Hijau

Back to Nature, Pangan Organik

13 September 2017   10:59 Diperbarui: 13 September 2017   17:18 334 1 1
Back to Nature, Pangan Organik
sayuran-organik-59b905da830de00cf645e912.jpg

Dewasa ini sering kita lihat penyakit-penyakit aneh bermunculan. Bisa dibayangkan berapa besar biaya yang dikeluarkan untuk mengobati penyakit tersebut. Pola hidup kita yang tidak sehat merupakan salah satu faktor pemicunya. Mengkonsumsi makanan kaleng, instant, siap saji dalam waktu lama akan membahayakan kesehatan tubuh. Dalam jangka pendek makanan itu tidak terlalu berbahaya, namun karena akumulasi zat-zat bahan makanan kimia lainnya  yang membuat daya tahan tubuh kewalahan. Oleh karena itulah, mengapa dewasa ini banyak masyarakat yang mulai melirik pangan organik ini (back to nature).

Meningkatnya kesadaran lingkungan dan kesehatan secara umum pada populasi manusia di era modern telah mengubah paradigma pertanian. Dimana selama ini berpijak pada pertanian konvensional telah bergeser menjadi pertanian organik. Pertanian organik merupakan jawaban atas dampak revolusi hijau yang digalakkan pada era tahun 60-an yang telah menyebabkan kesuburan tanah menjadi berkurang dan kerusakan lingkungan akibat pemakaian pupuk  dan pestisida kimiawi yang tidak terkendali. Pertanian organik adalah sistem budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis.

Pangan organik dapat artikan sebagai pangan yang diproduksi tanpa pupuk kimia atau pestisida. Ada juga yang menyatakan bahwa makanan organik adalah makanan yang paling murni ditanam atau diproduksi tanpa bantuan zat kimia. Pangan organik adalah semua bahan pangan yang diproduksi dengan sedikit mungkin atau bebas sama sekali dari unsur-unsur kimia (pupuk, peptisida, hormon, dan obat-obatan). 

Ahli Terapis Organik dari Healthy Choice Kemang dr Angela C Ardhanie, mengatakan yang dimaksud produk organik ialah produk pangan yang pada proses penanaman dan pembuatannya tidak menggunakan bahan kimia atau zat-zat berbahaya. Misalnya, beras dan sayur organik yang pada proses penanamannya tidak menggunakan pestisida atau pupuk kimiawi (Segar Organic website 2007).

Menurut Harry Freitag, ahli gizi dari Program Studi Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, makanan organik adalah dalam bentuk nabati ataupun hewani yang bebas dari bahan-bahan yang tidak senormalnya berada di alam. Jadi yang tidak terkontaminasi dengan pestisida, obat-obatan seperti antibiotik dan hormon yang ada di produk susu atau daging ayam. Pangan organik merupakan produk pangan segar, setengah jadi, pangan jadi, mulai dari penanaman bahan mentah, proses pengolahan dan distibusinya, masing-masing telah memenuhi kaidah Codex Alimentarius Commission (CAC) dan IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movements). CAC merupakan organisasi yang dibentuk oleh WHO/FAO dan satu-satunya organisasi yang mengatur perdagangan pangan dan standar-standar pangan dunia.

Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris, banyak orang telah beralih untuk membeli produk-produk pangan organik. Data WTO menunjukkan bahwa dalam tahun 2000-2004 perdagangan produk pertanian organik dunia telah mencapai nilai rata-rata US$ 17,5 milyar. Terdapat peningkatan preferensi konsumen terhadap produk organik, secara umum tingginya tingkat pertumbuhan permintaan produk pertanian organik di seluruh dunia mencapai rata-rata 20% per tahun.

Di Indonesia sendiri, permintaan terhadap beras organik terus tumbuh dari tahun ke tahun. Data yang dirilis Pertanian Sehat Indonesia, 2012, menunjukkan tren peningkatan yang cukup siginifikan. Bahkan di tahun 2009, permintaan beras organik dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan produksi yang dihasilkan. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan membuat trend konsumsi beras organik turut tumbuh pesat. 

Dr Oetjoeng Handayanto, ahli terapi kolon di Bandung, Jawa Barat, sebagaimana dikutip dari Trubus-Online mengungkapkan, konsumsi nasi organik mencegah beragam penyakit degeneratif seperti kanker. Oetjoeng mengatakan konsumsi pangan beresidu tinggi sejak dini dalam jangka panjang dapat memicu kanker; bagi pria, juga menghambat pertumbuhan zakar. Jangankan menyantap langsung, bayi yang disusui perempuan yang mengkonsumsi nasi berkadar residu tinggi saja membahayakan kesehatan.

Kepedulian akan kesehatan tubuh melahirkan kebiasaan-kebiasaan baru dalam masyarakat Indonesia. Salah satu di antaranya adalah mengonsumsi beras organik. Tumbuh alami tanpa rekayasa kimia membuat beras organik adalah pilihan tepat bagi mereka yang ingin menjaga kesehatan sekaligus terhidar dari penyakit-penyakit mematikan seperti kanker, diabetes, gangguan pencernaan dan sebagainya.

Penggunaan bahan kimia berbahaya hampir semua digunakan pada berbagai sektor termasuk sektor pertanian. Penggunaan bahan kimia sintetis dalam sektor pertanian sudah dimulai dari tahap awal produksi hingga tahap akhir produksi. Mulai dari persiapan lahan, benih, penanaman, pemupukan, perlindungan, pengairan, pemanenan, pascapanen, pengolahan, distribusi hingga penyajian hingga pangan siap dikonsumsi.

Prinsip masyarakat negara maju yaitu biarlah keluar biaya lebih untuk membeli pangan organik ketimbang yang anorganik. En toh, akan berdampak baik terhadap kesehatan tubuh dalam jangka panjang. Jika kita sakit karena mengkonsumsi pangan yang mengandung residu zat kimia, maka akan keluar biaya besar juga untuk pengobatannya. Biarlah keluar uang lebih dari sekarang dibanding nanti pada hari tua keluar biaya untuk berobat. Prinsipnya tetap "kesehatan itu penting, tidak bisa dinilai dengan apapun dan tidak ada jualannya".