HIGHLIGHT

Mengenang Kejayaan Manchester United (1998-1999)

15 Mei 2013 09:42:42 Dibaca :
Mengenang Kejayaan Manchester United (1998-1999)
-

Saat itu, English Premier League memasuki musim 1998-1999. Saya baru duduk di kelas 2 Madrasah Sanawiyah (setingkat SMP). Musim itu, merupakan puncak kesinaran prestasi MU di bawah nakhoda Sir Alex Ferguson sejak era liga sepakbola Inggris diperkenalkan awal tahun 90-an. Bukti sahih mengatakan, di akhir musim itu, MU meraih treble winner: Liga Inggris, Liga Champions, dan Piala FA. Bahkan di bulan Nopember, 1999, MU meraih kampiun pada ajang Piala Toyota di Tokyo Jepang. Luar biasa.

Musim 1998-99, benar-benar tak akan pernah kulupakan. Sejatinya, saya bukan penggemar MU. Saya seorang Milanista (fans AC MILAN). Namun, saat itu, sihir magis permainan MU, amatlah membuatku kagum. Di setiap pertandingan, mereka kerap memeragakan permainan cepat ditambah finishing mematikan dari penyerang mereka sekelas Andy Cole, si baby face Ole Gunnar Solksjaer, Dwight Yorke, dan Teddy Sheringham. Belum lagi eksplosifitas para gelandang seperti David Beckham, Ryan Giggs, Nicky Butt, si Ginger PrincePaul Scholes yang bisa memanjakan geliat para jugador (penyerang) nya. Kehebatan dua lini ini tak akan sempurna bila tidak didukung dengan kecekatan lini belakang. Di lini ini, sinar kebintangan Neville bersaudara (Gary dan Phil), Dennis Irwin, Jaap Stam, dan Henning Berg, terlihat berpendar. Mereka bak karang kokoh. Agresivitas penyerang lawan saat melintas di kotak penalti MU selalu dibuat susah payah oleh mereka. Sekali lagi, musim itu, musimnya Manchester United.

Puncak dari kejayaan MU ada di Camp Nou, 25 Mei 1999. Saat itu, tim asuhan Sir Alex ditantang Bayer Munich, dengan pelatihnya Ottmar Hitzfield. Sama seperti MU, Bayern saat itu juga diperkuat oleh pemain-pemain hebat. Sebut saja palang pintu lini belakang yang juga kapten Die Rotten, Lothar Mattaeus. Ada lagi, playmaker Steven Effenberg, Mario Basler, Thomas Linke, Ali Daei, Mehmet School, Giovanni Elber, Oliver Kahn, Thomas Helmer, dan lain-lain.

Di pertandingan final kala itu, MU lebih dulu tertinggal 1-0. Gol pembuka Bayern dikreasi sempurna melalui freekick melengkung setengah melambung oleh Mario Basler di menit ke-6 babak pertama.

Pasukan Sir Alex tak patah semangat. Pelan-pelan, mereka mengorganisasi permainan dari lini per lini. Hingga menit 89, kedudukan masih unggul untuk Bayern Munich. Namun, petaka di 3 menit terakhir babak tambahan waktu. Dua gol MU hasil dari Ole Gunnar Solksjaer dan Teddy Sheringham memupus harapan Bayern mengangkat trofi eropa.

Malam penuh magis di Camp Nou. Dramatis. Menegangkan. Sarat emosi dan hasrat.

Kisah kemenangan MU atas Bayern Munich ini, menjadi penyempurna raihan treble winner mereka. Sebelumnya, mereka berhasil menyudahi liga dengan ending sebagai kampiun. Pun dengan raihan Piala FA yang mereka dapatkan setelah mengatasi perlawanan Newcastle United 3-0 di stadion Wembley London.

Itulah momen yang selalu kukenang dari Manchester United. Sebuah tim yang sarat historis, lebih-lebih prestasi. Taburan pemain muda dari class of 92, pada akhirnya bisa menyihir publik bola dunia. Meski, sebagian dari mereka tidak lagi mengenakan jersey merah MU.

Ahmad Junaedi

/juneditor

seorang pecinta sejarah NKRI, sastra Arab, selalu antusias dengan segala hal yang berbau sejarah (kecuali perdukunan) dan pelintas dimensi kultur kuno hingga modern
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?