HIGHLIGHT

Pendidikan Gratis? Tirulah Kabupaten Kayong Utara Kalbar

24 Mei 2011 09:36:26 Dibaca :

Sepertinya tidak mungkin. Mana ada pendidikan gratis? Sekadar kencing ke toilet saja, kita mesti membayar Rp 1000. Namun, kabar ini bukanlah isapan jempol. Ada sebuah daerah yang membebaskan biaya pendidikan hingga SMA/ SMK. Manakah itu? Kabupaten Kayong Utara Provinsi Kalimantan Barat.

Aku terhenyak ketika membaca berita Kompas cetak kemarin (Senin, 23 Mei 2011). Sebuah daerah yang hanya mempunyai Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 5 M pada 2009, berani-beraninya mengeluarkan kebijakan pendidikan gratis hingga jenjang bangku SMA/ SMK. Sungguh kebijakan yang luar biasa. Bahkan, berita itu juga menuliskan bahwa setiap siswa masih mendapat seragam gratis minimal 2 stel setiap tahun ajaran baru. Luar biasa...!!!

Jika direnungkan dengan pikiran jernih, tentunya ada sesuatu yang menjadi dasar atas diberlakukannya pendidikan gratis itu. Ditilik dari berita itu, aku dapat menarik kesimpulan bahwa Kepala Daerah Kabupaten Kayong Utara memang berkehendak untuk berani berinvestasi jangka panjang demi kemajuan daerahnya.

Pendidikan menjadi hak setiap warga negara. Itu dijamin cukup jelas dalam UUD 1945. Namun, pendidikan ternyata masih menjadi impian bagi kebanyakan orang. Di sana-sini, kita mudah menemukan anak usia sekolah yang tidak bersekolah. Ketika ditanya, mereka sering menjawabnya dengan alasan ketiadaan biaya. Maka, mungkin saja persoalan dunia pendidikan kita akan menjadi semakin runyam dari tahun ke tahun. Angka putus sekolah mungkin saja akan meningkat seiring tingginya biaya pendidikan. Berdasarkan kondisi demikian, aku memberanikan diri untuk memberikan sekadar idea tau gagasan agar pendidikan menjadi terjangkau. Tiga ide ini tentunya diharapkan menjadi bahan pertimbangan pihak berwenang. Ketiganya adalah:

Ide Satu: Ciptakan Mind Set Kejujuran

Pola pikir kejujuran harus tertanam dalam-dalam pada setiap warga daerah. Kepala daerah harus dapat menjadi pemimpin yang layak menjadi teladan bagi bawahan. Ciptakan kesederhanaan sejak hulu hingga hilir. Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Artinya, panen baru akan dicapai pada sepuluh-dua puluh tahun ke depan. Belajarlah ke Jepang atas tragedi PD II.

Setiap proyek pembangunan harus dikerjakan dengan jujur. Kontraktor dan pejabat harus mempunyai kesamaan niat yang baik demi kemajuan daerah. Maka, pastilah akan terwujud sebuah bangunan yang indah dan kokoh karena kejujuran para pembangunnya.

Ide Dua: Bentuk Kebersamaan

Masyarakat perlu disadarkan agar anak-anaknya disekolahkan. Masyarakat harus ikut peduli atas kemajuan daerahnya. Yang miskin bekerja keras dan yang kaya membantu yang miskin. Menciptakan semangat kebersamaan adalah syarat mutlak keberhasilan pembangunan di atas. Hindarkanlah egoisme yang dapat mencabik-cabik kebersamaan. Satu rasa, satu niat dan satu tujuan demi kemajuan daerahnya.

Ide Ketiga: Kembangkan Kurikulum Lokal

Setiap daerah boleh mengembangkan kurikulum. Artinya, pemerintah daerah boleh memberlakukan kurikulum berdasarkan potensi daerahnya. Tentu saja kurikulum itu harus mendapat persetujuan Pusat Kurikulum Kemendiknas agar terjadi sinkronisasi dengan kurikulum nasional. Untuk niatan, pemerintah daerah dapat mengundang para pakar dan praktisi pendidikan guna membimbing guru dan tenaga kependidikan agar mampu mengembangkan kurikulum itu.

Sungguh aku merindukan peningkatan mutu pendidikan yang terjangkau. Tidak lagi ada sekolah yang ambruk. Tidak lagi ada anak jalanan yang menjadi pengemis dan gelandangan. Tidak lagi ada anak yang putus sekolah. Wouw, sebuah negeri impian yang semoga segera terwujud. Amin. Terima kasih.

Selamat Sore

Johan Wahyudi

/johanmenulisbuku

TERVERIFIKASI (BIRU)

Direktur EDU Training Centre, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Soloraya, Kolumnis Rubrik Petuah Majalah SMARTEEN, Kolumnis Guru Perlu Tahu Koran Solopos, serta Penulis Buku dan Penyunting Naskah. CP 08562517895 dan Email: jwah1972@gmail.com. Ikuti Fans Page (FP) GURU MENULIS.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?