HEADLINE HIGHLIGHT

Mencicipi Fugu, Sang Ikan Kematian

06 Maret 2011 12:55:00 Dibaca :
Mencicipi Fugu, Sang Ikan Kematian
Ikan Fugu di Akuarium / wikipedia

Fugu adalah ikan kematian (fish of death). Memakan ikan fugu, ibarat melakukan Russian Roullete. Selalu ada peluang untuk mati. Ikan fugu, yang di Indonesia dikenal dengan nama ikan buntal, memang mengandung kadar racun yang sangat berbahaya. Ikan ini bisa mengembungkan diri dan menyebar racun ke seluruh tubuhnya untuk bertahan dari musuh. Racun fugu terletak di bagian hati (liver) dan perutnya (ovarium). Cara bekerja racun Fugu juga cepat. Sesaat setelah memakan ikan fugu, lidah kita akan kaku dan tubuh menjadi lumpuh. Racun Tetrodoxin yang terdapat di ikan fugu memang bekerja dengan melumpuhkan otot dan syaraf kita. Saat lumpuh, kita tetap sadar, tapi tak bisa bergerak, hingga kehabisan oksigen, dan berakibat pada kematian. Namun, orang Jepang memang “gila” pada ikan. Semua jenis binatang di laut mereka makan, termasuk ikan beracun ini. Kalau kita jalan ke daerah Pasar Ikan Tsukiji, banyak sekali dijual ikan fugu segar dan hidup. Restoran Fugu juga tak kalah banyaknya. Ada ratusan restoran Fugu bertebaran di kota Tokyo. Selama satu tahun tinggal di Jepang, saya belum berani mencoba ikan fugu. Siapa mau ambil risiko mati, gara-gara makan ikan? Terdengar konyol banget kan hehehe. Tapi pekan lalu, saya diajak untuk mencicipi Fugu. Menurut kawan-kawan di Jepang, ikan ini enak rasanya. Kita tak perlu khawatir karena ketentuan pemerintah Jepang sangat ketat untuk restoran yang menyajikan Fugu. Hanya juru masak yang telah memiliki sertifikat dan keahlian saja yang boleh memotong fugu. Berdasarkan keyakinan tersebut, sayapun berpikir, siapa takut? Dan kamipun meluncur menuju restoran Genpin Fugu, yang terletak di daerah Roppongi. Ini adalah sebuah restoran yang sudah bertahun-tahun terkenal menyajikan fugu. Kalau dilihat secara bentuk, ikan ini memang cute banget. Bentuknya manis seperti boneka. Tapi memang kita jangan mudah terpesona oleh penampilan. Racun fugu ini kabarnya seribu kali lebih berbahaya dari sianida. Satu tetes racun ikan torafugu (fugu macan), bisa membunuh sekitar 30 orang.

12994143501069449860
Sashimi Fugu / photo JH
Kabarnya, usai Perang Dunia ke-2 dulu, korban mati akibat memakan Fugu mencapai ratusan dalam setahun. Tapi kini, korban mati akibat makan fugu telah jauh berkurang, terutama sejak ketatnya peraturan pemerintah terkait dengan sertifikasi juru masak fugu. Rata-rata kematian akibat makan Fugu di Jepang, kini hanya sekitar 1-3 orang pertahun. Menurut data Tokyo Bureau of Social Welfare, rasio fatalitas akibat memakan fugu hanya sekitar 6,8%. Umumnya korban itu adalah para nelayan ataupun juru masak amatir yang memakan langsung fugu hasil tangkapannya. Hampir tidak pernah terjadi kasus keracunan di restoran. Dari tahun 1996 -2006, hanya ada satu kasus keracunan yang terjadi di restoran. Memang kalau mendengar risiko tersebut kita jadi berpikir berulang kali untuk mencicipi Fugu. Namun melihat pada keamanan, keketatan regulasi, dan tentu sensasi dari rasa Ikan Fugu, tak ada salahnya untuk mencicipi. Dan sayapun akhirnya sudah duduk di dalam restoran Fugu, memesan beberapa menu terbaik yang disajikan. Menu pertama adalah salada kulit fugu mentah. Irisan kulit fugu mentah disajikan dalam cawan bercampur dengan kuah shoyu, cuka, dan daun bawang. Kulit fugu ini kenyal rasanya, seperti kikil, namun lebih lembut. Kulit ini mengandung kolagen yang bagus bagi kesehatan. Saya cicipi, dan hmmm, rasanya ternyata lezat. Kenyal-kenyal asam kuah. Usai makan, saya tunggu sekitar dua menit, ternyata saya masih hidup. Sayapun lanjut ke hidangan selanjutnya. Menu selanjutnya adalah sashimi fugu. Inilah sajian fugu yang paling populer, kerap juga disebut fugu shashi atau tessa. Daging fugu mentah diiris begitu tipisnya. Saking tipisnya, saya dapat melihat bayangan piring di bawah daging ikan. Saya mencampur sashimi fugu ini dengan shoyu. Hmmm, betul kata kawan-kawan. Rasanya memang enak, berbeda dengan ikan-ikan lainnya. Secara bentuk tampilan mungkin mirip dengan ikan kampachi. Tapi tekstur fugu lebih chewy dan mudah dikunyah. Penilaian saya, recommended. Masih hidup juga, sayapun lanjut ke hidangan selanjutnya, Fugu goreng atau Fugu Kara-Age.
12994148601293189536
Fugu Kara-age / photo JH
Fugu Kara-Age adalah bagian daging dekat perut dan kepala fugu yang digoreng garing. Disajikan dengan kacang ginko, cabai, dan irisan jeruk lemon. Taburi lemon kalau suka. Saat saya cicipi, hmm gurihnya sungguh lezat. Tekstur dagingnya, jauh lebih lembut dari kakap, meski tak selembut gindara. Secara umum, Nikmat. Sajian puncak adalah shabu-shabu fugu atau juga dikenal dengan fugu chirinabe. Irisan daging ikan fugu, dengan sayur-sayuran, direbus dalam pot kertas yang dipanaskan di tengah meja. Pelayan restoran memasukkan irisan daging ikan serta sayur-sayuran. Saya mencicipi kelezatan bagian-bagian fugu yang dicampur dengan saus shoyu dan kecap. Waduh, rasanya sungguh membuat saya ingin kembali lagi suatu hari nanti. Mencicipi sajian Fugu adalah sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Terlepas pada cerita horor di baliknya, orang Jepang telah memakan fugu sejak ribuan tahun lalu. Fugu diyakini juga mengandung gizi, rendah lemak, dan kaya vitamin, selain kelezatannya. Soal harga juga bervariasi. Banyak yang mengatakan bahwa harga fugu mahal. Namun di restoran itu, harga fugu mulai dari sekitar 200 ribu rupiah, hingga satu juta rupiah untuk sajian Fugu. Ada pepatah Jepang yang terkenal tentang Fugu. Bunyinya, Fugu Wa Kuitashi, Inochi Wa Oshishi. Artinya, Aku Mau Makan Ikan Fugu, Tapi Aku Tak Mau Mati. Anda berani mencoba? Salam Fugu
1299414598290782743
Shabu-shabu Fugu / photo JH
1299415187160303482
Fugu chirinabe / photo JH
12994152592056287259
Memasak Shabu Fugu / photo JH

Junanto Herdiawan

/junantoherdiawan

TERVERIFIKASI (BIRU)

Pecinta ekonomi dan traveling. Penulis empat buku, Flying Traveler, Shocking Japan, Shocking Korea, dan Japan Aftershock. Saat ini tinggal dan bekerja sebagai ekonom di Surabaya, Jawa Timur. Bertugas mencermati dinamika ekonomi regional Jawa Timur. Ber-twitter di @junanto
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?