HIGHLIGHT

Menelusuri Kehidupan Syekh Siti Jenar (I)

01 Mei 2010 02:29:00 Dibaca :


Kiranya untuk menelusuri riwayat hidup Syekh Siti Jenar bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah. Terdapat banyak versi tentang kehidupannya, namun di antara berbagai versi itu tidak ada yang dapat memastikan kapan tokoh ini dilahirkan, hanya sebagian dapat menyebutkan masa kematian Syekh Siti Jenar, yakni sekitar masa kerajaan Islam di Jawa, dengan ibu kota Demak, pada akhir abad ke-15 atau awal abad ke-16. Sufi martir ini bukan hanya kontroversial dalam berbagai pemikiran dan ajarannya, tetapi juga dalam bentangan sejarah hidupnya.


Berbagai kalangan masih memperdebatkan apakah Syekh Siti Jenar benar-benar merupakan sosok manusia yang pernah ada atau hanya sekedar mitos yang hidup dan berkembang di tengah kehidupan religius masyarakat Jawa. Kondisi kehidupan seperti ini mengingatkan kita pada filsuf Yunani kuno, Socrates, yang hingga saat ini kalangan yang berkecimpung di dunia filsafat mengenalnya hanya lewat berbagai tulisan sang murid, Plato, yang kerap menjadikannya tokoh utama dalam setiap karyanya.


Demikian halnya dengan Syekh Siti Jenar, sebagian kalangan menganggapnya sebagai tokoh yang pernah ada, hidup semasa dengan para wali di tanah Jawa, tergolong salah satu dari mereka, namun dituduh murtad dan menyebarkan berbagai ilmu sesat (Chodjim, 2002 : 1).


Ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar dianggap menyimpang dari kepercayaan Islam, dan disebabkan oleh itu dia harus menerima hukuman mati. Hukuman mati yang diterimanya juga didasarkan atas tuduhan bahwa Syekh Siti Jenar telah menyesatkan keyakinan masyarakat serta mengganggu stabilitas kekuasaan politik pemerintahan Raden Patah pada masa kerajaan Islam Demak Bintoro yang didukung oleh Wali Songo (Mulkhan, 2000 : 47).


Sebagian lagi menganggapnya sebagai sosok yang tidak pernah ada. Syekh Siti Jenar dipandang hanya sebagai manifestasi dari pola hidup religius sebagian masyarakat Jawa, yang merupakan hasil sinkretis antara ajaran Islam, Hindu dan kebudayaan Jawa. Syekh Siti Jenar melambangkan pemikiran Islamkejawen yang sering dipertentangkan dengan pemikiran Islam dalam dominasi syariat yang dilambangkan oleh para wali. Tokoh ini kemudian disebut sebagai simbol perlawanan rakyat terhadap agama resmi yang formalistik dan syariahistik, setidaknya pada masa sekitar abad keempatbelas sampai kelimabelas, yaitu masa pemerintahan Raden Patah sebagai Kerajaan Islam pertama di Jawa (Mulkhan, 2000 : 50). Bahkan ada yang memandang bahwa cerita tentang Syekh Siti Jenar merupakan cara yang digunakan oleh para wali untuk menyebarkan Islam di kalangan abangan, yakni pemeluk Islam yang tidak menjalankan ritual Islam (Chodjim, 2002 : 2).


Di sini perlu penulis tegaskan bahwa buku ini tidak dimaksudkan untuk mencari kebenaran historis tentang ada atau tidaknya Syekh Siti Jenar. Juga tidak dimaksudkan untuk mengetahui kebenaran kisahnya, namun hendak mengupas dan mengulas ajarannya, terutama tentang kematian. Agar bisa menangkap ajaran kematian yang dipahaminya, maka terlebih dahulu penulis akan memaparkan riwayat siapa sebenarnya Syekh Siti Jenar itu.


Syekh Siti Jenar disebut juga Pangeran Jenar, Syekh Lemah Abang, Syekh Siti Bang, atau Syekh Siti Brit, tetapi nama yang disebut pertama kali mengalahkan kemasyhuran semua julukan lain yang diberikan kepadanya. Tentang berbagai nama ini, muncul pendapat yang berbeda-beda. Ada yang menyatakan bahwa hal itu merupakan nama yang sebenarnya dan ada pula yang menegaskan bahwa itu hanyalah nama panggilan atau paraban (alias) yang dihubungkan dengan tempat tinggalnya (Sujamto, 2000 : 84).


Nama yang demikian ini juga berlaku bagi para wali yang termasuk dalam Wali Songo. Misalnya Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Muria dan lain-lain, merupakan nama panggilan yang diberikan kepada para wali yang bertempat tinggal di Giri, Bonang, Kudus dan Muria. Juga berbagai nama seperti Ki Ageng Selo, Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Butuh merupakan berbagai nama Ki Ageng dari tempat tinggal mereka masing-masing.


Kiranya kebiasaan ini juga berlaku bagi berbagai suku lainnya di Indonesia, seperti Tuanku Imam Bonjol merupakan tokoh ulama besar yang berasal dari Bonjol. Berbagai marga di dalam suku Batak : Hutabarat, Samosir, Purba dan lain-lain, menunjukkan asal tempat tinggal mereka. Bahkan para pemikir Islam pun tidak jarang menggunakan sistem penamaan yang demikian, misalnya Al-Farabi dan Imam Bukhari, yang masing-masing nama itu menunjukkan tempat asal mereka yakni Farab dan Bukhara.


Kembali kepada pembahasan tentang nama Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang, Sujamto (2000 : 85) menyatakan bahwa belum pernah ditemukan tempat tinggal berupa kampung, desa dan lain-lain yang disebut Siti Jenar. Tetapi tempat yang bernama Jenar atau Kajenar diduga pernah ada. Demikian pula halnya dengan Lemah Abang. Di antara Karawang dan Bekasi, Jawa Barat, terdapat tempat yang disebut Lemah Abang, namun tidak ada fakta yang mendukung bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari daerah tersebut. Nama yang demikian ini diduga juga terdapat di Cirebon dan bahkan ada yang menduga pernah terdapat di Jawa Tengah. Berbeda halnya dengan di daerah antara Karawang dan Bekasi, keberadaan Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang di sekitar Cirebon didukung oleh fakta, yakni adanya sebuah makam di Mlaten, pinggiran kota Cirebon, yang diyakini sebagai makam Syekh Lemah Abang, namun di daerah ini tidak dikenal nama Syekh Siti Jenar.


Bila ditelusuri bentangan sejarah, tak mustahil bila Syekh Siti Jenar berasal dari daerah sekitar Cirebon. Pertimbangannya adalah bahwa pada masa pemerintahan Islam yang berpusat di Demak, Cirebon telah menjadi salah satu pusat penyiaran Islam di Jawa dengan tokoh utamanya Sunan Gunung Jati.


Dari berbagai uraian yang telah dipaparkan, Syekh Siti Jenar sepertinya bukan merupakan nama sebenarnya, melainkan nama panggilan yang dihubungkan dengan tempat tinggalnya, tidak berbeda dengan berbagai nama yang disandang oleh para wali lainnya di tanah Jawa.


Masih berkaitan dengan nama Syekh Siti Jenar, ada informasi yang menyebutkan bahwa kata “Siti Jenar” berasal dari bahasa Persia, “Sidi” yang artinya Tuan dan “Jinnar” yang artinya pemilik kekuatan bagaikan kekuatan api (Tebba, 2003 :23). Bila mengacu pada asal-usul dan arti kata itu, maka Siti Jenar bisa dipahami sebagai orang yang memiliki kekuatan dahsyat bagaikan kekuatan api. Tentang suku bangsa Syekh Siti Jenar juga terdapat perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan bahwa dia orang Arab, ada juga yang meyakini dia orang Persia dan ada pula yang berpendapat bahwa dia orang Jawa asli.


Terdapatnya banyak perbedaan pendapat tentang asal-usul dan kerancuan nama tokoh ini kemudian menjadi dasar bagi sebagian pihak untuk meragukan keberadaan Syekh Siti Jenar secara historis. Pihak yang meragukan keberadaannya ini menegaskan bahwa Syekh Siti Jenar hanyalah tokoh hayal yang ada dalam mitos dan legenda. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa hal ini merupakan upaya pihak penguasa untuk menghapus tokoh pembangkang bukan hanya dalam politik, tetapi juga pengembang keagamaan yang bisa disebut “ke-kiri-kiri-an” itu dari pentas sejarah Islam (Mulkhan, 2000 : 49).


Untuk menjelaskan asal-usul Syekh Siti Jenar, Sujamto dalam bukunya Reorientasi dan Revitalisasi Pandangan Hidup Jawa (2000 : 86), merujuk berbagai sumber literatur. Di antaranya seperti yang diceritakan oleh Bratakesawa dalam buku Falsafah Siti Djenar (1954). Dalam buku tersebut dinyatakan :



Ing serat babad namung kacariosaken nalika Sunan Benang mejang iktikad dhateng Sunan Kalijaga wonten satengahing baita, baitanipun rembes. Baita wau lajeng dipun popok mawi endhut, dilalah endhutipun katutan elur (cacing alit). Amila pun elur saget mireng wejangan wau sadaya, lajeng nguwuh satataning jalma. Wusana dipun sabda dening Sunan Benang dados jalma sarta kasukanan nama Seh Siti Jenar, tuwin sinengkakaken saking ngandhap in ngaluhur : dados wali.



Artinya :



Dalam buku babad hanya diceritakan pada waktu Sunan Bonang memberi pelajaran iktikad kepada Sunan Kalijaga di tengah perahu, perahu itu bocor. Kebocoran itu lantas ditambal dengan lumpur, kebetulan di dalam lumpur itu terdapat seekor cacing lembut. mendengar wejangan atau pelajaran itu si cacing lantas bisa berbicara seperti manusia. Maka cacing itu kemudian disabda oleh Sunan Bonang menjadi manusia, dan diberi nama Syekh Siti Jenar, dan kemudian diangkat derajatnya menjadi wali.



Terdapat sebuah naskah hasil tulisan tangan menggunakan aksara Jawa, yang tersimpan di Museum Radyapustaka, oleh Sujamto (2000 : 87) disebut sebagai Syekh Siti Jenar (R) yang mengisahkan :



Nahen wonten wali ambeg luwih,


nguni asal wrejid bangsa sudra,


antuk wenganing tyas bolong,


tarbukaning Hyang Weruh,


Sunan Benang ingkang murwani,


tatkala mejang tekad,


muruk mirid kawruh,


ring Jeng Sunan Kalijaga,


neng madyaning nrawa nitih giyotadi,


Siti Bang antuk jarwa.



Artinya :



Syahdan ada seorang wali yang hebat,


semula berasal dari rakyat kecil,


kemudian bisa mencapai diksa,


atas tuntunan Yang Maha Tahu,


Sunan Bonanglah penyebabnya,


tatkala mengajar ilmu,


menjelaskan ilmu wirid,


pada Sunan Kalijaga,


naik perahu di tengah rawa,


Siti Jenar ikut mendengar.



Serat Syekh Siti Jenar versi Radyapustaka ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan cacing sebagai asal-usul Syekh Siti Jenar, sebagaimana tertulis dalam versi Bratakesawa, adalah rakyat jelata (wrejid bangsa sudra). Jadi, bukan cacing dalam pengertian yang sesungguhnya. Boleh jadi memang demikian, karena legenda atau dongeng yang beredar di tengah masyarakat Jawa umumnya sarat dengan simbolisme. Cacing dijadikan simbol asal-usul Syekh Siti Jenar, karena dia berasal dari rakyat jelata, yang atas perkenan Tuhan mencapai derajat kewalian. Syekh Siti Jenar (R) ini dapat memberikan penjelasan lebih lanjut tentang asal-usul Syekh Siti Jenar yang sesungguhnya.


Selanjutnya Sujamto (2000 : 89-90) memaparkan riwayat Syekh Siti Jenar versi lain yang diungkap dalam Boekoe Siti Djenar Ingkang Toelen yang digubah oleh Harjawijaya merujuk pada kisah tentang Syekh Siti Jenar yang ditulis oleh Sunan Giri pada tahun 1457. Buku ini diterbitkan oleh Tan Khoen Swie, Kediri, pada tahun 1931. Gubahan Harjawijaja ini dimaksudkan untuk mengoreksi serat-serat tentang Syekh Siti Jenar sebelumnya. Dikisahkan :



Mangkya kang pinurweng ruwi, carita Seh Siti Jenar, jinarwa jinerengmaneh, met carita kang sawantah, saking serat Walisana, sanadyan ta nguni uwus, keh sarjana kang ngrumpaka.



Tataning reh Seh Siti Brit, lir yasan sang kasusreng rat, Ki Sasrawijaya Ngijon, dyan winangun malih marang, Kyai Mangunwijaya, ing kitha Wanarga dunung, ananging sajatinira.



Punika maksih nalisir, saking talering ruwiya, deneta ingkang sayektos, mung kang kawrat walisana, yasanira Jeng Sunan, ing Giri Gajah rumuhun, rikala candra sangkala.



Ing warsa wawu winilis, Pandhita misik suceng tyas (=1457), yeka ingkang salerese, nanging ta para sarjana, kang medhar caritanya, Seh Siti Bang wali luhung, kadya kang kawahyeng ngarsa.



Artinya :



Ini adalah kisah lama, cerita Syekh Siti Jenar, sekarang digelar kembali, untuk memperoleh kisah yang benar, dari serat Walisana, meskipun dulu sudah, banyak sarjana yang menulisnya.



Perihal Syekh Siti Brit, seperti karangan pujangga terkenal, Ki Sasrawijaya dari Ngijon, juga yang digubah kembali, oleh Kyai Mangunwijaya, dari kota Wonogiri, tetapi sebenarnyalah.



Itu semua masih menyimpang, dari cerita aslinya, adapun yang sebenarnya, hanya yang tercantum dalam Walisana, gubahan Kanjeng Sunan, di Giri Gajah dahulu, pada waktu dengan candra sangkala.



Pada tahun wawu dengan candra sangkala, pandhita misik suceng tyas (=1457), itulah naskah yang benar, tetapi para sarjana, menggubah ceritanya, Sekh Siti Bang wali terkenal, seperti tersebut di muka.



Selanjutnya diceritakan :



Mangkya esthine kang mamrih, caritane Seh Siti Bang, met babon kang kacariyos, jroning layang Walisana, dadya kang winicara, kacarita duk ing dangu, Kangjeng Sunan Giri Gajah.



Adarbe siswa sawiji, saking tanah Siti Jenar, wus kasub sugih kasekten, nama Kasan Ali Saksar, Katelah Siti Jenar, iya Sang Seh Siti Luhung, iya karan Seh Lemah Bang.



Ya Lemah Bang Lemah Kuning, tan ana prabedanira, Seh Lemah Bang salamine, anunuwun dudunangan, rahsane ngelmu rasa, uger-ugering tumuwuh, nJeng Suhunan Giri Gajah.



Dereng lega ing panggalih, wrin semune Seh Lemah Bang, watek wus akeh sikire, marmane datan sinungan, mbok sak-sok mbuwang sasab, ngilangken ling-aling agung, tan anganggo masa kala.



Tyasira dahat rudatin, sira wau Seh Lemah Bang, anuwun-nuwun tan poleh, rumasa tuna ing gesang, dadya sedya nempuh byat, namur amet momor sambu, atindak karti sampeka.



Artinya :



Adapun maksud pengarang, cerita Syekh Siti Bang, mengutip dari sumber asli, yang tercantum dalam Walisana, menjadi cerita ini, tersebutlah di zaman dahulu, Kanjeng Sunan Giri Gajah.



Mempunyai seorang murid, dari negeri Siti Jenar, terkenal kaya kesaktian, nama Kasan Ali Saksar, terkenal dengan Siti Jenar, ya Sang Syekh Siti Luhung, ya terkenal Syekh Lemah Bang.



Lemah Bang atau Lemah Kuning, itu tak ada bedanya, Syekh Lemah Bang telah lama, memohon penjelasan, tentang makna ilmu rasa, dan asal mula kehidupan, Kanjeng Sunan Giri Gajah.



Belum rela memberikannya, karena tahu gelagat Syekh Lemah Bang, yang suka pada ilmu sihir, mengapa belum diberi ilmu rasa, karena dia suka melanggar aturan, membuka tirai agung, tak mengingat waktu dan tempat.



Demikianlah Syekh Lemah Bang, hatinya menjadi amat sedih, karena permohonannya selalu ditolak, merasa hidupnya tanpa guna, akhirnya dia mencari akal, menyamar secara diam-diam, dengan berbagai cara (untuk ikut mendengarkan wejangan Sunan Giri).


John Rinaldi

/johnrinaldi

Saya adalah alumni Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Berminat terhadap kajian filsafat, sosial, budaya, psikologi, agama, dan sufistik.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?