Mestinya Orang Islam Malu dengan Peristiwa Ini

09 Mei 2012 12:59:56 Dibaca :
Mestinya Orang Islam Malu dengan Peristiwa Ini
Yaya Toure telah membuktikan kemuslimannya. Bagaimana dengan kita?

Apakah Anda menyaksikan pertandingan Newcastle melawan Manchester City kemarin malam? Apakah Anda menemukan keunikan dari pertandingan Liga Inggris tersebut? Jika Anda tidak menyaksikannya, tentu Anda akan merasa rugi karena pertandingan itu benar-benar memberikan suguhan sarat inspirasi dan penyadaran. Bukan karena The Citizens semakin dekat dengan gelar juara Liga Inggris, melainkan sebuah fenomena peristiwa yang dilakukan oleh pemain The Citizens. Siapakah dia?

Dia adalah Yaya Toure. Yaya Toure, pemain gelandang Manchester City, telah membuktikan dirinya seorang muslim sejati. Bukan karena dia telah memborong dua gol sehingga menenggelamkan ambisi tuan rumah, melainkan keberaniannya menolak pemberian sampanye dari panitia seusai pertandingan. Itu tak lain disebabkan pada malam itu, dia dinobatkan sebagai Man of The Match.

Sebagaimana kebiasaan di Liga Inggris, setiap pemain yang menjadi bintang lapangan akan dihadiahi panitia dengan sebotol sampanye alias minuman beralkohol. Itu sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, semua pemain dari seluruh peserta Liga Inggis pasti berusaha menjadi Man of The Match karena akan menjadi momen yang teramat berharga baginya. Namun, justru Yaya Toure berani menolak pemberian sampanye itu seraya berujar dengan sopan, "Maaf! Saya tidak minum alkohol karena saya Muslim," ujar Yaya Toure seraya tersenyum dan menyerahkan botol sampanye itu ke rekannya, Lescott, yang ada di sampingnya.

Jujur saja, saya dibuat malu dengan ucapan Yaya Toure. Meskipun belum pernah menenggak minuman beralkohol alias memabukkan, saya sering menyaksikan perilaku orang-orang muslim yang terang-terangan menenggak minum-minuman keras. Bahkan, mereka tidak hanya bermabuk-mabukan. Setidaknya, saya mencatat lima perilaku buruk yang sering dilakukan pribadi muslim.

Suka Mabuk

Di sebuah daerah, terdapat tradisi unik sekaligus lucu. Mayoritas penduduknya adalah muslim, tetapi perilakunya tidak menunjukkan kemuslimannya. Apa itu? Kebiasaan bermabuk-mabukan. Ketika sebuah pesta pernikahan digelar, saya sering melihat orang-orang yang bermabuk-mabukan secara terang-terangan. Bahkan, mabuk-mabukan itu dilakukan di depan khalayak tamu undangan. Di beberapa media, saya sering membaca berita tentang korban tewas karena menenggak minuman keras yang dioplos pada pesta pernikahan. Entah, kemana nilai-nilai keislamannya ditaruh?

Suka Judi

Masih berbau tradisi, terdapat sebuah kebiasaan berjudi sebelum, ketika, dan setelah perhelatan pesta pernikahan digelar. Hampir setiap malam, tuan rumah menyediakan tempat dan jamuan bagi para tamu yang akan bermain judi. Lucunya, mereka adalah keluarga muslim. Entah karena tidak kuat menahan ejekan tetangga ataukah memang menjadi bagiannya, saya belum melihat kesungguhan tuan rumah untuk menolak permintaan tetangga yang akan bermain judi di rumahnya.

Suka Bicara Kotor

Jika tidak dapat berbicara baik, sebaiknya Anda diam. Itu adalah nasihat Nabi Muhammad SAW. Namun, begitu mudah kita menjumpai orang-orang muslim yang gemar berbicara kotor, ghibah atau menggunjing, fitnah, jorok, bahkan porno. Kata-kata itu begitu saja keluar tanpa kendali. Bahkan, ucapan itu seakan telah menjadi kebiasaan di mulutnya. Mereka tidak menyadari bahwa ucapan yang telah keluar tidak dapat ditarik kembali. Entah, apakah mereka masih merasakan keimanan di dadanya?

Suka Korupsi

Kadang, bahkan sering, saya dibuat tersinggung oleh pelaku korupsi alias koruptor jahanam. Mereka memiliki nama-nama keislaman, baik korupwan maupun korupwati. Orang tua mereka tentu memiliki tujuan mulia ketika  memberikan nama bernafas Islam. Orang tua berharap agar doa yang terkandung di dalam nama tersebut dapat dimaknai sang pemilik nama. Namun, sungguh teramat ironis. Begitu banyak koruptor jahanam memiliki nama-nama Islam. Mungkin mereka berkilah, “Apalah arti sebuah nama?”

Suka Bohong

Mendapat titipan barang tentu cenderung akan berkurang. Namun, jangan Anda berharap kurang jika mendapat titipan omongan. Tambah dan terus ditambah adalah bumbu penyedap. Berita bohong pun tersebar meskipun berasal dari peristiwa nyata. Lagi-lagi itu disebabkan karena sang penutur tidak lagi menjiwai keimanan di dalam hatinya. Mungkinkah orang-orang Islam yang suka bohong itu tidak lagi menyadari kebohongannya karena terlalu sering berbohong?

Yaya Toure telah memberikan contoh nyata sebagai Muslim sejati. Berani berkata tidak di tengah tradisi sampanye yang begitu kuat. Karena keberanian menolak itulah, Yaya Toure dikenal dan terkenal sebagai Muslim yang sangat taat menjalankan ibadahnya. Ketika akan pindah dari Barcelona, Abidal dan Keita yang menjadi pemain Barca sekaligus pemeluk agama Islam berkata, “Saya kehilangan imam.” Apa pasal? Karena Yaya Toure sering menjadi imam sholat bagi mereka. Apakah Anda berani bersikap sebagaimana dilakukan Yaya Toure?

Teriring salam,

Johan Wahyudi

Sumber informasi: Tribunnews.com dan Republika.

Johan Wahyudi

/johanmenulisbuku

TERVERIFIKASI (BIRU)

Direktur EDU Training Centre, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Soloraya, Kolumnis Rubrik Petuah Majalah SMARTEEN, Kolumnis Guru Perlu Tahu Koran Solopos, serta Penulis Buku dan Penyunting Naskah. CP 08562517895 dan Email: jwah1972@gmail.com. Ikuti Fans Page (FP) GURU MENULIS.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?