HIGHLIGHT

MENELUSURI KEHIDUPAN SYEKH SITI JENAR (II)

02 Mei 2010 12:45:32 Dibaca :


st1:*{behavior:url(#ieooui) }
<!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:EN-GB;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} -->
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:"";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";}


Kisah Syekh Siti Jenar juga terdapat dalam Serat Walisana terbitan Tan Khoen Swie, atas dasar naskah salinan Harjawijaya tahun 1918. dalam serat tersebut diceritakan :



Ageng paguronireki,


sinuyutan pra ngulama,


pan wonten sabat sawiyos,


saking tanah Siti Jenar,


nama San Ngali Ansar, katelah dununganipun,


winastanan Seh Lemah Bang.



Artinya :



Besarlah perguruannya (Sunan Giri),


dicintai para ulama,


adalah seorang muridnya,


dari negeri Siti Jenar,


bernama San Ngali Ansar,


terkenal dari tempat tinggalnya,


disebutlah dia Syekh Lemah Bang.



Pada bait tersebut dinyatakan bahwa nama asli Syekh Siti Jenar adalah San Ngali Ansar atau Hasan Ali Ansar. Nama ini umumnya dikenal sebagai nama Arab dan oleh karena itu muncul dugaan bahwa Syekh Siti Jenar bukan orang Jawa asli, melainkan berasal dari tanah Arab. Sedangkan kata “Siti Jenar” diperkirakan merupakan nama tempat tinggal atau paguron murid Sunan Giri yang bernama Hasan Ali Ansar itu.


Sejumlah sumber lain menyebutkan bahwa Syekh Siti Jenar memperoleh ilmu kasampurnan bukan dari Sunan Giri, melainkan karena ikut mendengar wejangan Sunan Bonang kepada Sunan Kalijaga di atas perahu di tengah rawa. Wejangan itu dilaksanakan di tempat yang sepi dengan harapan agar tidak ada orang lain selain Sunan Kalijaga yang mendengarkannya. Tetapi karena perahu yang mereka naiki itu bocor, dan Sunan Kalijaga berusaha menambal kebocoran itu dengan tanah yang ternyata terdapat seekor cacing kecil (elur) di dalamnya, maka cacing itu ikut mendengar wejangan Sunan Bonang dan memperoleh kemampuan berbicara seperti layaknya manusia.


Kisah ini didasarkan atas bait tembang Dhandanggula dalam buku Wejangan Wali Songo yang dihimpun oleh Wirjapanitra, sebagaimana yang dikutip oleh Sujamto (2000 : 94-95) :



Nulya wonten cacing lur mangreti, mring wangsite Sunan kang wasita, cacing katut ing popoke, duk Sunan Kali iku, ngambil endhut katutan cacing, wo popoking baita, mangerti kang semu, nulya ruwat dadya janma, aglis matur kawula inggih mangreti, ajeng apuruhita.



Sunan Benang kagyat amiyarsi, ngandika sapa ingkang angucap, dene tan katon warnane, punang cacing umatur, kawula lur mangreti wangsit, duk wau asasmita, tinampenan semu, semune jati manungsa, pan kawula tumut tampi semu wadi, ngraos dados kawula.



Sunan Benang angandika aris, wus pasthine kudrating Hyang Sukma, cacing ngrungu dadi wonge, mundhi sabda Sang Wiku, iya uwis tarima mami, setyanira maring wang, karsane Hyang Agung, datan kena sumingkira, setyanira iya marang ingsun iki, arana Siti Jenar.



Ya arana Seh Lemah Bang becik, de asale saka ing lemah bang.



Artinya :



Syahdan ada cacing yang ikut mengerti, tentang wejangan ilmu dari Sunan (Bonang), cacing itu terikut dalam tambalan perahu, waktu Sunan Kalijaga mengambil tanah lumpur, untuk tambal perahu, cacing itu ikut mengerti ajaran rahasia, lalu menjelma menjadi manusia, lalu berujar bahwa dia mengerti dan berniat untuk ikut berguru.



Sunan Bonang terkejut mendengar itu, menanyakan siapa yang berbicara, karena tak tampak wujudnya, si cacing lalu menjawab, saya cacing mengerti rahasia itu, tadi waktu penyampaian ilmu, dengan lambang dan semu, ilmu tertinggi bagi manusia, hamba ikut menerima ilmu itu, merasa menjadi manusia.



Sunan Bonang bersabda tenang, telah menjadi kodrat Yang Maha Kuasa, cacing mendengar dan menjadi manusia, sabda Sang Wali menjadi kenyataan, ya sudah kuterima maksudmu, kesetiaanmu kepadaku, kehendak Yang Maha Agung, tak mungkin dielakkan, kesetiaanmu padaku ini, pakailah nama Siti Jenar.



Pakailah pula nama Syekh Lemah Bang, karena asalmu dari tanah merah.



Syekh Siti Jenar juga dikenal dengan sebutan Syekh Lemah Abang. Kata “Lemah Abang” ini bukan menunjukkan tempat tinggal melainkan asal-usul, yakni tanah merah. Sedangkan tentang tempat tinggalnya, sejumlah sumber, di antaranya Riwayat Wali Sanga (Babad Djati) yang ditulis oleh R. Tanojo, mensinyalir di Krendhawasa, sekitar daerah Jepara, Jawa Tengah. Dalam buku itu dijelaskan :



Ganti kang kacaritakake ing mengko ana sawijining wali ambek luwih, aran Sech Sitijenar iya Sech Lemahbang, dedunung ing desa Krendhawasa, dhek biyen asli wrejid bangsa sudra, oleh wewenganing ber budi kabukaning kawruhe jalaran kawiwitan saka Jeng Susuhunan Benang, iya iku nalikane mejang tekad, muruk mirid kawruh maring Jeng Susuhunan Kali Jaga ana satengahing rawa padha nunggang prau.



Artinya :



Berganti yang diceritakan, adalah seorang wali yang sangat pandai, bernama Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Bang, tinggal di desa Krendhawasa, dulunya berasal dari rakyat biasa, memperoleh anugerah Ilahi, dapat menguasai ilmu tertinggi dari Kanjeng Susuhunan Bonang, yaitu pada waktu beliau mengajarkan ilmu wirid kepada Kanjeng Susuhunan Kalijaga di tengah rawa di atas perahu (Tebba, 2003 : 34)



Perkiraan yang menyatakan bahwa nama asli Syekh Siti Jenar adalah Abdul Jalil, senada dengan yang dikisahkan dalam Kitab Negara Kertabumi. Di dalam buku itu dikatakan bahwa Syekh Siti Jenar dilahirkan di Malaka, semenanjung Malaya. Oleh orang tuanya, yakni Syekh Datuk Soleh, dia diberi nama Abdul Jalil. Setelah beranjak dewasa dia berangkat ke Persi, kemudian ke Baghdad dan beberapa lama bermukim di sana.


Di Baghdad inilah Abdul Jalil bertemu dengan seorang ulama besar penganut madzhab Syi’ah Muntadzar. Dia menjadi murid sekaligus pengikut setianya. Setelah mendapat gelar waliyullah, dia pergi ke Gujarat dan di sana dia menikah dengan seorang wanita yang memberinya beberapa orang anak, di antaranya Ki Datuk Bardudu dan Ki Datuk Fardun. Dari Gujarat kemudian dia kembali ke Malaka. Ki Syekh Jabalrantas atau Ki Syekh Abdul Jalil adalah gelar yang dinisbatkan kepadanya di Malaka. Dari Malaka dia pindah ke tanah Jawa, bermukim di Amparan Jati bersama Syekh Datuk Kahfi, seorang penyebar agama Islam terkenal di Jawa Barat yang masih tergolong sepupu ayahnya. Setelah beberapa lama berdiam di Amparan Jati, dia pergi ke Cirebon, lalu ke Pengging. Di Pengging dia menyebarkan fahamnya dan mendapatkan banyak murid, salah satu di antaranya adalah Ki Kebo Kenanga, Bupati Pengging, yang memberi banyak fasilitas kepadanya dalam menyebarluaskan berbagai ajarannya.


Dari Pengging dia kembali ke Cirebon, hidup bersama Pangeran Panjunan. Setelah cukup berhasil di Cirebon, dia pindah ke Banten, dilanjutkan ke Sumatera sebelum akhirnya menetap kembali di Cirebon hingga diadili oleh Walisongo di bawah pimpinan Sunan Gunung Jati (Sulendraningrat, 1983 : 70-75).


Banyaknya versi yang menjelaskan tentang asal-usul dan sosok Syekh Siti Jenar menyebabkan banyak pula versi yang menerangkan tentang proses kematiannya. Secara umum kesamaan yang diperlihatkan oleh berbagai literatur seputar kematian Syekh Siti Jenar hanyalah yang berkaitan dengan masanya saja, yakni pada masa kerajaan Islam Demak di bawah pemerintahan Raden Patah sekitar akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16. Sedangkan yang berkaitan dengan proses kematiannya, berbagai sumber yang ada memberikan penjelasan yang berbeda-beda.


Sofwan (2000 : 215-217) mengutip Suluk Walisanga yang di dalamnya terdapat cerita yang mengisahkan bahwa kematian Syekh Siti Jenar berawal dari perdebatan yang terjadi antara Syekh Siti Jenar dengan dua orang utusan Sultan Demak, yakni Syekh Domba dan Pangeran Bayat. Dua orang utusan ini diperintah Sultan atas persetujuan Majelis Walisongo untuk mengadakan tukar pikiran dengan Syekh Siti Jenar mengenai ajaran yang dia sampaikan kepada murid-muridnya.


Disinyalir bahwa ajaran yang telah disampaikan oleh Syekh Siti Jenar menyebabkan terganggunya stabilitas keamanan dan ketertiban di wilayah Demak. Hal ini disebabkan oleh ulah para muridnya yang berbuat kegaduhan, merampok, berkelahi bahkan membunuh. Bila ada kejahatan atau keonaran, tentulah murid Syekh Siti Jenar yang menjadi pelakunya. Ketika pengawal kerajaan menangkap mereka, segera mereka bunuh diri di dalam ruang tahanan. Dan bila dikorek keterangan dari mereka, dengan angkuh mereka mengatakan bahwa mereka adalah murid Syekh Siti Jenar yang telah banyak mengenyam ilmu.


Mereka beranggapan bahwa hidup di dunia ini menjalani mati, oleh karena itu merasa jenuh menyaksikan bangkai bernyawa yang bertebaran di atasnya. Dunia ini hanya dipenuhi oleh mayat, maka mereka lebih memilih untuk meninggalkan dunia ini. Mereka juga mengejek, mengapa orang mati diajari shalat, menyembah dan mengagungkan nama-Nya, padahal di dunia ini orang tidak pernah melihat Tuhan.


Berkenaan dengan pemahaman yang demikian ini, maka Syekh Domba dan Pangeran Bayat diutus oleh Sultan Demak untuk menemui Syekh Siti Jenar. Dalam pertemuan itu terjadi perdebatan antara utusan Sultan dengan Syekh Siti Jenar. Dalam perdebatan itu terlihat bahwa kemahiran Syekh Siti Jenar berada di atas Syekh Domba dan Pangeran Bayat. Pada akhirnya, Syekh Domba merasa kagum atas uraian dan kedalaman ilmu Syekh Siti Jenar, bahkan dia bisa menyetujui kebenarannya. Dia ingin menjadi muridnya secara tulus, kalau saja tidak dicegah oleh Pangeran Bayat.


Selanjutnya, kedua utusan itu kembali ke Demak melaporkan apa yang telah mereka saksikan tentang ajaran Syekh Siti Jenar. Setelah berunding dengan Majelis Walisanga, Sultan kemudian mengutus lima orang wali untuk memanggil Syekh Siti Jenar ke istana guna mempertanggungjawabkan ajarannya. Kelima orang utusan itu adalah Sunan Kalijaga, Sunan Ngudung, Pangeran Modang, Sunan Geseng dan Sunan Bonang. Yang disebut terakhir ini adalah pimpinan utusan itu. Mereka diikuti oleh empatpuluh orang santri lengkap dengan persenjataannya untuk memaksa agar Syekh Siti Jenar datang ke istana. Sesampainya di kediaman Syekh Siti Jenar, kelima wali tersebut terlibat perdebatan sengit. Perdebatan itu berakhir dengan ancaman Sunan Kalijaga. Sekali pun mendapatkan ancaman dari Sunan Kalijaga, Syekh Siti Jenar tetap tidak bersedia untuk datang ke istana karena menurutnya wali dan raja tidak berbeda dengan dirinya, sama-sama terbalut darah dan daging yang akan menjadi bangkai. Lalu dia memilih mati. Mati bukan karena ancaman yang ada, tetapi karena kehendak diri sendiri. Syekh Siti Jenar kemudian berkonsentrasi, menutup jalan hidupnya dan kemudian meninggal dunia.


Peristiwa kematian Syekh Siti Jenar yang dikisahkan di atas berbeda dengan kisah yang terdapat dalam Babad Demak. Menurut babad ini Syekh Siti Jenar meninggal bukan karena kemauannya sendiri, dengan kesaktiannya dia dapat menemui ajalnya, tetapi dia dibunuh oleh Sunan Giri. Keris ditusukkan hingga tembus ke punggung dan mengucurkan darah berwarna kuning. Setelah mengetahui bahwa suaminya dibunuh, istri Syekh Siti Jenar menuntut bela kematian itu kepada Sunan Giri. Sunan Giri menghiburnya dengan mengatakan bahwa bukan dia yang membunuh Syekh Siti Jenar tetapi dia mati atas kemauannya sendiri. Diberitahukan juga bahwa suaminya kini berada di dalam surga. Sunan Giri meminta dia melihat ke atas dan di sana dia melihat suaminya berada di surga dikelilingi bidadari yang agung, duduk di singgasana yang berkilauan (Sofwan, 2000 : 218).


Kematian Syekh Siti Jenar juga dikisahkan dalam Suluk Syekh Siti Jenar. Dalam suluk itu disebutkan setelah Syekh Siti Jenar meninggal di Krendhawasa tahun Nirjamna Catur Tunggal (1480 M), jenazahnya dibawa ke Masjid Demak, karena saat itu magrib tiba dan pemakaman dilakukan esok paginya agar bisa disaksikan oleh raja. Para ulama sepakat untuk menjaga jenazah Syekh Siti Jenar sambil melafalkan pujian-pujian kepada Tuhan. Ketika waktu shalat tiba, para santri berdatangan ke masjid untuk menjalankan shalat. Pada saat itu tiba-tiba tercium bau yang sangat harum, seperti bau kesturi. Selesai shalat para santri diperintahkan untuk meninggalkan masjid. Tinggal para ulama saja yang tetap berada di dalamnya untuk menjaga jenazah Syekh Siti Jenar.


Bau harum terus menyengat, oleh karena itu Syekh Malaya mengajak ulama lainnya untuk membuka peti jenazah Syekh Siti Jenar. Tatkala peti itu terbuka, jenazah Syekh Siti Jenar memancarkan cahaya yang sangat indah, lalu muncul warna pelangi memenuhi ruangan masjid. Sedangkan dari bawah peti memancar sinar yang amat terang, bagaikan siang hari.


Dengan gugup, para ulama mendudukkan jenazah itu, lalu bersembah sujud sambil menciumi tubuh tanpa nyawa itu bergantian hingga ujung jari. Kemudian jenazah itu kembali dimasukkan ke dalam peti. Syekh Malaya terlihat tidak berkenan atas tindakan rekan-rekannya itu.


Suluk Syekh Siti Jenar dan Suluk Walisanga mengisahkankan bahwa para ulama itu telah berbuat curang. Jenazah Syekh Siti Jenar diganti dengan bangkai anjing kudisan. Jenazah itu sendiri dimakamkan mereka di tempat yang dirahasiakan. Peti jenazah diisi dengan bangkai anjing kudisan. Bangkai inilah yang kemudian dipertontonkan oleh para ulama keesokan harinya kepada masyarakat luas untuk mengisyaratkan bahwa ajaran Syekh Siti Jenar adalah sesat.


Digantinya jenazah Syekh Siti Jenar dengan bangkai anjing ini ternyata diketahui oleh salah seorang muridnya bernama Ki Luntang. Dia datang ke Demak untuk menuntut balas. Maka terjadilah perdebatan sengit antara Ki Luntang dengan para wali yang berakhir dengan kematiannya. Sebelum dia mengambil kematiannya, dia menyindir kelicikan para wali dengan mengatakan (Sofwan, 2000 : 221) :



“…luh ta payo totonen derengsun manthuk, yen wus mulih salinen, bangke sakarepmu dadi. Khadal, kodok, rase, luwak, kucing kuwuk kang gampang lehmu sandi, upaya sadhela entuk, wangsul sinantun gajah, sun pastheake sira nora bisa luruh reh tanah jawa tan ana..”



Artinya :



“…nah silakan lihat diriku yang hendak menjemput kematian. Jika nanti aku telah mati, kau boleh mengganti jasadku sekehendakmu, kadal, kodok, rase, luwuk atau kucing tua yang mudah kau temukan untuk membuat tipuan sebab itu semua mudah kamu peroleh. Tetapi jika hendak mengganti dengan gajah engkau pasti tidak akan bisa karena di tanah Jawa tidak ada…”



Seperti halnya sang guru, Ki Luntang pun mati atas kehendaknya sendiri, berkonsentrasi untuk menutup jalan hidup menuju pintu kematian.


Versi lain tentang kematian Syekh Siti Jenar sebagaimana yang dikemukakan oleh Sudirman Tebba (2000 : 41), Syekh Siti Jenar dipenggal lehernya oleh Sunan Kalijaga. Pada awalnya mengucur darah berwarna merah, kemudian berubah menjadi putih. Syekh Siti Jenar kemudian berkata, “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.”


Kemudian tubuh Syekh Siti Jenar naik ke surga seiring dengan kata-kata :



“Jika ada seorang manusia yang percaya kepada kesatuan selain dari Tuhan Yang Maha Kuasa, dia akan kecewa, karena dia tidak akan memperoleh apa yang dia inginkan.”



John Rinaldi

/johnrinaldi

Saya adalah alumni Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Berminat terhadap kajian filsafat, sosial, budaya, psikologi, agama, dan sufistik.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?