HIGHLIGHT

Dari Kompasiana Menuju Penulis Profesional

18 Mei 2012 21:06:30 Dibaca :

Setiap profesi akan diketahui melalui karya-karyanya. Dengan keprofesiannya, ia pun menjadi professional karena membuktikan kapasitas dan produktivitasnya. Ketika ia semakin menjaga konsistensi keprofesionalannya, ia pun “naik daun” sehingga ia mendapat beragam penghargaan dari pihak lain yang menggunakan pikirannya. Maka, alangkah baiknya jika kita mulai membangun budaya profesionalan tersebut.


Penulis termasuk profesi yang menuntut profesionalisme tinggi karena profesi ini tidak dapat dimiliki semua orang. Hanya orang-orang tertentu yang mampu menekuni profesi ini sehingga ia mendapatkan beragam penghargaan atas karya-karyanya. Ketika ia mulai menunjukkan keprofesionalan itulah, ia pun menjadikan profesi penulis sebagai pilihan hidupnya. Dan mudah-mudahan kita termasuk menjadi salah satunya.


Lalu, bagaimanakah kita mengenal ciri-ciri penulis profesional? Saya memiliki lima ciri penulis profesional. Saya menemukan kelima ciri ini berdasarkan pengalamanku berhubungan dengan para penulis senior dan pengalaman pribadi setelah membaca-baca buku. Kelima ciri itu adalah menjaga kejujuran menulis, tidak berharap pujian, memiliki keikhlasan, mengajak ke arah kebaikan, dan menjaga konsistensi bidang. Berikut kupasannya.


Ciri 1: Menjaga Kejujuran


Penulis profesional mengharamkan copy-paste alias pencurian karya orang lain tanpa hak. Ia akan berusaha bersikap jujur. Meskipun tulisannya sederhana dan kurang mendapat apresiasi, ia tetap bersikap jujur. Motto hidupnya: lebih baik jujur dengan karyanya daripada terkenal karena mencuri karya orang lain. Dan ini adalah ciri paling utama menurut saya.


Ciri 2: Tak Berharap Pujian


Penulis professional tidak akan berharap pujian. Ia menulis dan menulis saja. Ada dan tidak pujian tidak akan mengendorkan semangat menulis. Baginya, menulis adalah kebutuhan sehingga ia mesti memenuhinya. Pujian adalah AKIBAT sebuah tindakan baik dan bukan NIAT dijadikan motto hidupnya. Justru pujian dianggapnya sebagai racun yang dapat membunuh semangat keprofesionalannya.


Ciri 3: Memiliki Keikhlasan


Ketulusan atau keikhlasan menjadi nafas bagi penulis profesional. Penghargaan akan diterima seiring dengan penilaian orang terhadap karyanya merupakan filosofis hidupnya. Penulis professional tidak terkontaminasi oleh “titipan” pihak-pihak tertentu untuk menuliskan sesuatu. Ia berani menolak ajakan provokatif karena ia menjaga diri dari keinginan untuk menyerang penulis lainnya. Maka, ia pun ikhlas melepaskan diri dari komunitas yang dibangun pihak lain yang berseberangan demi menjaga keprofesionalan.


Ciri 4: Mengajak ke Arah Kebaikan


Penulis professional senantiasa menjaga niatan untuk mengajak pembaca ke arah kebaikan. Penulis professional tidak akan menjerumuskan pembaca ke arah pemahanan sepihak. Satu huruf kebaikan akan bernilai satu kebaikan adalah penyemangat hidup penulis professional.Oleh karena itu, ia berusaha menjaga setiap huruf tulisannya agar selalu bernilai ajakan kebaikan. Terasa amat berdosa jika ia menuliskan sesuatu yang menyesatkan pembaca.


Ciri 5: Menjaga Konsistensi Bidang


Penulis professional menulis sesuatu berdasarkan spesifikasi bidang yang ditekuninya. Meskipun menuliskan sesuatu yang bukan bidangnya memang dibolehkan, ia berusaha agar menuliskan sesuatu itu tetap berkoridor kepada keilmuannya. Tulisanku adalah profesiku merupakan motto hidupnya. Penulis professional tidak akan tereduksi oleh keinginan untuk mengambil jalan pintas demi berebut pasar meskipun itu menarik baginya.


Kompasiana merupakan media yang dapat digunakan untuk berlatih menulis beragam jenis tulisan. Di sini, kita dapat belajar dan memelajari tulisan para kompasianer. Di sini pula, berlaku hokum take and give alias memberi-menerima. Ketersediaan kompasiana mestinya dapat digunakan sebagai sarana berlatih menuju profesi baru sebagai penulis professional. Dengan kritikan yang diberikan sesama kompasianer, kita dapat melakukan introspeksi dan autokritik. Dengan kebesaran jiwanya itulah, tulisan-tulisan kita akan menjadi makin berisi. Kelak kematangan itu akan menuntun kita menuju profesi baru: penulis professional.


Sebuah peribahasa pernah terbaca: gajah mati meninggalkan gading dan macan mati meninggalkan belang. Peribahasa itu bermakna bahwa semua orang hendaknya meninggalkan jejak kebaikan meskipun telah tiada. Kelak kebaikan itu akan dikenang anak-cucu untuk diteladani. Dan bagi penulis, tulisan adalah warisan terbaik, terlebih tulisan yang diwariskan pun merupakan tulisan terbaiknya. Mari kita menyiapkan warisan terbaik itu untuk anak-cucu dan generasi mendatang.


Teriring salam,


Johan Wahyudi

Johan Wahyudi

/johanmenulisbuku

TERVERIFIKASI (BIRU)

Direktur EDU Training Centre, Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Soloraya, Kolumnis Rubrik Petuah Majalah SMARTEEN, Kolumnis Guru Perlu Tahu Koran Solopos, serta Penulis Buku dan Penyunting Naskah. CP 08562517895 dan Email: jwah1972@gmail.com. Ikuti Fans Page (FP) GURU MENULIS.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?