Pazzo

20 Maret 2017   07:44 Diperbarui: 20 Maret 2017   09:09 48 0 1

Gadis dengan wajah putih pucat dan rambut hitam yang tergerai itu termangu di dekat jendela. Hening. Ia memandang jendela yang di penuhi embun salju. Quebec terlihat sangat memesona dimata gadis ini. Indah. Salju bertebaran menyelimuti bangunan di kota Quebec. Di pangkuannya, ada sebuah album suram yang dipenuhi debu. Di dalam foto itu ada gadis ini di masa kecilnya dengan memegang piala dan di sampingnya ada kedua orang tuanya. Tiba-tiba gadis ini meneteskan air mata secara deras. Berteriak, seakan ada sesuatu di foto itu yang membuatnya mengingat suatu kenangan suram. Gadis ini tak kuasa menahan tubuhnya, ia jatuh tersungkur dari kursi yang ia duduki. Menangis dan berteriak sangat kencang. Hanya itu yang gadis ini lakukan. Tak lama kemudian, ia mengambil gunting di meja dekatnya. Gunting itu ia tancapkan ke urat nadinya.

***

Basilicata World University adalah kampus yang berada di Italia, semua mahasiswa yang berprestasi dan beruntung bisa mendapatkan pendidikan disini dengan gratis. Dengan kehidupan asrama yang membuat mahasiswa disini semakin dekat dan tahu budaya negara lain yang ada di dunia. Karena kehidupan asrama disini membuat mahasiswa satu dan lainnya semakin dekat. Tidak mudah untuk bertahan hidup di kampus ini, mahasiswa disini harus berpisah dengan orang tua, berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan Italia, dilarang menghubungi ataupun komunikasi dengan keluarga, dan hanya diperbolehkan pulang dengan izin kampus.

“Ini dia gadis yang tak tau diri, datang terlambat alasannya sholatlah, inilah itulah. Kalau telat ya telat aja. Mahasiswa baru aja udah songong, ingat ya ini bukan kotamu. Kamu gak perlu merengek atau mengadu pada orang tuamu. Disini asrama, hidup sebenarnya ya seperti ini, keras. Untuk saat ini, saya hanya akan memberimu hadiah ini.”  dan tak disangka, Sharene ditampar di depan umum. Semua terdiam.

“Kalau saja OSPEK selanjutnya kamu masih seperti ini, lihat saja kamu! Aku memperhatikanmu ya, jalang!” sambung Ruttafa, omelan Ruttafa ini membuat Sharene sesak. Senior OSPEK ini terus mengoceh dan mempermalukan Sharene di hadapan para mahasiswa baru.

“Sekarang, kamu duduk dengan yang lainnya. Sana pergi, aku muak melihat mukamu yang berlagak layaknya kamu adalah ratu. Pergi dan duduk sana!”  Sharene pun langsung mengikuti perintah Rutafa, semua mata masih memandang dengan tatapan sinis.

Ruttafa Styine adalah orang Amerika asli dan juga ketua OSPEK di kampus baru Sharene, Ruttafa dikenal dengan mulut berbisanya. Ia tak akan segan-segan memaki atau bahkan mempermalukan seseorang yang ia anggap berbuat hal yang tidak wajar baginya. Hampir semua mahasiswa tidak berani berurusan dengan Ruttafa tidak terkecuali dengan Sharene Careeline.

***

Perasaan Sharene masih sesak, hal ini tak pernah ia sangka akan terjadi di kehidupannya. Suara Ruttafa masih terngiang di pikiran Sharene, teriakan Ruttafa masih jelas terdengar di telinga Sharene, dan ia masih merasa semua mata memandang dengan tatapan sinis. Sharene memasuki toilet, ia menghidupkan keran air. Kemudian, Sharene menangis dan berteriak. Ia menampar pipinya sendiri, menjambak rambutnya sendiri, memasukkan kepalanya di dalam bak yang berisi air. Tak lama kemudian, Sharene jatuh tersungkur dan kepalanya terbentur di lantai toilet. Sehingga membuat Sharene tak sadarkan diri dengan keadaan mengurung diri di toilet.

Olgave mendengar suara bising dari toilet, Olgave pun langsung panik dan mencoba membuka pintu toilet. “Sharene, kamu di dalam?” tanya Olgave dengan nada panik. “Sharene, buka pintunya sher, kamu baik-baik saja kan?”sambung Olgave sambil mengetuk pintu kamar mandi dengan sangat kencang. Olgave sudah sangat panik, ia pun memanggil pihak sekolah untuk menolong Sharene.

***

Sharene membuka mata dengan perlahan, Sharene melihat seorang lelaki menggunakan jas putih dan mengalungkan stetoskop. Di ruangan itu juga ada Olgave. “Aku dimana? Mengapa kalian melihatku dengan tatapan itu?” tanya Sharene dengan takut, seakan orang yang ada di ruangan itu adalah orang jahat. “Kamu tadi pingsan di toilet. Kamu mengurung diri di toilet, Sharene” jawab Olgave dengan menenangkan Sharene. Karena kejadian pembullyan waktu itu, Sharene masih tidak berani untuk menatap mata orang. Untuk mengobrol dengan seseorang pun, Sharene masih trauma berat. “Jangan takut, Sharene. Kamu hanya kelelahan. Percayalah padaku, jangan takut pada siapapun.” ucap sang dokter dengan nada menenangkan Sharene. “Kamu memandangku dengan tatapan itu, aku benci itu!” teriak Sharene dengan sangat ketakutan.

“Olgave, bisa ikut saya keluar sebentar?” tanya dokter kepada Olgave. “Tentu, dok.” jawab Olgave. Dokter dan Olgave keluar ruangan klinik, sepertinya ada sesuatu yang penting.

“Ada apa, dok?” tanya Olgave. “Jadi gini, kamu adalah teman Sharene. Kamu harus membantu Sharene. Menurut analisis saya, sepertinya teman kamu mengalami kelelahan sehingga dia perlu semangat dari sahabat seperti kamu. Untuk saat ini, keadaannya sangat tidak memungkinkan bisa berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang banyak.” jawab Dokter. “Kelelahan?“ tanya Olgave.

“Bukan begitu maksud saya Olgave, tapi keadaannya benar-benar butuh kasih sayang dan orang yang bisa memperbaiki dan membantu dia untuk menghadapi semua ini.”

“Saya yakin, saya bisa membantunya dokter.”

“Syukurlah jika kamu mau membantunya. Maafkan saya, saya tidak bisa membantu lebih banyak lagi” ucap dokter, dengan nada yang benar-benar perihatin dengan keadaan Sharene.

“Terima kasih banyak” ujar Olgave, seketika Olgave meninggalkan dokter.

Olgave sangat perihatin dengan keadaan Sharene. Karena lelaki brengsek yang bernama Ruttafa itu bisa membuat temannya hampir seperti ini. Olgave, langsung menemui Sharene di ruangan klinik. Olgave melihat Sharene duduk di lantai dan di tangan Sharene ada sebuah pisau buah yang telah siap untuk menancap ke perutnya Sharene. Olgave pun panik, dan langsung ingin memberhentikan tindakan temannya itu.

“Sharene. Berhenti!!” teriak Olgave yang seketika berlari dan mencegah tangan Sharene untuk menancapkan pisau ke perut Sharene.

“Apa yang kau lakukan? Ini tidak benar Sharene. Kamu bisa menghadapi semuanya Sharene” ujar Olgave, dengan tangan yang masih menahan sebuah tangan yang memegang pisau.

“Kamu!! Aku sudah tidak kuat lagi untuk hidup, Gave. Kamu mau ikut mati denganku? Mari kita mati bersama” sahut Sharene dengan mata yang telah bercucuran air mata dan dengan tangan yang telah siap menancapkan pisau kepada siapa saja.  Pisau itu sekarang berubah tujuan, pisau itu telah siap menusuk tangan Olgave.

Olgave ingin menjauhkan pisau itu dari tangan mereka berdua. Tapi Sharene ingin membunuh temannya dengan pisau yang ada di tangannya. Sharene tak sengaja menggoreskan luka di tangan Olgave dengan pisau yang dia pegang. Olgave pun terjatuh di lantai dan tak sadarkan diri. Sharene semakin menjadi-jadi. Pisau yang telah bercorak darah itu masih menjadi nafsu untuk bunuh diri Sharene.

Tak lama kemudian, dokter masuk ke ruangan itu. Dokter itu sangat terkejut, jantungnya seakan berhenti berdetak. Rambut Sharene yang berantakan, mata yang merah dan sembab, dan tangan yang memegang pisau berlumuran darah. “Sharene, kamu kenapa?” tanya dokter itu dengan nada yang sangat berhati-hati. “JANGAN MENDEKAT KECUALI JIKA KAMU MEMANG MAU MATI!!!” jawab Sharene dengan teriakan isak tangisnya. Dokterpun langsung bergegas mengambil suntikan biusnya. “APA YANG MAU KAU LAKUKAN? MENYINGKIRKANKU DARI DUNIA INI, HAH?  TIDAK PERLU REPOT-REPOT DOK, AKU BISA SENDIRI!” sahut Sharene sambil ketawa. Dokter pun langsung bergegas menendang tangan Sharene yang sedang memegang pisau itu, dokter dengan cepat menyuntik tangan Sharene dengan suntikan bius.

***

“Dok, bagaimana keadaan Olgave dan Sharene?” tanya dosen kepada dokter. “Apakah saya diperbolehkan mengeluarkan Sharene dari kampus ini?” sambung sang dosen. “Jangan terburu-buru pak. Dukung anak ini pak, jangan patahkan semangatnya. Dia jauh-jauh datang dari Indonesia ke Italia ini hanya untuk menuntut ilmu. Hargailah usaha anak ini pak.” jawab sang dokter. “Olgave keadaannya baik-baik saja. Lagipula kita ini ada di Italia. Ada banyak dokter yang bisa membantu anak-anak disini.” sambung dokter dengan nada meyakinkan dosen. “Besok adalah hari pertama mereka memulai pelajaran. Apakah keadaan mereka memungkinkan untuk mengikuti pelajaran kampus, dok?” tanya dosen kepada dokter. “Mereka sepertinya sudah sedikit tenang dari sebelumnya. Dan mungkin besok keadaannya akan membaik, mereka adalah anak yang kuat. Mereka siap untuk mengikuti pelajaran” jawab dokter.

***

"Kamu adalah gadis yang kuat. Semangat hari ini ya” secarik kertas ini berada di dalam loker Sharene, tak lupa juga ada sebungkus coklat khas Italia yang berada di situ. Entah siapa yang memberikan surat dan cokelat ini. Tapi ini mampu membaikkan mood Sharene.

Ini adalah hari pertama kegiatan belajar mengajar di mulai. Keadaan Olgave dan Sharene lebih membaik dari sebelumnya. Olgave dan Sharene berangkat bersama dengan keadaan yang sudah lebih membaik dari keadaan mereka kemarin. Mereka berkomitmen untuk tidak membuka lembaran itu lagi. “Sharene, kelasmu dimana?” tanya Olgave yang tiba-tiba berhenti di perempatan lorong kampus. “Di depan” jawab Sharene. “Kita kali ini tidak di pertemukan. See you in break time.” ujar Olgave dengan memamerkan senyuman manisnya yang khas. Mereka pun berpisah di perempatan jalan tersebut.

Kali ini Sharene berjalan sendirian, ada banyak mahasiswa yang mengisi lorong tersebut. Tak lama kemudian, ada seorang laki-laki bertubuh tinggi, potongan rambut yang stylish, dan semua barang yang ia gunakan adalah barang branded Italia. Benar, laki-laki itu adalah Ruttafa Styine. Sharene berpapasan dengan Ruttafa, suara Ruttafa pun dengan seketika kembali terngiang di telinga Sharene. Ruttafa menatap mata Sharene dengan tatapan kejam, tatapan yang seakan ada kata yang ingin ia ancam. Sharene pun mempercepat langkah kakinya agar bisa menjauh dari laki-laki itu. Sharene bergegas menuju kelas untuk mengikuti pelajaran.

Ketika Sharene sedang berlari menuju kelas, ia tak sengaja menabrak seorang gadis yang sangat cantik. Rambut pirang yang dikucir kuda, make up yang sangat elegan, rok mini, dan memakai tas yang mahal. “Maaf banget. Aku duluan ya” ujar Sharene yang masih panik itu. “Hah? Gitu aja minta maafnya?” jawab gadis itu dengan nada yang sangat kasar. “Kamu ini, anak yang tidak tau diri itu ya? Ada OSPEK di aula, terus kenapa kamu bisa gak tau? Dan gara-gara kamu juga angkatan kita kena omelan si Ruttafa” sambung gadis ini yang seketika menarik tangan Sharene dan mendekatkan wajah Sharene dengan wajahnya. Depresi Sharene pun semakin menjadi gara-gara gadis ini yang memancing emosinya.

“KAMU BERANI SAMA AKU?” hentak Sharene dengan nada tinggi yang melebihi nada gadis itu. “Wah, kamu mau main sama aku ya?” ancam gadis ini dengan mulut yang di dekatkan ke telinga Sharene. Dan tiba-tiba gadis ini menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai, lalu gadis ini berteriak. “Kamu kenapa dorong aku? Sakit sekali rasanya, tidaakk! Sepertinya kakiku cedera” ujar gadis ini yang seketika menangis untuk mengundang perhatian. Sharene langsung berlari ke toilet tanpa memperdulikan gadis ini.

Sharene merasakan depresi ini kembali, semua ingatan tentang OSPEK itu seakan muncul di pikirannya. Teriakan Ruttafa, kekerasan di depan umum, lalu tatapan sinis di setiap mata, dan kebencian penghuni kampus kepada dirinya. Dan depresi ini lebih terasa lebih sakit dari sebelumnya.

***

“Jadi, bapak mau mengeluarkan saya dengan alasan saya gila?” tanya Sharene dengan wajah yang panik. “Saya ini tidak gila pak, tolong jangan keluarkan saya” sambung Sharene dengan tubuh yang mulai membeku. “Kamu ini cantik juga ya, benar-benar tipe saya pemberontak, nakal, dan manisnya senyumanmu sayang.” ujar dosen ini dengan tangan yang mulai menyentuh pipi Sharene. “Kemarilah sayang, kamu tidak perlu repot-repot kuliah disini. Kamu bisa bermain denganku, lalu aku akan menceraikan istriku” sambung sang dosen, tangan sang dosen mulai membuka satu persatu kancing kemejanya. Sharene membeku, entah apa yang dia rasakan. Dosen ini adalah orang pertama yang membantu dia untuk masuk ke universitas ini. Tapi dosen ini juga yang akan jadi orang pertama yang akan membantu Sharene keluar dari universitas ini.

Sang dosen pun membuka kemejanya. Ia berlagak tampan dengan wajah khas Italia nya itu. Sharene pun di dorong ke sofa ruangan sehingga membuat Sharene terduduk. “Kenapa kamu belum menunjukkannya kepadaku? Biarkan aku yang membukanya” ujar sang dosen dengan nada mesumnya. Sharene berteriak sangat keras “TIDAAKK!! DASAR BRENGSEK TENGIK” teriak Sharene. Tapi usaha yang di lakukan Sharene tak membuahkan hasil. Ruangan itu adalah ruangan yang kedap suara. Dan di ruangan itu hanya ada Sharene dan sang dosen.

***

“TIDAKK! MENGAPA KALIAN MENYENTUHKU?” teriak Sharene, dengan keadaan tangan yang sudah di rantai dan rambut yang sangat berantakan. “Aku tidak gila. Kalian semua yang gila” sambung Sharene yang berusaha memberontak. Mata Sharene sudah ditutupi dengan kain hitam, sehingga membuatnya tak dapat melihat apapun lagi. “Aku tidaaakk gila. Dosen mesum itu yang membuatku hamil, Ruttafa tengik itu yang membuatku gila seperti ini. Tolong jangan usir aku dari kampus ini! Aku tidak ingin ke Quebec, aku tidak ingin di buang dari lingkunganku. Kalian jahat, jahat!” berontak Sharene seketika membuatnya menangis. Sharene pun telah lelah menangis sehingga ia secara frontal mengeluarkan ketawa layaknya orang psikopat. Kemudian, Olgave pun datang menemui Sharene. Lalu Olgave memeluk temannya yang sudah tidak waras itu. “Sharene, aku adalah satu-satunya orang yang percaya padamu” ujar Olgave dengan isak tangis keprihatinannya.

***

Dokter dan dosen saling bertatap mata dan tersenyum sinis. “Mari pergi berdoa ke gereja untuk meminta doa ibu dan adikmu, nak” ujar dosen.

“Aku sangat benci Sharene. Kau masih ingat alasan ibu dan adikmu meninggal?” sambung dosen.

“Jelas aku masih mengingatnya yah. Semenjak kematian orang tuanya Sharene dan membuat Sharene menjadi yatim piatu. Ibu mengasuh dan menganggap Sharene sebagai anaknya sendiri. Padahal ayah telah berulang kali melarang ibu melakukannya, tetapi ibu masih saja keras kepala. Hingga suatu hari, rumah kita di Indonesia kerampokkan oleh penjahat. Sharene berhasil menyelamatkan dirinya dari penjahat tersebut. Tetapi, ibu dan adikku diperkosa dan dibunuh oleh penjahat tersebut. Sharene hanya mementingkan dirinya sendiri, anak yang pengecut dan tidak tau terima kasih itu sangat membuatku benci sekali padanya..” cerita dokter terputus.

“Dan dengan ini kita bisa membuat Sharene menderita terlebih dahulu sebelum mati. Hidupnya tak akan tenang sampai kapanpun.” potong sang dosen. Mereka pun tertawa bersama. “Lalu apa yang kau berikan di cokelat tersebut?” sambung dosen.

“Dramamine.”
“Obat apa itu?”

“Fungsi obat itu adalah akan membuat si pengguna mengalami halusinasi suara dan penglihatan. Selain itu seseorang akan mengalami perubahan emosi yang sangat drastis. Satu lagi, pengguna obat itu akan kerap mengalami kepanikan dan ketakutan secara berlebihan. Dan aku memberinya dengan dosis yang sangat tinggi.” dokter dan dosen pun saling melempar senyum sinis.