PILIHAN

Di Mana Kunci Pembuka Ekonomi Kita?

20 Oktober 2016 00:28:41 Diperbarui: 20 Oktober 2016 07:36:34 Dibaca : Komentar : Nilai :
Di Mana Kunci Pembuka Ekonomi Kita?
is-5807c45efe22bd00337f5c3e.jpg

ilustrasi kunci (sumber:kunci.co.id)

Harus diakui bahwa bangsa dan negara kita sedang berada di pusaran arus kuat perekonomian global. Artinya, kita tidak dapat menghindari dari pengaruh kuat perekonomian negara-negara maju yang memiliki kekuatan-kekuatan  ekonomi dalam bentuk modal dan teknologi canggih. Ketergantungan ini jelas sangat melemahkan posisi perekonomian kita di kancah perpolitikan ekonomi dunia. Ya, kita sering mendengar bahwa negara kita masih sementara berupaya melunasi hutang ke negara-negara maju, hutang ke perbankan internasional. Sementara itu dalam aktivitas perputaran roda pembangunan kita membutuhkan anggaran pembangunan yang sudah harus dijalankan.

Saya barusan membaca artikel di Kompasiana yang mengungkapkan pendapat beberapa kompasianer tentang perekonomian nasional didalam era kepemimpinan Presiden Joko Widodo selama 2 tahun ini. Disana dikatakan peliknya perekonomian kita. Bagaimana kita menanggapi dari sudut pandang kita sebagai kompasianer.

Menurut saya memang kita diperhadapkan dengan situasi peliknya persoalan perekonomian negara. Ya memang pelik karena pemerintah melalui kementerian yang berorientasi pengembangan perekonomian negara rasanya belum menemukan model yang tepat bagaimana memajukan perkonomian bangsa. Tidak mudah mengelola sebuah negara yang memiliki penduduk yang besar seperti Indonesia (sekitar 250 juta jiwa). 

Apakah kita pernah berpikir dan menyadari bahwa negara kita menjadi pasar yang empuk bagi negara-negara produsen, negara-negara maju dengan produk berupa barang-barang elektronik, telekomunikasi dan kendaraan roda dua dan roda empat. Disisi lain, sebagian besar penduduk kita kehidupannya di bidang agraris (petani) dan pegawai negeri dengan gaji yang diterima belum sesuai dengan kondisi harga-harga yang semakin menaik?

Mungkin perlu dikaji lebih mendalam tentang sistem pengajian yang berlaku di negara ini. Misalkan gaji seorang guru besar di perguruan tinggi negeri perbulan dibandingkan dengan gaji seorang pimpinan DPRD saat ini. Hitunglah berapa selisihnya, mungkin ada diantara kompasianer yang tau? Ataukah gaji seorang pegawai negeri dengan pegawai swasta berapa perbedaannya?

Kita perlu mempertanyakan tentang sistem perekonomian kita apakah akan menerapkan sistem ekonomi kapitaliss, liberalis atau ekonomi kerakyatan (sosialis ala Indonesia)? Pertanyaan ini memang perlu karena pada umumnya para ahli kita mendalami ilmu ekonomi dari negara-negara yang memiliki sistem perekonomian khas negara itu. Ilmu itu kemudian diajarkan kepada mahasiswa di negara ini. 

Saya menganggap suatu negara tertentu akan maju dan berkembang sesuai dengan filosofi yang tumbuh di negara itu. Negara kapitalis akan maju dengan faham kapitalisnya, negara liberal dengan faham liberalnya. Bagaimana negara kita yang berakar pada faham sosialisme ekonomi kerakyatan kemudian menjalankan ekonomi lainnya. Jelas hal ini membuat kita akan selalu mengekor terus dan mengalami kesulitan mengejar kemajuan perekonomian mereka. Contoh konkrit soal ekonomi moneter yaitu kurs mata uang yang begitu besar selisihnya itu.

Begitu kompleksnya persoalan perekonomian ini sehingga diperlukan upaya langkah perjuangan yaitu bagaimana kita dapat menemukan kunci pembuka perekonomian kita dengan tetap saling menghargai dan menghormati kemajuan perekonomian global.

Bolehlah dikatakan bahwa perekonomian kita masih terkunci sehingga diperlukan kunci untuk membukanya. Dimana kunci pembuka itu?

Untuk menemukan kunci pembuka itu yaitu kita harus bersatu dan berupaya menemukan solusi yang tepat memajukan perekonomian kita. Untuk maju kita harus gunakan filosofi yang sudah ada dan tumbuh berkembang sejak dulu yaitu perekonomian rakyat yang sejati.

Salam Kompasiana.

Manado, 20 Oktober 2016.

Johanis Malingkas

/johanismalingkas

TERVERIFIKASI

Menulis itu menggairahkan hidup...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
FOKUS TOPIK KOMPASIANAA
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article