) "pada hari ini" di tengah-tengah buasnya alam. Menurut psikologi evolusioner, penekanan pada masa kini pada nenek moyang kita itu mewariskan "program pikiran" serupa pada generasi-generasi berikutnya, termasuk generasi kita. Pengutamaan tujuan jangka pendek menjadi fokus pikiran.

Keenam, dilupakannya nilai-nilai religius yang menganjurkan kesabaran dan pengendalikan diri untuk mencapai sesuatu yang lebih agung atau mulia. Hal ini karena, disadari atau tidak, terjadi pergeseran dari Tuhan menjadi objek iman, menjadi: pekerjaan, status, harta, prestise, fashion, dan selera menjadi objek iman. Pendidikan gagal mengajak peserta didik untuk mampu mengambil jarak dan melampaui hasrat-hasrat diri sendiri, serta gagal menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan.

Baik atau burukkah budaya instan?

Budaya instan dapat berdampak buruk apabila melanggar prinsip-prinsip moral, seperti kejujuran. Sebagai contoh: menggunakan joki agar lulus ujian masuk perguruan tinggi. Budaya instan juga dapat menyebabkan frustrasi, kemarahan, bahkan depresi. Singkatnya, kesehatan jiwa memburuk. Hal ini karena dalam budaya instan terdapat asumsi bahwa kita dapat dengan instan mencapai apapun yang kita kehendaki. Padahal kenyataannya adalah tidak semua yang kita kehendaki dapat kita capai, apalagi dengan mudah dan cepat.

Dampak negatif lainnya adalah berkembangnya irasionalitas dan mistisisme. Oleh karena ingin serba cepat, orang ingin segala sesuatu seperti sulap magis, seperti "kantong Doraemon". Maka dapat kita saksikan orang berduyun-duyun datang ke Ponari untuk memperoleh jawaban atas segala persoalan hidup. Budaya instan juga dapat menurunkan derajat manusia ke tingkat hewani, karena sebenarnya yang membedakan manusia dengan hewan adalah kemampuan manusia untuk menunda pemuasan kebutuhannya.

Budaya instan juga dapat menyebabkan perbenturan dan konflik sosial. Misalnya, ketika kesuksesan satu pihak yang menggunakan metode instan menimbulkan iri hati pada pihak lain yang menempuh proses yang wajar, atau pada pihak lain yang memiliki definisi "instan" yang kecepatannya tidak sama. Yang terakhir, budaya instan dapat menimbulkan kepalsuan diri. Sebagai contoh: implan payudara dan penggunaan steroid terlarang bagi olahragawan untuk meningkatkan peforma. Hal tersebut bagi sebagian pihak menimbulkan persoalan mengenai keaslian atau otentisitas diri.

Kendati demikian, budaya instan dapat berdampak baik. Sebagai contoh: Pada saat darurat kebencanaan, mie instan dibutuhkan oleh korban bencana. Kita juga memuji pelayanan publik (pembuatan KTP, paspor, dll) yang instan, dalam arti: yang efisien, tidak berbelit-belit. Budaya instan juga baik ketika memiliki fungsi meningkatkan pemberdayaan diri. Sebagai contoh: adanya tes kehamilan dan tes penyakit diabetes instan yang bisa dilakukan sendiri melalui test pack. Juga, ketika mahasiswa bisa mengikuti perkuliahan profesor dari Harvard, Cambridge, dll, melalui online video dan e-book, dari rumah masing-masing. Di samping itu, budaya instan juga berdampak baik jika kita mengingat proses yang menyusunnya. Sebagai contoh, di balik restoran-restoran makanan cepat saji, di baliknya terdapat standarisasi proses dan produk yang ditaati secara disiplin.

Bagi sistem/tatanan, dampak yang jelas adalah suburnya budaya yang menekankan produktivitas.Kuantitas yang tinggi dalam waktu yang pendek menjadi indikator kinerja di mana-mana. Namun pada saat yang sama, interaksi sosial yang tulus dan otentik (dalam keluarga, antar tetangga, antar sejawat) memudar bahkan hilang karena semua relasi dibalut oleh kepentingan yang diburu waktu untuk dipenuhi. Orang juga sudah tidak memiliki "kavling pribadi". Mengapa? Karena ada tekanan sosial bagi setiap orang untuk memberikan respons yang lekas/segera. Email, WhatsApp, SMS harus cepat dibalas. Seorang karyawan harus bisa dihubungi oleh karyawan yang lain setiap saat untuk urusan pekerjaan, sebab bila tidak, karyawan tersebut akan dianggap tidak peduli kepada nasib organisasi. Dengan perkataan lain, ruang dan waktu privat telah direnggut oleh budaya instan. Di samping itu, budaya instan memiliki konsekuensi pada melemahnya pengendalian diri dan pengendalian sosial. Bila seseorang memiliki kebutuhan seksual, ia dengan mudah mencari video porno di internet dan segera bermasturbasi. Bila lebih lemah lagi kontrol moralnya, pelecehan seksual di kendaraan umum atau pemerkosaan di lahan publik bisa terjadi. Bila sebuah kelompok berbeda keyakinan dengan kelompok lain, maka berkumpul dalam massa, memberikan tekanan masal, bahkan kekerasan masal untuk menyingkirkan kelompok yang berbeda menjadi pilihan yang segera diambil. Yang lebih menarik lagi adalah menggejalanya narsisisme kolektif dalam tatanan sosial kita. Sebagai contoh: Kelompok-kelompok yang bertarung dalam Pilkada ingin mengetahui secepat-cepatnya hasil quick count. Mereka akan menjadi sangat gelisah dan curiga berlebihan, bahkan mudah marah, bila terjadi penundaan sebentar saja. Di perusahaan, para karyawan mengeluh seperti sebuah simfoni, "Apa yang dapat Perusahaan berikan untukku?".

Hal apa yang perlu diwaspadai dari budaya instan, dan apakah fenomena ini bisa diredam:



Bagi saya, hal mendasar yang patut diwaspadai adalah kehilangan diri, kehilangan makna hidup sebagai pribadi dan makna hidup bermasyarakat, karena tenggelam dalam arus instanisme. Dengan larut dalam budaya instan, lama-kelamaan kita tidak mengenal lagi: Siapa diriku sebenarnya? Mengapa gaya hidupku kini seperti ini? Mengapa kini aku jauh dari orang-orang yang sebelumnya dekat denganku? Apa sebenarnya yang aku tuju di dunia ini? Budaya instan tidak bisa diredam karena merupakan konsekuensi logis dari kemajuan peradaban. Namun demikian, dampaknya dapat diminimalkan dengan menciptakan penyangga-penyangga psikologis dan sosial agar diri tidak larut dan "hilang" dalam pusaran budaya instan. Caranya adalah sejak kecil anak diberikan edukasi informal maupun formal tentang penundaan pemenuhan kebutuhan (delayed gratification). Cara lainnya adalah dengan memperbanyak ruang-ruang refleksi dan ekspresi yang asli, yang tidak termakan oleh arus kepentingan sehari-hari. Ruang-ruang itu bisa diisi dengan kegiatan berkesenian, kegiatan spiritual, atau kegiatan kreatif lainnya yang intinya menciptakan "halte-halte berhenti" yang mampu memecah arus/pusaran kecepatan itu. Dengan demikian, kesadaran kita yang terenggut itu menjadi utuh kembali, dan kita kembali menguasai diri kita. Ruang refleksi itu juga dapat diisi dengan kegiatan diskusi yang membongkar kebiasaan "berpacu dalam kecepatan". Misalnya, di tengah-tengah arus global, orang dapat bersama-sama dalam komunitas lokalnya mendefinsikan ulang apa arti "waktu", "produktivitas", "sukses", "kerja", "indah", "kebutuhan", "keinginan", "hubungan", dan apa artinya "hidup".

(Tulisan ini sudah diterbitkan dalam versi yang telah diringkas dan disunting dalam Wawancara oleh MEDIA KAWASAN Edisi April 2014)