HIGHLIGHT

Hati-Hati Menjual Motor Via Online

18 April 2012 11:52:14 Dibaca :
Hati-Hati Menjual Motor Via Online
Hati-Hati Menjual Via Online

Kecanggihan teknologi internet memang memberikan banyak manfaat. Banyak orang diuntungkan dengan beragam fitur dan kemudahan internet. Orang tak perlu datang secara nyata jika dapat digantikan secara maya. Memang ada orang beranggapan bahwa internet mengikis nilai-nilai silaturahmi yang telah membudaya. Seiring dengan kemajuan zaman, orang kadang memaklumi kesibukan saudara, sahabat, dan kolega bisnisnya. Maka, silaturahmi via online pun dimaklumi.

Namun, hendaknya kita berhati-hati menggunakan internet jika berkeinginan untuk melakukan transaksi alias jual-beli barang berharga. Kecanggihan internet telah memakan korban. Tidak tanggung-tanggung, dua kasus penipuan dan pelarian barang berharga baru saja terjadi di daerahku. Bahkan, satu dari dua kasus ini menimpa putra mantan pejabat tinggi di daerahku. Saya mengenal pribadi sang pejabat dengan sangat dekat. Beginilah kisah kejahatan itu bermula.

Untuk kasus pertama, sebut saja Anton. Suatu hari, Anton ingin menjual motor trail Yamaha kesayangannya. Yamaha trail 250 cc ditawarkan seharga Rp 40 juta. Selain ditawarkan via biasa melalui jasa kawan, motor itu pun ditawarkan melalui media online. Tentunya internet memang memberikan kemudahan untuk beriklan karena memang bernilai sangat murah dan efektif. Penjual dan pembeli dapat berinteraksi secara cepat sehingga dapat menghemat biaya jika keduanya berjarak jauh.

Hari itu menjadi hari yang membahagiakan Anton. Seorang calon pembeli via online menghubunginya. Tentunya Anton sangat bersuka cita dengan kabar itu. Mengapa? Karena pembeli itu akan datang sendiri sehingga Anton tidak perlu memberi bonus kepada makelar alias calo. Maka, Anton dan calon pembeli mengadakan kesepakatan untuk bertemu. Dan sepakatlah mereka bertemu pada hari dan tempat yang ditentukan.

Benarlah janji itu. Calon pembeli itu datang sendiri untuk melihat Yamaha Trail 250 cc milik Anton. Seperti pembeli motor pada umumnya, calon pembeli itu memeriksa kondisi fisik motor terlebih dahulu. Karena memang jarang dipakai, Yamaha Trail itu jelas terlihat kinclong. Anton memang jarang menggunakan motor itu. Anton hanya menggunakan motor itu jika ada acara traveling sesama penggemar trail yang memang marak di daerahku.

Setelah puas melihat kondisi fisik, calon pembeli itu ingin mengetahui kondisi mesin. Maka, calon pembeli itu bertanya-tanya seputaran mesin: berapa kilometer oli diganti dan kapan service terakhirnya. Tentu saja Anton menjelaskan kondisi motor itu dengan senang hati. Maklum, terlihat calon pembeli itu menaruh minat. Ini dapat diketahui setelah pengecekan mesin selesai dilakukan.

Calon pembeli itu bertanya, “Mau dijual berapa, Mas? Saya berminat untuk membeli motormu.”

Mendengar pertanyaan itu, betapa girangnya hati Anton. Langsung saja Anton menjawab, “Seperti di facebook itu, Mas. 40 juta.”

“Wah, saya belum tahu kondisi mesinnya kok harganya mahal banget. Gimana kalo nanti kalau mesinnya tidak bagus?” tawar calon pembeli itu.

Lho, mesin motor ini dijamin jos gandhos. Saya jarang pakai, Mas” jelas Anton untuk meyakinkan.

“Ya sudah, gini saja. Saya coba dulu motor ini. Jika memang kondisi mesinnya oke, saya siap bayar. Gimana?” ucap calon pembeli.

“Boleh. Silakan saja. Cukup putar-putar alun-alun ini saja ya, Mas” tutur Anton sambil menyerahkan kunci motor Yamaha Trailnya. Lalu, calon pembeli itu mulai menghidupkan mesin. Pada awalnya, calon pembeli itu berjalan pelan-pelan mengitari alun-alun. Namun, calon pembeli itu tak kembali menemui Anton ketika berada di jalan raya. Dan motor Yahama Trail 250 cc seharga Rp 40 juta itu amblas dibawa penjahat.  Saat ini, kasus ini sedang ditangani aparat di daerahku.

Kasus kedua hampir sama, hanya berbeda jenis motor dan modusnya. Sebut saja Yono. Suatu hari, Yono memerlukan uang banyak dalam waktu singkat. Lalu, Yono mengiklankan motor Honda Tiger hitamnya di facebook. Tak lama kemudian, seorang calon pembeli datang. Terjadilah transaksi dengan kesepakatan harga Rp 17 juta. Dengan dalih mengambil uang ke ATM terdekat, Yono mengizinkan calon pembeli itu untuk menggunakan Tigernya karena memercayai niat calon pembeli. Namun, ditunggu-tunggu selama berjam-jam, calon pembeli itu tak menemui Yono lagi. Jelas itu menjadi pertanda bahwa motor Honda Tigernya telah dibawa maling. Tinggallah Yono menyesali kepergian motor kesayangannya.

Berdasarkan dua kasus di atas, tentu kita dapat menemukan hikmah. Hendaknya kita tidak mudah menjual barang secara online. Jika toh menggunakan sistem online, mestinya kita sudah mengenal baik calon pembeli itu. Jika calon pembeli barang kita ingin mencoba objek jual-beli, semestinya kita memboncengnya. Janganlah kita memberikan kesempatan barang sedetik pun kepada penjahat.

Teriring salam,

Johan Wahyudi

Sumber gambar: Sini

Johan Wahyudi

/johanmenulisbuku

TERVERIFIKASI (BIRU)

Direktur EDU Training Centre, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Soloraya, Kolumnis Rubrik Petuah Majalah SMARTEEN, Kolumnis Guru Perlu Tahu Koran Solopos, serta Penulis Buku dan Penyunting Naskah. CP 08562517895 dan Email: jwah1972@gmail.com. Ikuti Fans Page (FP) GURU MENULIS.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?