Asyik!!! Ada Hantu di Kamarku!

15 Agustus 2012 13:20:00 Dibaca :
Asyik!!! Ada Hantu di Kamarku!
Hantu, antara ada dan tiada

Hantu. Kuntilanak, pocong, tuyul, genderuwo dan wewe gombel adalah beberapa hantu yang terkenal di Indonesia. Beberapa bahkan menjadi sangat populer setelah mereka digunakan sebagai tokoh utama dalam novel ataupun film, salah satu di antaranya adalah novel berjudul 'Poconggg juga Pocong' karya Arief Muhammad. Hantu yang terbungkus kain kafan putih itu pun tiba-tiba menjadi trending topic dan menjadi idola. Namun pertanyaannya sekarang, sebenarnya hantu itu benar-benar ada atau tidak di dunia ini? Sebagai seseorang yang sampai saat ini belum beruntung untuk mendapatkan kesempatan bertemu dengan makhluk halus seperti itu, jujur saja, penulis masih agak meragukan eksistensi mereka. Dan andai saja mereka itu benar-benar ada di dunia ini, benarkah hantu itu adalah sosok antagonis yang suka mengganggu manusia seperti yang banyak diceritakan melalui film di televisi ataupun layar lebar?

Salah satu hal yang membuat penulis meragukan eksistensi mereka adalah pertanyaan iseng ini: mengapa tidak ada kuntilanak di Amerika Serikat dan mengapa tidak ada vampir di Indonesia? Padahal kita tahu bahwa hantu-hantu seperti itu bisa terbang sana-sini dengan bebasnya dan bisa menghilang dalam sekejap terus tiba-tiba muncul di tempat lain. Jika mereka benar-benar eksis dan memiliki kemampuan seperti itu, seharusnya populasi mereka bisa merata di seluruh dunia. Kalau pertanyaannya tadi adalah mengapa pocong tidak ada di Amerika Serikat, penulis mungkin masih bisa memakluminya, karena untuk berjalan kaki menuju Amerika saja itu capeknya setengah mampus apalagi kalau dengan loncat-loncat. Tapi bagaimana dengan kuntilanak dan vampir tadi? Melalui ilustrasi iseng ini, eksistensi mereka di dunia sangatlah diragukan. Besar kemungkinan bahwa mereka hanyalah hasil khayalan manusia yang diciptakan untuk menakut-nakuti orang lain belaka. Pada masa-masa ketika penulis masih duduk di bangku SD atau SMP (lebih dari enam tahun lalu), penulis belum pernah mendengar ada hantu yang bernama suster ngesot. Tetapi belakangan ini, hantu yang biasanya nongkrong di rumah sakit tersebut tiba-tiba saja menjadi populer setelah diangkat menjadi tokoh di layar lebar. Sekali lagi pertanyaannya, apakah mereka benar-benar eksis atau hanyalah hasil dari khayalan manusia yang semakin kreatif belaka? Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hantu diartikan sebagai roh jahat. Penulis meragukan eksistensi mereka, tetapi penulis tetap menghargai para pembaca yang memiliki keyakinan terhadap keberadaan mereka. Misalnya, tuyul diyakini sebagai makhluk halus berupa bocah berkepala gundul yang bisa diperintah oleh orang yang memeliharanya untuk mencuri uang. Genderuwo diyakini sebagai hantu menyeramkan yang bertubuh tinggi besar dan berbulu lebat. Kuntilanak diyakini sebagai hantu yang suka menculik anak kecil dan mengganggu wanita yang baru melahirkan. Tapi, benarkah mereka sejahat itu? Andai saja hantu-hantu tersebut memang ada di dunia, benarkah mereka memiiki sifat-sifat jahat seperti yang diyakini selama ini? Ataukah semua keyakinan itu hanyalah sugesti yang ditanamkan oleh para pembuat film dan tulisan mengenai hantu, yang sengaja membuat para hantu sebagai tokoh antagonis yang menyeramkan. Sejak kecil dulu, banyak dari kita juga telah ditakut-takuti dengan ke-eksistensi-an hantu meskipun kita belum pernah melihatnya secara langsung. Hal ini kemudian tertanam di dalam diri kita selama ini hingga kita yang belum pernah melihatnya tetap merasa takut terhadap keberadaan mereka. Dan kepada para pembaca yang mungkin sudah pernah melihatnya, benarkah mereka merupakan roh jahat seperti yang diyakini selama ini ataukah justru ketakutan kita sendiri lah yang telah membuat mereka terlihat seolah-olah makhluk yang jahat. Ke-eksistensi-an hantu sampai sekarang ini sebenarnya masih menjadi topik hangat yang diperdebatkan. Kaum rohaniwan biasanya sangat pro terhadap eksistensi mereka, sedangkan kaum ilmuwan biasanya kontra terhadap mereka karena masih belum bisa dijelaskan secara ilmiah. Penulis mungkin berada di tengah-tengah kedua kubu tersebut. Penulis meragukan eksistensiĀ  para hantu, tetapi penulis merasa sedikit terbantu oleh keyakinan manusia terhadap adanya hantu. "Awas, ada hantu lho di dalam kamarku," kira-kira seperti inilah mantra yang membuat penulis terbantu untuk mencegah salah satu keponakan penulis yang masih kecil dan hyperactive supaya dia tidak masuk ke dalam kamar penulis dan membuatnya berantakan. Ha-Ha-Ha...

Terima kasih, Hantu.

Johan Wibawa

/johanwibawa

seorang Mahasiswa Psikologi angkatan 2010 di Universitas Sumatera Utara, dan sedang jatuh cinta pada dunia Kata-Kata. Salam Kenal, Kompasianers! Mari saling berbagi melalui tulisan. http://johanwibawa.tumblr.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?