HEADLINE HIGHLIGHT

Pesta Kelulusan: Coret Baju/Konvoi Sepeda Motor = Snobisme

24 Mei 2012 04:15:12 Dibaca :
Pesta Kelulusan: Coret Baju/Konvoi Sepeda Motor = Snobisme
corat-coret baju seragam (sumber: dok.kompas.com)

Berdasarkan Peraturan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Nomor 0011/p/bsnp/xii/2011 tentang Prosedur Operasi Standar Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2011/2012, sekolah mengumumkan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan paling lambat 26 Mei 2012 untuk tingkat SMA sederajat. Tidak sedikit kalangan yang berharap-harap cemas menunggu pengumuman mendebarkan tersebut, terutama di kalangan murid/orangtua murid, pejabat/pamong sekolah, dan pihak lain terkait pengumuman kelulusan berikut hal-hal yang diperkirakan terjadi. Seperti lazimnya, begitu pengumuman kelulusan ditempel, peristiwa yang sering kita lihat yaitu berlangsungnya suasana sorak-sorai di kalangan siswa, kebanggan atau senang bagi yang lulus, bahkan dari amatan rutin saban tahun > ditemui para siswa melampiaskan bangga/kesenangannya melalui corat-coret baju dan atau konvoi bersepedamotor mengelilingi jalanan di lokasi/kota mereka masing-masing. Pemandangan demikian sudah jamak terjadi, dari tahun ke tahun peristiwanya sama saja sehingga jika ditengok dalam dunia jurnalistik > dikatakan ini merupakan peristiwa yang dapat dikategorikan aktualitas permanen. Kejadiannya terjadi berulang-ulang dalam tempo dan waktu yang bisa diprediksi sehingga bisa dipersiapkan peliputannya. Nah, persoalan corat-coret baju seragam sekolah dan konvoi sepedamotor (plus gembar-gembor knalpot) yang seringkali mengganggu lalulintas dan polusi udara serta kebisingan ini menarik disimak. Mengapa peristiwa ini selalu berlangsung setiap pengumuman kelulusan SMA/SMK/MA? Apakah yang melatarbelakangi peristiwa tersebut masih saja terjadi? Dan bagaimana mencarikan solusinya? Bangga dan bersenang-senang boleh saja dimiliki setiap orang. Itu semua merupakan hak yang harus dihargai, seperti halnya pengumuman kelulusan yang “benar-benar menegangkan” kalangan siswa serta para orangtua/keluarganya. Namun demikian, pelampiasan atas kebanggaan itu pun sesungguhnya melekat suatu kewajiban untuk menghargai orang lain > sehingga pantas dilakukan secara proporsional, atau dalam konteks manusia yang berbudaya maka selayaknya tidak mengganggu orang lain dan justeru sebaiknya berbagi kasih dengan sesama atas kebanggaan yang diraihnya.

13378327641436319309
konvoi sepedamotor (sumber: dok.tribunnews.com)
Sayangnya, sikap dan perilaku yang berbudaya ini semakin langka melekat pada diri masing-masing insan di lingkungan kita. Bisa saja, ini terjadi lantaran pengaruh perkembangan dan percepatan zaman yang katanya semakin mengglobal > keangkuhan atau kesombongan lebih mengemuka sejalan dengan semakin tumbuhnya individualis yang melekat. Jika demikian adanya, bukan tidak mungkin peristiwa semacam pesta corat-coret baju seragam dan konvoi sepeda motor di jalanan seperti dipapar di atas > merupakan salah satu bagian dari “penyakit kronis” yang sering disebut snobisme. Dalam pengertian umum, snobisme adalah paham (yang secara tidak sadar) dilakukan seseorang/banyak orang (mungkin juga diriku, jujur.com) memamerkan sesuatu kepada orang lain agar mendapat pengakuan. Dalam bahasa gaul, bisa juga disebut sok, misalnya sok modern, sok maju, sok kaya, sok sukses, sok intelektual, sok pinter, atau sok-sok yang lainnya. Masalah sesuai realita atau tidak, itu urusan lain. Yang penting harus puas memenuhi keinginannya. Perkara orang lain resah dan galau > itu tak pernah diperdulikan. Ah, sudahlah. Tak usah dibahas berkepanjangan, ntar malah disangka sok menggurui, bisa berabe jadinya. Yang jelas jika asumsiku dalam tulisan ini benar adanya, maka upaya untuk mengantisipasi sekaligus mencari solusi agar cara-cara melampiaskan kebanggan atas kelulusan Ujian Nasional (UN) oleh para siswa tersebut diubah menjadi keagiatan positif yang lebih berkesantunan. Misalnya saja, para orangtua atau walimurid selalu membimbing putera-puterinya untuk merayakan kelulusan dalam suasana bersahaja, tanpa hura-hura berlebihan yang dapat mengganggu orang lain. Demikian halnya, pihak sekolah yang punya otorita > tak ada salahnya menganjurkan (syukur mewajibkan) para siswa tidak berpakaian seragam sekolah pada saat/hari pengumuman kelulusan. Berpakaian batik atau berpakaian adat setempat mungkin ada baiknya diterapkan ketika para siswa dan orangtua/walinya datang ke sekolahan untuk menerima pengumuman kelulusan. Jangan sampai para murid dibiarkan mencari-cari caranya sendiri tanpa kepastian dan terjebak pada perilaku kebanggaan yang kosong (= snobisme). JM (24-5-2012).

Joko Martono

/jk.martono

TERVERIFIKASI (HIJAU)

belajar memahami hidup dan kehidupan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?