HEADLINE

Mari Menanamkan Kejujuran kepada Anak

10 Maret 2011 23:20:12 Dibaca :
Mari Menanamkan Kejujuran kepada Anak
Kepada mereka, aku menanamkan kejujuran sejak dini

Kompas cetak kemarin (Kamis, 10 Maret 2011) memberikan ulasan yang berbeda dibandingkan hari-hari biasa. Ada lembaran atau halaman khusus yang membahas masalah kejujuran dan korupsi. Bahkan, ulasan itu dituangkan dalam beberapa halaman. Sungguh isinya begitu menarik. Mengapa? Karena itu berkaitan dengan kebiasaan anak-anakku di rumah. Sejak dini, kami (aku dan istri) menanamkan kejujuran kepada ketiga anakku. Kejujuran dalam arti bahwa anak harus mengenal tanggung jawab. Ia ada berada di tengah orang tua dan saudara-saudaranya. Ia harus belajar bertanggung jawab atas kelakuannya terhadap orang tua, saudara, dan lingkungan. Jadi, ia harus belajar menghargai jika ingin dihargai. Ada tiga bentuk kejujuran yang kutanamkan kepada anak, yakni kejujuran kepada Tuhan, kejujuran kepada diri, dan kejujuran kepada lingkungan. Kejujuran kepada Tuhan Disembah dan tidak disembah, Tuhan adalah Tuhan. Dia tidak membutuhkan bantuan manusia dan makhluk lainnya. Dia adalah Maha Mandiri dan Dia adalah Maha Perkasa. Dengan kekuasaan dan kekuatan-Nya, Dia menguasai alam raya (makrokosmos dan mikrokosmos). Namun, itu tidak berlaku sebaliknya bagi manusia. Oleh karena itu, anakku harus mengenal-Nya dengan baik. Aku menanamkan kebutuhannya kepada Tuhan. Tanpa Tuhan, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tanpa Tuhan, kita tidak berkuasa atas sekecil apapun. Jadi, manusia mempunyai ketergantungan yang teramat sangat kepada Tuhan. Manusia butuh Tuhan, tetapi Tuhan tidak butuh manusia. Agar disayang Tuhan, ya mendekatlah kepada-Nya. Bagaimana mungkin permintaanmu akan dikabulkan Tuhan sementara kamu tidak mengenal-Nya? Setiap pulang kerja, aku sering ditanya anak-anakku, "Aku pijetin,Pak?" Mendengar pertanyaan itu, tentu saja aku mengangguk senang. Namun, di balik anggukan itu, aku sudah menangkap maksud anakku. Tumben bersikap begitu baik, sedangkan aku pun belum melepas sepatu. He..he..he... Dan itu benar: anakku minta dibelikan buku bacaan baru. Melihat kebaktiannya kepadaku, aku pun menuruti keinginannya. Begitu pula jika kita berdekatan kepada Tuhan. Keinginan kita pasti dituruti pula oleh-Nya. Kejujuran kepada Diri Suatu hari, aku mengajak anak pertamaku pergi ke kota Solo. Ada beberapa tujuan aku mengajaknya: menemaniku agar tidak mengantuk, mendidik, dan mengajarkan kejujuran sambil bepergian. Dengan ditemani anakku, aku menyopiri mobil dengan tenang. Aku sering ditanya sehingga aku pun tidak mengantuk. Lalu, aku mengenalkan etika berkendara: tidak boleh menggunakan HP, memberi kesempatan kepada pengendara lain jika ingin menyalip, atau berhenti untuk menolong ketika bertemu orang yang minta pertolongan. Teramat kebetulan, hari itu, aku bertemu dengan seorang ibu yang memboncengkan dua anaknya. Di tengah gerimis hujan, motornya macet. Spontan, aku pun berhenti. Aku meminta anakku agar berada di mobil. Lalu, aku pun keluar untuk membantu ibu itu. Alhamdulillah, aku bisa membantu menghidupkan motornya. Dan terucaplah doa yang baik dari mulutnya: Terima kasih, Pak. Semoga keluarga Bapak baik-baik saja. Amin! Dari balik kaca mobil, anakku asyik melihatku. Lalu, aku menoleh ke arahnya sambil mengacungkan jempol tangan ke arahnya. Dan anakku pun tersenyum! (mirip sinetron, ya?) Kepada anakku, aku menanamkan kejujuran ini. Pada intinya, anakku harus bersikap jujur bahwa ada pihak kedua ketika sendirian. Ada pihak ketiga ketika kita berduaan. Ada pihak keempat ketika kita bertiga dan seterusnya. "Anakku, kita tidak terlepas dari pengamatan Tuhan. Oleh karena itu, berhati-hatilah jika berbuat sesuatu. Jika kita ingin mendapat kebaikan, maka rajinlah berbuat baik!" Kejujuran kepada Lingkungan "Sakit nggak kalau kamu dicubit?" tanyaku suatu hari kepada anak pertamaku. Anakku tertunduk, lalu ia pun malah menangis. Mengapa? Karena adiknya juga menangis. Namun, penyebab menangisnya berbeda. Anak keduaku menangis karena mainannya rusak, sedangkan anak pertamaku menangis karena merusak mainan adiknya. Aku pun menatap tajam kepadanya. Oleh karena itu, terulurlah tangan anak pertamaku kepada adiknya sebagai tanda maaf karena telah menyakitinya. Jika tidak ingin disakiti, janganlah kita suka menyakiti orang lain. Sering kita menonjolkan ego karena kita tidak bersikap jujur. Kita suka berdalih hak azasi manusia ketika kita berlaku sesuka hati tanpa peduli lingkungan. Kita berangan-angan bahwa kita hidup di planet Mars yang tidak berpenghuni. Lalu, seenaknya pula kita menghidupkan tape baru sekeras-kerasnya tanpa peduli tetangga yang sedang sakit gigi. Tetangga itu sedang sakit. Mana wujud rasa empati dan simpatimu kepadanya? Jika kamu berdalih bahwa tape itu milikmu, silakan kendalikan suaranya agar tidak masuk ke rumah orang lain. Nyatanya, bunyi tape yang keras itu masuk ke rumah tetangga, tanpa permisi pula. Jadi, penggunaan hak azasi kita dibatasi hak azasi orang lain. Kita harus peka lingkungan! Demikianlah aku menanamkan kejujuran kepada keluargaku. Sungguh kisah di atas benar-benar terjadi. Ini bukan cerita rekaan. Ketiganya pernah kulakukan, bahkan hingga hari ini. Alhamdulillah, istri dan ketiga anakku mulai menikmati buah dari kejujuran itu. Senyata-nyata nikmat adalah kebahagiaan. Selamat pagi dan selamat beraktivitas. Semoga kisah di atas menginspirasi kita agar menjadi pribadi yang lebih baik. Amin. Terima kasih.

Johan Wahyudi

/johanmenulisbuku

TERVERIFIKASI (BIRU)

Direktur EDU Training Centre, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Soloraya, Kolumnis Rubrik Petuah Majalah SMARTEEN, Kolumnis Guru Perlu Tahu Koran Solopos, serta Penulis Buku dan Penyunting Naskah. CP 08562517895 dan Email: jwah1972@gmail.com. Ikuti Fans Page (FP) GURU MENULIS.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?