HEADLINE HIGHLIGHT

Pulang dari Jepang, Tak Ingin Miskin Lagi

23 September 2012 22:40:56 Dibaca :
Pulang dari Jepang, Tak Ingin Miskin Lagi
Arie dan semangat tak Ingin Jamila, atau Jatuh Miskin Lagi / photo junanto

Namanya Ammad Arie. Saya pertama kali mengenalnya melalui jaringan facebook, sebelum kemudian bertemu muka beberapa kali. Arie, begitu ia biasa dipanggil, adalah satu dari sekian ratus ribu kenshushei atau tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Jepang. Para kenshushei, bekerja berdasarkan kontrak selama tiga tahun di berbagai perusahaan Jepang.

Minggu lalu (23/9), saya bertemu dengan Arie di sela-sela acara sosialisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR), yang diadakan oleh KBRI Tokyo, BNI Tokyo, bekerjasama dengan Kementerian Koordinator Perekonomian,  Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta perwakilan dari BNP2TKI.

Sebagaimana sekitar 200 orang pekerja Indonesia yang hadir pada hari itu, Arie punya satu cita-cita. Ia ingin sukses sepulang dari Jepang.  Namun ia menyadari bahwa sukses bukanlah langkah mudah. “Umumnya yang terjadi dari rekan-rekan kenshushei pak, pulang dari Jepang langsung foya-foya dengan uangnya, ataupun mencoba berhemat tapi tidak tahu untuk apa uangnya. Akhirnya uang habis begitu saja”, demikian tutur Arie pada saya.

Tak salah apa yang dikatakannya. Rata-rata para kenshusei, kalau pintar mengelola uangnya, selama tiga tahun bekerja di Jepang bisa pulang mengantungi uang sekitar Rp 200 juta hingga Rp 300 juta. Namun dengan uang sebanyak itu, kebanyakan dari mereka belum punya konsep untuk apa.

Akhirnya, mereka menghabiskan uang itu untuk kebutuhan konsumtif, mulai dari membeli aneka barang hingga liburan ke Bali. Akhirnya, kata Arie, banyak mantan kenshusei dari Jepang mendadak “Jamila” atau singkatan dari “Jatuh Miskin Lagi”.

Banyak juga teman Arie yang mengatakan kalau uang hasil kerja dari Jepang itu “uang panas”, karena saking frustasinya uang itu habis tak jelas untuk apa. Arie tidak sependapat dengan anggapan itu. Bukan perkara “uang panas”, tapi bagaimana agar kita bisa punya konsep untuk berwirausaha dengan uang itu.

Hal itulah yang membuat Arie mendirikan sebuah komunitas yang dinamakan Young and Success Entrepreneur Indonesia. Komunitas ini punya motto “Kalau Bisa Jadi Pengusaha Sekarang, Ngapain Jadi Karyawan Besok”.  Bersama kawan-kawannya, Arie mencoba menggalang semangat, membuat aneka workshop, pelatihan, bekerjasama dengan berbagai instansi yang ada di Jepang maupun pemerintah di Indonesia.

Di Hamamatsu kemarin, Arie dan kawan-kawan mendengarkan sosialisasi tentang Kredit Usaha Rakyat dari perwakilan beberapa kementerian. Informasi mengenai adanya pinjaman KUR khusus untuk TKI tentu sangat menggembirakan mereka. Dengan kelebihan modal yang mereka bawa nanti, bila dikelola dengan baik, plus tambahan modal KUR, menambah semangat mereka untuk memulai usaha.

Banyak kenshusei yang sudah memiliki visi untuk memulai usaha, atau bahkan ada yang sudah memiliki usaha, namun masih takut berhubungan dengan bank. Istilahnya, mereka ini “feasible” namun belum “bankable”. Di sinilah perbankan memiliki peran untuk memberikan informasi tentang cara-cara berhubungan dengan bank.

1348439574783895538
Usai Seminar KUR di Hamamatsu bersama Wakil Dubes RI (paling kanan) / photo junanto

Dari sekitar 200 kenshushei yang hadir kemarin, sebagian di antaranya juga sedang mempersiapkan diri untuk kembali ke tanah air. Dengan pengalaman kerja dan modal yang mereka miliki, mereka sangat berharap bisa memulai usaha di tanah air.

Selain komunitas yang dibangun Arie, di Jepang sendiri banyak terdapat komunitas yang memiliki kepedulian sama. Ada Ikatan Pekerja Trainee Indonesia Japan (IPTIJ) ataupun Working Group for Technology Transfer (WGTT) yang secara aktif mengadakan pelatihan-pelatihan kewirausahaan dengan mengundang para pengusaha sukses, ataupun mantan kenshusei yang jadi wirausahawan. Hal tersebuut dilakukan untuk meningkatkan semangat dan membekali para kenshushei dengan berbagai informasi tentang wirausaha.

Semangat berbagai komunitas kenshushei di Jepang tersebut kiranya perlu kita acungi jempol. Mereka tetap semangat membekali diri mereka sendiri tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pemerintah. Alih-alih mengeluh, mereka justru berbuat sesuatu demi masa depan mereka.

Di Jepang sendiri, saya sering mendengar pujian dari pengusaha Jepang atas keunggulan pekerja Indonesia, dibandingkan negara-negara lain. Mereka disiplin, mau belajar, tekun, dan mudah diatur. Ini sebuah keunggulan dari karakter bangsa Indonesia yang membuat Jepang kerap meminta tambahan pekerja Indonesia setiap tahunnya.

Arie sendiri misalnya, saat ini bekerja di daerah Hamamatsu pada satu perusahaan konstruksi yang membangun rumah tahan gempa. Perusahaannya sangat menyukai pekerja dari Indonesia karena ketekunan mereka.

Arie rencananya akan kembali ke Indonesia tahun 2013 nanti. Ia akan kembali ke Medan atau tanah kelahirannya di Aceh. Di sana, ia ingin menebarkan ilmunya untuk membangun konstruksi rumah-rumah penduduk anti gempa.  Ia sendiri sudah memulai beberapa usaha di tanah air, yang saat ini dikelola saudaranya.

Sukses selalu buat Arie dan rekan-rekan kenshushei Indonesia. Gambatte Kudasai!

Junanto Herdiawan

/junantoherdiawan

TERVERIFIKASI (BIRU)

Pecinta ekonomi dan traveling. Penulis empat buku, Flying Traveler, Shocking Japan, Shocking Korea, dan Japan Aftershock. Saat ini tinggal dan bekerja sebagai ekonom di Surabaya, Jawa Timur. Bertugas mencermati dinamika ekonomi regional Jawa Timur. Ber-twitter di @junanto
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?