Junanto Herdiawan
Junanto Herdiawan bank sentral

Pecinta ekonomi, kuliner, dan traveling. Penulis lima buku: Orang Jepang Naik Haji, Flying Traveler, Shocking Japan, Shocking Korea, dan Japan Aftershock. Selebgram sebagai Flying Traveler di akun IG @junantoherdiawan. Bekerja sebagai Plt Kepala BI Fintech Office Jakarta. Sebelumnya menjabat sebagai ekonom senior di BI Tokyo, Kepala Ekonom di BI Surabaya, dan Kepala Divisi di Dept Komunikasi BI.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan highlight headline

The Exception: Teka-teki Moral Antara Baik dan Buruk

10 September 2017   21:59 Diperbarui: 11 September 2017   03:11 2002 3 2
The Exception: Teka-teki Moral Antara Baik dan Buruk
Poster film The Exception (Sumber: www.psarips.com)

Setting film yang berlatar belakang Perang Dunia ke-II selalu menarik perhatian saya. Pada film-film tersebut saya dapat melihat berbagai dimensi yang diangkat saat Eropa berada dalam kekacauan akibat perang. Tak terkecuali di film The Exception. Film yang diangkat dari novel karya Alan Judd ini, membidik kisah menarik dari satu tradisi kekaisaran di Eropa. Terlepas dari plot ceritanya yang berisi ketegangan, melodrama, dan bumbu seks di ranjang, The Exception mengangkat satu periode sebelum tragedi dan horor PD II dimulai oleh Nazi.

Kisah film ini berkisar seputar masa-masa akhir Kaisar Prussia (yang kekuasaannya melingkupi Jerman) terakhir, yaitu Kaisar Wilhem II (Christoper Plummer) dan istrinya (Janet McTeer) saat berada dalam pembuangan di Belanda. Kaisar disingkirkan saat  Adolf Hitler dan Partai Nasional Sozialist-nya berkuasa di Jerman. Namun Hitler masih tetap mempertahankan kehidupan dan keberadaan Kaisar Wilhelm dengan tujuan agar ia dapat membongkar konspirasi dan kekuatan-kekuatan yang masih berada di sekitar Kaisar tersebut. 

Plot selanjutnya di film tersebut adalah tentang Kapten Brandt (Jai Courtney), perwira Jerman yang ditugaskan mengawal (dan memata-matai) Kaisar, dengan Mieke De Jong (Lily James), pelayan muda cantik yang bekerja di istana "pengasingan" Kaisar. Mieke, yang kerap menemani Kaisar memberi makan bebek, sambil sesekali sang Kaisar menggodanya, memiliki hubungan gelap dengan Brandt.

Adegan The Exception / source Hollywood Reporter
Adegan The Exception / source Hollywood Reporter

Hubungan Brandt dan Mieke, yang digambarkan dengan beberapa adegan ranjang, menjadi poros cerita film ini. Masalahnya menjadi rumit ketika Brandt mengetahui bahwa Mieke adalah seorang Yahudi. Apakah Mieke menjebak Brandt? Atau Brandt mengeksploitasi Mieke? Atau mereka hanya dua orang dewasa yang digerakkan oleh libido? Pertanyaan tersebut menjadi menarik dalam plot film The Exception.

The Exception adalah cerita tentang Orang yang Memiliki Karakter Pengecualian. Mieke de Jong, yang notabene seorang pelayan, di film itu digambarkan sebagai orang yang mengagumi filsuf Jerman, Friedrich Nietzche. Buku Nietzche yang berjudul "Beyond Good and Evil" menjadi bacaannya, yang di akhir perang kemudian buku ini dikirimkannya pada Kapten Brandt.

Kapten Brandt adalah tipikal orang yang memiliki kekecualian. Sebagai seorang perwira Jerman, Brandt adalah seorang patriot. Ia sadar akan tugas dan kewajibannya dalam membela negara. Namun ia juga seorang manusia yang tidak bisa menerima kekejaman dan kesadisan tentara SS saat ia turun di medan perang Polandia. Dalam hatinya ia mengutuk kejahatan perang. Baginya, negara Jerman dan militer Jerman seharusnya memiliki kehormatan dalam berperang, bukan dengan melakukan genosida pada anak-anak. Mieke melihat sifat ini dalam diri Kapten Brandt, dan mencoba meyakinkan bahwa keyakinan Brandt itu benar. "They are the rule," kata Mieke, "You are the exception."

Ini satu pandangan yang dimaksud oleh Nietzche dalam bukunya "Beyond Good and Evil". Kita perlu untuk dapat melihat sebuah peristiwa atau sikap. Sesuatu dapat dikatakan baik atau jahat, sangat bergantung pada keyakinan dan pemahaman seseorang. Kita perlu bergerak melebihi apa itu baik dan apa itu buruk. Karena keyakinan kita bisa jadi bergantung pada berbagai variabel, apakah itu ideologi, keyakinan, peraturan, ketentuan, atau suara hati. Melakukan pembantaian, pembunuhan, atau teror, pada orang atau kaum yang dianggap liyan, mungkin bisa dianggap benar dilihat dari satu keyakinan agama atau politik. Tapi suara hati bisa mempertanyakan apakah keputusan itu baik secara moral. Hal inilah yang menjadikan Kapten Brandt sebagai The Exception.

Kita melihat dunia saat ini diwarnai oleh berbagai ketegangan dan penghancuran. Saling menghasut dan menebar ujaran kebencian. Satu kelompok merasa benar dan menganggap yang berbeda itu salah, tanpa saling menghormati. Kita begitu mudah marah, begitu mudah tersinggung, dan begitu mudah menebar kebencian pada kelompok lain yang berbeda. Semua tentu memiliki alasan yang bisa jadi dijustifikasi secara baik, bisa dari sisi kepentingan politik, agama, ataupun kebenaran suku dan ras. Tapi apakah itu betul-betul baik? Mungkin kita perlu mempertanyakan sekali lagi sebelum bertindak.

Film The Exception seolah mengingatkan kita bahwa di balik apa yang tampak dan apa yang banyak orang yakini, kita bisa jadi pengecualian apabila mau mendengar suara hati. Tentu hal ini bukan sebuah langkah mudah, apalagi di tengah kehidupan dunia yang bergerak cepat di tengah media digital. Tapi mari kita berusaha untuk menjadi orang baik, orang yang dikecualikan. Salam.