HIGHLIGHT

10 Kutipan Paling Favorit Tentang Kata dan Bahasa

20 Desember 2011 02:43:47 Dibaca :

Kita berkomunikasi melalui kata dan bahasa. Kita menangkap dan memahami sesuatu lalu mengungkapkannya dalam bentuk bahasa. Dari filsafat bahasa kita mengerti bahwa “kata” (term) merupakan pengertian paling sederhana dari sesuatu. Pengertian yang kompleks mengenai sesuatu dinyatakan dalam proposisi (pernyataan). Sebuah pernyataan merupakan kumpulan kata-kata yang dirangkai menurut kaidah tertentu.

Baik “kata” maupun “proposisi” memiliki keterbatasannya sendiri. Mereka tidak sanggup menggambarkan realitas apa adanya. Realitas selalu dimaknakan melalui pikiran dengan menggunakan bahasa sebagai alatnya. Sama seperti pikiran manusia yang bersifat terbatas, bahasa pengungkap pikiran itu pun terbatas adanya.

Dalam keterbatasan itulah kita menerima kekuatan pikiran dan bahasa itu sendiri. Bagaimanakah kata dan bahasa pengungkap yang terbatas itu dapat dimaknakan? Para pemikir, filsuf bahasa, sastrawan, yang sering sekali menggunakan kata dan bahasa, menyadari keterbatasan-keterbatasan ini dan mengekspresikannya melalui kutipan-kutipan yang disajikan di sini.

Kutipan-kutipan ini sebenarnya dikumpulkan oleh kamus online Webster. Kamus ini mengidentifikasi berbagai kutipan yang dicari dan digunakan orang selama setahun (2011) dan mengidentifikasinya sebagai yang paling sering dirujuk, terutama dalam hubungannya dengan penggunaan kata dan bahasa.

Bagi Anda yang ingin mengakses langsung ke website Webster, silakan saja mengklik alamat situs yang saya sertakan di tulisan ini. Semoga menginspirasi.

1: Ketika Kata-kata menjadi berlebihan

“Ciuman adalah trik yang jitu, dirancang oleh alam, untuk berhenti berbicara ketika kata-kata sudah terlalu banyak diumbar.”

“A kiss is a lovely trick, designed by nature, to stop speech when words become superfluous.”

– Ingrid Bergman -

2: Kata yang terlalu panjang

“Nah,” kata Owl, “prosedur yang biasa dalam kasus tersebut adalah sebagai berikut.”

“Apa yang dimaksud dengan Crustimoney Proseedcake?” tanya Pooh. “Karena saya seorang beruang dengan otak yang pas-pasan sehingga kata-kata yang terlalu panjang akan membingungkan saya.”

“Itu artinya hal-hal yang harus dilakukan.”

”Jika maknanya memang demikian, tidak masalah buat saya.”

“'Well,' said Owl, 'the customary procedure in such cases is as follows.'

'What does Crustimoney Proseedcake mean?' said Pooh. 'For I am a Bear of Very Little Brain, and long words Bother me.' 'It means the Thing to Do.' 'As long as it means that, I don’t mind,' said Pooh humbly.'”

A.A. Milne, Winnie-the-Pooh, 1926

3: Terbatasnya Bahasaku

“Batas-batas pikitanku terletak pada batas-batas bahasaku. Segala yang aku ketahui adalah semua yang bisa kukatakan.”

“The limits of my language are the limits of my mind. All I know is what I have words for.”

– Ludwig Wittgenstein, Philosophical Investigations, 1953

4: Wit

“Wit [kata-kata lucu yang menyindir dan sarkastik] tentu mengandung kebenarannya sendiri. Sindiran [wisecracking] sebetulnya hanyalah permainan kata-kata.”

“Wit has truth in it; wisecracking is simply calisthenics with words.”

– Dorothy Parker, interview in Paris Review, 1956

5: Gagasan Terkecil

“Dibandingkan dengan semua orang yang pernah saya jumpai, dia sanggup memampatkan [memadatkan] kata-kata ke dalam gagasan terkecil.”

“He can compress the most words into the smallest ideas of any man I ever met.”

– Abraham Lincoln, dikutip dari Frederick Trevor Hill's Lincoln the Lawyer, 1906

6: Tinta yang tak-kelihatan

“Halaman-halamannya masih kosong, namun ada perasaan ajaib akan hadirnya kata-kata di sana, ditulis dengan tinta yang tak tampak, dan seakan-akan berteriak untuk menampakkan dirinya.”

“The pages are still blank, but there is a miraculous feeling of the words all being there, written in invisible ink and clamoring to become visible.”

– Vladimir Nabokov, Lectures on Literature, 1980

7: Bahasa yang jelas

“Musuh terbesar dari bahasa adalah ketidakjujuran. Ketika ada kesenjangan antara tujuan yang nyata dan tujuan yang sekadar dinyatakan, secara naluriah seseorang mengumbar kata-kata panjang dan idiom-idiom yang melelahkan, seperti cumi-cumi yang menyemprotkan tintanya.”

“The great enemy of clear language is insincerity. When there is a gap between one’s real and one’s declared aims, one turns as it were instinctively to long words and exhausted idioms, like a cuttlefish spurting out ink.”

– George Orwell, "Politics and the English Language," 1946

8: Kata benda dan kata kerja

”Menulislah dengan menggunakan kata-kata benda dan kata-kata kerja, bukan dengan kata-kata sifat atau keterangan. Kata sifat tidak dibentuk dengan tujuan untuk menarik kata benda yang lemah atau tidak akurat keluar dari tempatnya yang sempit.”

“Write with nouns and verbs, not with adjectives and adverbs. The adjective hasn't been built that can pull a weak or inaccurate noun out of a tight place.”

– William Strunk and E.B. White, The Elements of Style, 1959

(A variation of this idea: "The road to hell is paved with adverbs." – Stephen King, On Writing: A Memoir of the Craft, 2000.)

9: Macet di jam sibuk

“Sebab tidak ada keraguan sedikit pun bahwa saya telah kehilangan banyak sekali kata-kata dalam diriku, tetapi saat ini, seolah-olah seperti lalu lintas padat di jam-sibuk di pintu masuk terowongan, kata-kata itu melompat.”

“For there is no doubt that I have lots of words inside me; but at moments, like rush-hour traffic at the mouth of a tunnel, they jam.”

– John Updike, Self-Consciousness, 1989

10: Petir

“Perbedaan antara kata yang hamper tepat dan kata yang tepat bukanlah masalah yang kecil. Perbedaan mereka adalah perbedaan antara kilat yang menyambar dan petir”

“The difference between the almost right word and the right word is really a large matter – it's the difference between the lightning bug and the lightning.”

– Mark Twain, 1888

Sumber: http://www.merriam-webster.com/top-ten-lists/top-10-favorite-quotations-about-words/words-become-superfluous.html?&t=1324346596

YEREMIAS JENA

/jeremiasjena

Anak daerah yang bekerja sebagai guru di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?